Penyidikan TPPO ABK, Bareskrim Periksa Ditjen Hubla

Penyidikan TPPO ABK, Bareskrim Periksa Ditjen Hubla
Satgas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) memeriksa saksi korban anak buah kapal warga negara Indonesia (ABK WNI) yang diduga dieksploitasi di Kapal Nelayan Tiongkok untuk menetapkan tersangka. (Foto: Istimewa)
/ YUD Kamis, 14 Mei 2020 | 20:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Satgas Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Bareskrim Polri melakukan pemeriksaan pihak Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan terkait penyidikan kasus dugaan pidana perdagangan orang yang dialami 14 anak buah kapal (ABK) Long Xing 629.

Baca juga: Kasus ABK WNI Dieksploitasi, Polri Bidik Tersangka WNA

"Pemeriksaan terhadap Hubla," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Ferdy Sambo, Kamis (14/5/2020).

Menurut dia, pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui terdaftar tidaknya buku pelaut 14 ABK di sistem milik Perhubungan Laut.

Baca juga: Dubes RI: Tiongkok Akan Tindak Lanjuti Kasus Eksploitasi ABK WNI

"Untuk menyatakan terdaftarnya seaman book ABK di sistem dari 14 seaman book dimaksud," ujarnya.

Seaman book atau buku pelaut berisi identitas, catatan kesehatan, daftar ijazah, pengalaman berlayar dan catatan khusus pemilik buku pelaut.

Dalam penyidikan kasus ini, Satgas TPPO masih memeriksa sejumlah saksi dari berbagai pihak.

"Hari ini juga (dilakukan) pemeriksaan terhadap Imigrasi Pemalang, Imigrasi Tanjung Priok dan Syahbandar Tanjung Priok," kata Kasubdit III Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Kombes Pol John Weynart Hutagalung menambahkan.

Baca juga: Kasus TPPO ABK, Polri Gandeng Jaksa

Satgas pun mendalami tiga perusahaan penyalur tenaga kerja yakni PT AJP, PT LPB, PT SMG karena ada dugaan para ABK diberangkatkan tidak sesuai prosedur semestinya.

"Tiga perusahaan kami dalami, PT AJP, LPB dan SMG," imbuh John Weynart.

Dalam kasus ini, 14 ABK masing-masing direkrut melalui sponsor perorangan untuk diberangkatkan ke luar negeri. Para sponsor inilah yang menghubungkan mereka ke tiga perusahaan penyalur tenaga kerja.

Kemudian mereka berangkat ke Korea Selatan menggunakan maskapai penerbangan internasional inisial CP pada 13-14 Februari 2019.



Sumber: ANTARA