Novel Baswedan Khawatir Kasus Penyiraman Air Keras Hanya Jerat Dua Terdakwa

Novel Baswedan Khawatir Kasus Penyiraman Air Keras Hanya Jerat Dua Terdakwa
Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (tengah) tiba di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin, 6 Januari 2020. (Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta)
Fana Suparman / JAS Senin, 18 Mei 2020 | 20:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengaku khawatir kasus teror penyiraman air keras yang dialaminya berhenti hanya dengan menjerat dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis yang kini duduk sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut). Kekhawatiran Novel itu berdasarkan temuan sejumlah kejanggalan dalam proses persidangan sejauh ini.

"Hal yang saya khawatirkan karena selaras dengan fakta-fakta tentunya kita tidak boleh membiarkan apabila ada suatu apa namanya praktik peradilan sesat atau suatu permainan dalam persidangan dan itu berbahaya," kata Novel Baswedan dalam diskusi webinar "Menyoal Persidangan Penyiraman Air Keras terhadap Novel Baswedan", Senin (18/5/2020).

Novel Baswedan mengatakan, kejanggalan-kejanggalan yang terjadi tidak hanya merugikan dirinya sebagai korban teror. Lebih dari itu, peradilan sesat atau permainan dalam persidangan membahayakan seluruh masyarakat Indonesia.

"Berbahaya, bukan sekadar terhadap saya pribadi atau siapa pun orang per orang dalam hal ini sebagai korban, tetapi ini berbahaya bagi seluruh masyarakat Indonesia," kata Novel Baswedan.

Dipaparkan Novel Baswedan, proses persidangan yang masih berjalan ini seolah-olah diarahkan kepada tiga hal, yaitu penyerangan terhadap dirinya berdasarkan motif pribadi, menggunakan air aki dan disiramkan ke bagian badan yang kemudian memercik ke wajah.

Hal itu, kata dia, menutup upaya pembuktian mencari tahu aktor intelektual yang menyuruh kedua terdakwa melakukan tindak kejahatan.

"Saya katakan seolah-olah karena saya sudah melihat, saya sudah mengamati hal dan kemudian saya ingin menggambarkan agar punya klaster yang tepat dalam penjelasan saya," katanya.

Terdapat sejumlah kejanggalan yang membuat Novel menduga hal tersebut. Salah satunya, terdapat sejumlah saksi penting justru tidak masuk dalam berkas perkara. Padahal, terdapat saksi yang mengetahui fakta-fakta sebelum teror terjadi, bahkan terdapat saksi yang melihat adanya pihak yang mengamati Novel Baswedan.

"Memang aneh ketika saksi-saksi penting justru malah tidak masuk dalam berkas perkara. Seharusnya saksi penting yang dijadikan pijakan utama untuk membuktikan suatu perkara ditambah dengan bukti-bukti tambahan lain," tegasnya.

Kejanggalan lain yang membuat Novel Baswedan heran yakni mengenai sikap Jaksa Penuntut Umum (JPU). Saat Novel dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan pada Kamis (30/4/2020), Jaksa hanya melontarkan pertanyaan yang tidak terkait fakta peristiwa dan sebaliknya, Jaksa justru mengajukan pertanyaan berupa analisis yang mesti dijawab Novel.

"Jaksa bertanya kepada saya pertanyaannya menurut saya aneh. Walaupun itu bukan pertanyaan terkait dengan fakta tapi lebih kepada analisis tapi saya jawab," kata Novel.

Pertanyaan tersebut terkait analisis Novel ketika seorang penyidik didatangi oleh pelaku kejahatan. Jaksa menanyakan apa yang dilakukan Novel Baswedan saat berada dalam posisi tersebut. Menjawab hal itu, Novel mengatakan, sebagai penyidik, ia akan melihat dari dua perspektif, yakni menguji keterangan pelaku dengan bukti-bukti.

"Karena saya harus melihat bahwa siapa tahu dia adalah orang yang insaf dan kemudian bertobat untuk mau mengakui dan kemudian menyesali dari perbuatannya itu," ujar Novel Baswedan.

Kedua, Novel mengaku akan merasa khawatir ketika pelaku tersebut punya maksud atau tujuan lain. Misalnya, disuruh seseorang atau kelompok tertentu untuk pasang badan agar pelaku sebenarnya tidak terungkap.

"Hal yang kedua ini saya khawatirkan. Oleh karena itu saya bersama dengan kuasa hukum setelah persidangan dengan mengamati banyak hal-hal yang janggal," ucap Novel.

Tak hanya itu, Novel juga mengaku janggal dengan proses persidangan yang mengarahkan air yang disiram pelaku merupakan air aki bukan air keras serta alat bukti yang diduga berusaha dihilangkan.

"Melihat dalam persidangan itu memang sepertinya sedang diarahkan untuk membuat suatu kesimpulan seolah-olah penyerangan kepada saya ini dilakukan dengan motif pribadi," katanya.

Anggota Tim Advokasi, Yati Andriyani, menuturkan proses persidangan sedang berjalan tidak lepas dari tarik-ulur penyidikan kasus penyiraman air keras. Menurutnya, sejak awal, banyak kejanggalan yang terjadi dalam proses penegakan hukum terkait kasus teror yang dialami Novel.

"Kita sudah temui sejak awal pelbagai macam kemandekan, kejanggalan, kita tahu dua tahun tidak selesai. Begitu banyak pihak-pihak yang menghalangi pengungkapan kasus ini. Narasi negatif yang menyerang pribadi bang Novel dan lembaga," katanya.

Dalam perkara ini, dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis didakwa melakukan penganiayaan secara terencana yang mengakibatkan luka berat. Keduanya menyebabkan mata Novel Baswedan terluka sehingga kornea mata kanan dan kirinya terancam buta.

Kedua terdakwa yang merupakan polisi aktif tersebut melakukan perbuatannya dengan alasan dendam lantaran Novel Baswedan dianggap telah mengkhianati institusi Polri. 



Sumber: BeritaSatu.com