Novel Baswedan Khawatir Kasus Penyiraman Air Keras Hanya Jerat Dua Terdakwa
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Novel Baswedan Khawatir Kasus Penyiraman Air Keras Hanya Jerat Dua Terdakwa

Senin, 18 Mei 2020 | 20:31 WIB
Oleh : Fana Suparman / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengaku khawatir kasus teror penyiraman air keras yang dialaminya berhenti hanya dengan menjerat dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis yang kini duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut). Kekhawatiran Novel itu berdasarkan temuan sejumlah kejanggalan dalam proses persidangan sejauh ini.

"Hal yang saya khawatirkan karena selaras dengan fakta-fakta tentunya kita tidak boleh membiarkan apabila ada suatu apa namanya praktik peradilan sesat atau suatu permainan dalam persidangan dan itu berbahaya," kata Novel Baswedan dalam diskusi webinar "Menyoal Persidangan Penyiraman Air Keras terhadap Novel Baswedan", Senin (18/5/2020).

Novel Baswedan mengatakan, kejanggalan-kejanggalan yang terjadi tidak hanya merugikan dirinya sebagai korban teror. Lebih dari itu, peradilan sesat atau permainan dalam persidangan membahayakan seluruh masyarakat Indonesia.

"Berbahaya, bukan sekadar terhadap saya pribadi atau siapa pun orang per orang dalam hal ini sebagai korban, tetapi ini berbahaya bagi seluruh masyarakat Indonesia," kata Novel Baswedan.

Dipaparkan Novel Baswedan, proses persidangan yang masih berjalan ini seolah-olah diarahkan kepada tiga hal, yaitu penyerangan terhadap dirinya berdasarkan motif pribadi, menggunakan air aki dan disiramkan ke bagian badan yang kemudian memercik ke wajah.

Hal itu, kata dia, menutup upaya pembuktian mencari tahu aktor intelektual yang menyuruh kedua terdakwa melakukan tindak kejahatan.

"Saya katakan seolah-olah karena saya sudah melihat, saya sudah mengamati hal dan kemudian saya ingin menggambarkan agar punya klaster yang tepat dalam penjelasan saya," katanya.

Terdapat sejumlah kejanggalan yang membuat Novel menduga hal tersebut. Salah satunya, terdapat sejumlah saksi penting justru tidak masuk dalam berkas perkara. Padahal, terdapat saksi yang mengetahui fakta-fakta sebelum teror terjadi, bahkan terdapat saksi yang melihat adanya pihak yang mengamati Novel Baswedan.

"Memang aneh ketika saksi-saksi penting justru malah tidak masuk dalam berkas perkara. Seharusnya saksi penting yang dijadikan pijakan utama untuk membuktikan suatu perkara ditambah dengan bukti-bukti tambahan lain," tegasnya.

Kejanggalan lain yang membuat Novel Baswedan heran yakni mengenai sikap Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saat Novel dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan pada Kamis (30/4/2020), Jaksa hanya melontarkan pertanyaan yang tidak terkait fakta peristiwa dan sebaliknya, Jaksa justru mengajukan pertanyaan berupa analisis yang mesti dijawab Novel.

"Jaksa bertanya kepada saya pertanyaannya menurut saya aneh. Walaupun itu bukan pertanyaan terkait dengan fakta tapi lebih kepada analisis tapi saya jawab," kata Novel.

Pertanyaan tersebut terkait analisis Novel ketika seorang penyidik didatangi oleh pelaku kejahatan. Jaksa menanyakan apa yang dilakukan Novel Baswedan saat berada dalam posisi tersebut. Menjawab hal itu, Novel mengatakan, sebagai penyidik, ia akan melihat dari dua perspektif, yakni menguji keterangan pelaku dengan bukti-bukti.

"Karena saya harus melihat bahwa siapa tahu dia adalah orang yang insaf dan kemudian bertobat untuk mau mengakui dan kemudian menyesali dari perbuatannya itu," ujar Novel Baswedan.

Kedua, Novel mengaku akan merasa khawatir ketika pelaku tersebut punya maksud atau tujuan lain. Misalnya, disuruh seseorang atau kelompok tertentu untuk pasang badan agar pelaku sebenarnya tidak terungkap.

