Instruktur Militer, Tersangka JI Nonstruktur Tasikmalaya Jadi Tiga

Instruktur Militer, Tersangka JI Nonstruktur Tasikmalaya Jadi Tiga
Densus 88 membekuk satu terduga teroris di wilayah Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (26/10/2019). Terduga teroris berinisial BS dibekuk saat tengah berjalan di luar rumahnya. (Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani)
Farouk Arnaz / WM Kamis, 21 Mei 2020 | 17:57 WIB

Instruktur Militer, Tersangka JI Nonstruktur Tasikmalaya Jadi Tiga

Jakarta, Beritasatu.com — Densus 88/Antiteror nenangkap satu persatu jaringan teroris Jamaah Islamiah (JI) nonstruktur di Tasikmalaya. Total sudah ada tiga tersangka yang dibekuk di kota bubur itu.

Dua yang terakhir teror adalah MT (38) dan DA (43) yang ditangkap di Perum Bumi Sentra Mas Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Selasa (19/5/2020) sore.

Sebelumnya Densus telah membekuk MR (45) pada Selasa 12 Mei 2020 lalu. Polisi juga telah menggeledah
CK Futsal, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kampung Cicariang, Kelurahan Kersamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, pada Jumat, 15 Mei 2020.

“Sel Tasikmalalaya ini berperan sebagai pendidik dan pelatih para militer dalam kelompok ini,” kata sumber pada Beritasatu.com Kamis (21/5/2020).

Makanya dari kelompok ini disita flysheet, dua buah slepingbed, 1 buah remote, 2 nesting, lembaran peta topografi, 10 buah kompas, 9 buah kompor gas kecil, 2 buah senter, 2 buah headlamp, dan 2 buah lampu tenda (lampu darurat).

Lalu ada 5 buah busur (penggaris peta), 28 buah golok, 5 helai tali webbing dan 1 buah matras. Barang bukt ini diduga kuat terkait aktivitas latihan paramiliter yang mereka gelar (iddad).

Seperti diberitakan, kelompok teroris JI termonitor aktif kembali meski tidak lagi menggunakan bendera JI. Tapi para anggota JI yang keluar dari struktur itu tetap menggunakan strategi JI.

JI yang diperkuat eks jihadis lulusan Akademi Para Militer di Afghanistan adalah kelompok yang bertanggungjawab dalam aksi bom Bali 2002 dan bom kembar Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di Jakarta pada 2019.

Sejak itu gerakan kelompok ini relatif senyap namun ternyata kelompok ini tidak pernah mati, termasuk Neo JI, dan selalu beradaptasi dengan zaman dengan tujuan akhir membangun khilafah.

Neo JI yang dimaksud adalah kelompol lanjutan dari JI yang saat itu dipimpin oleh Wijayanto. Para yang buron sejak 2003 itu akhirnya ditangkap Densus pada 2019 di Bekasi.

Saat itu terungkap mereka punya kemampuan finansial mumpuni. Strategi mereka antara lain membuat tamkin atau penguasaan wilayah di beberapa wilayah yang diperkuat karena dia sudah membentuk organisasi yang lebih modern.

Dalam organ ini juga ada penyandang atau pencari dana yang memiliki basic ekonomi. Mereka juga melakukan rekrutmen lebih tertutup dimana hasil rekrutmen dilatih dan diberikan kesempatan keluar negeri mengikuti praktik perang di Suriah maupun Irak.

Salan satu lanjutan dari jaringan ini adalah Abdulllah yang dibekuk di sebuah ekspedisi di Jalan Kunti, Sidotopo, Surabaya, saat hendak mengirim senjata April lalu. Dia terpapar dan tertular paham terorisme ketika dia menjalani hukuman di Lapas Madura.

Dia diketahui menbeli senjata organik itu seharga Rp 200 juta dari seorang oknum di Malang. Senjata dan amunisi mematikan itu hendak dikirim ke jaringan Tasikmalaya ini.

Senjata itu diniatkan untuk i’dad atau melakukan persiapan sebelum kelak melangkah ke aksi teror.

 



Sumber: BeritaSatu.com