KPK Tak Temukan Bukti Valid Harun Masiku Sudah Meninggal

KPK Tak Temukan Bukti Valid Harun Masiku Sudah Meninggal
Harun Masiku (Foto: istimewa)
Fana Suparman / FMB Selasa, 12 Mei 2020 | 18:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku tak menemukan bukti valid atas informasi yang menyebut buronannya, caleg PDIP Harun Masiku telah meninggal dunia. Diketahui, Harun Masiku yang diduga menyuap Komisioner KPU Wahyu Setiawan terkait pengurusan PAW Anggota DPR menyandang status buron sejak 20 Januari 2020 lalu. Sejak saat itu atau lebih dari empat bulan, KPK tak juga mampu membekuk Harun.

"Sejauh ini KPK tidak memperoleh informasi dan bukti yang valid bahwa tersangka HAR telah meninggal," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi, Selasa (12/5/2020).

Ali mengklaim lembaga antikorupsi terus berupaya memburu Harun. Meski hingga saat ini belum membuahkan hasil.
"KPK juga masih terus mencari keberadaan DPO tersebut," klaim Ali.

Meski Harun masih buron, KPK terus berupaya menyelesaikan berkas perkara pengurusan PAW Anggota DPR yang menjeratnya. Pemeriksaan saksi terus dilakukan KPK.

"Penyidikan perkaranya saat ini masih terus berjalan, sekalipun tersangka belum tertangkap," kata Ali.

Informasi mengenai meninggalnya Harun Masiku dilontarkan Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman. Boyamin mengatakan, informasi itu disampaikan agar KPK serius mencari dan membekuk Harun Masiku.

"Betul (agar KPK bertindak tegas) dan memancing Harun muncul jika masih hidup," katanya.

Meski demikian, Boyamin mengaku tidak mempunyai bukti konkret jika Harun memang benar-benar sudah meninggal. Narasi itu dimunculkan Boyamin karena tidak memeroleh informasi soal keberadaan Harun.

"Dasarku HAR sudah meninggal adalah perbandingan dengan kasus lain yang hampir tiap minggu datang informan menemui aku dengan informasi baru. Lah ini Harun Masiku tidak ada kabar apapun, sehingga aku yakin sudah meninggal," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan kader PDIP Saeful Bahri sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta. Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah 'hilang ditelan bumi'. Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali. Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia. Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, seorang warga mengaku melihat Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia. Meski dipastikan telah berada di Indonesia, KPK dan kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap Harun Masiku yang telah ditetapkan sebagai buronan atau daftar pencarian orang (DPO). 



Sumber: BeritaSatu.com