"Hal yang kedua ini saya khawatirkan. Oleh karena itu saya bersama dengan kuasa hukum setelah persidangan dengan mengamati banyak hal-hal yang janggal," ucap Novel.

Tak hanya itu, Novel juga mengaku janggal dengan proses persidangan yang mengarahkan air yang disiram pelaku merupakan air aki bukan air keras serta alat bukti yang diduga berusaha dihilangkan.

"Melihat dalam persidangan itu memang sepertinya sedang diarahkan untuk membuat suatu kesimpulan seolah-olah penyerangan kepada saya ini dilakukan dengan motif pribadi," katanya.

Anggota Tim Advokasi, Yati Andriyani, menuturkan proses persidangan sedang berjalan tidak lepas dari tarik-ulur penyidikan kasus penyiraman air keras. Menurutnya, sejak awal, banyak kejanggalan yang terjadi dalam proses penegakan hukum terkait kasus teror yang dialami Novel.

"Kita sudah temui sejak awal pelbagai macam kemandekan, kejanggalan, kita tahu dua tahun tidak selesai. Begitu banyak pihak-pihak yang menghalangi pengungkapan kasus ini. Narasi negatif yang menyerang pribadi bang Novel dan lembaga," katanya.

Dalam perkara ini, dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis didakwa melakukan penganiayaan secara terencana yang mengakibatkan luka berat. Keduanya menyebabkan mata Novel Baswedan terluka sehingga kornea mata kanan dan kirinya terancam buta.

Kedua terdakwa yang merupakan polisi aktif tersebut melakukan perbuatannya dengan alasan dendam lantaran Novel Baswedan dianggap telah mengkhianati institusi Polri.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Lantik Rektor PTN, Sekjen Kemdikbud Ingatkan Kampus Merdeka

Sekjen Kemdikbud Ainun Na'im kembali mengingatkan perguruan tinggi untuk menerapkan kebijakan Kampus Merdeka.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Jaringan Jamaah Islamiyah Nonstruktur Dibekuk di Tasikmalaya

Polisi meyakini pelaku yang ditangkap di Tasikmalaya sebagai jaringan Jamaah Islamiyah (JI) nonstruktur yang dibongkar Densus/88 belakangan ini.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Kemhub Terbitkan SE Dirjen tentang Petunjuk Operasional Transportasi

Kemhub menerbitkan Surat Edaran Dirjen tentang Petunjuk Operasional Transportasi untuk menindaklanjuti Surat Edaran Gugus Tugas No. 4/2020.

NASIONAL | 11 Mei 2020

Polda Papua: Penyerang Pos Polisi di Paniai Anak Anggota KKB

Polda Papua masih menyelidiki motif dibalik penyerangan Pos Polisi 99 Ndeotadi, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai, Papua.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Kapolri: Polisi Harus Menjadi Teladan Hidup Sederhana

Kapolri Jenderal Pol Idham Azis menegaskan pola hidup sederhana harus dimulai dari atasannya.

NASIONAL | 18 Mei 2020

28 Personel Tim Medis Korpolairud Baharkam Polri Raih Penghargaan

Kakorpolairud Baharkam Polri memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas perjuangan tim medis selama pandemi Covid-19.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Polres Majalengka Bantu Warakawuri dan Purnawirawan Polri

Pemberian tali asih menjadi ajang silaturahmi antara purnawirawan dan warakawuri dengan para generasi yang saat ini masih menjabat.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Sambut Normal Baru Pariwisata, PT TWC Terapkan Stiker Panas Tubuh bagi Pengunjung

“Jadi mohon maaf, jika ada pengunjung yang datang tanpa mengenakan masker, maka akan kami tolak,” ujar Edy.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Bamsoet Minta Pendataan Distribusi Bansos Diperbaiki

Pemerintah pusat dan Pemda sebaiknya bersinergi memberikan data yang akurat terkait masyarakat miskin penerima bansos.

NASIONAL | 18 Mei 2020

Ubi Kayu Perkuat Ikatan Silaturahmi Ponpes Sabilulhuda dan Tokoh Katolik Yogyakarta

Kehidupan manusia, hubungan kemasyarakatan tanpa sekat harus segera dipulihkan dengan cara yang sederhana dan bukan dengan cara yang sulit.

NASIONAL | 18 Mei 2020


BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS