Cyber Indonesia: Ruslan Buton Ditangkap karena Diduga Sebar Berita Bohong

Cyber Indonesia: Ruslan Buton Ditangkap karena Diduga Sebar Berita Bohong
Ketua Cyber Indonesia Muanas Alaidid
Yustinus Paat / RSAT Jumat, 29 Mei 2020 | 22:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid menduga Ruslan Buton melakukan tiga pelanggaran dalam surat dan audio yang menjadi viral di media sosial. Ketiganya diduga menyebarkan berita bohong, kebencian berdasarkan SARA, dan penghinaan pada penguasa.

"Saya duga kuat Ruslan Buton akan langsung ditahan polisi terkait laporan menyebarkan berita bohong, kebencian berdasarkan SARA, dan penghinaan pada penguasa melalui surat dan audio yang viral di media sosial," kata Muannas di Jakarta, Jumat (29/5/2020).

Menurut Muannas, berita bohong dalam surat dan audio Ruslan Buton termuat dalam kalimat "Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia..." Pernyataaan ini, kata dia, disebut berita bohong karena Ruslan Buton berbohong dengan mengatasnamakan mewakili suara seluruh WNI.

"Ini dugaan pelanggaran terhadap Pasal 14 ayat 1 UU No.1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana tentang larangan menyebarkan berita bohong," ungkapnya.

Kemudian, lanjut Muannas, kebencian berdasarkan SARA dipakai oleh Ruslan Buton demi kepentingan politiknya dalam kalimat "Seluruh komponen bangsa dari berbagai suku, agama dan ras yang akan menjelma bagaikan tsunami dahsyat".

"Ini dugaan pelanggaran terhadap Pasal 28 ayat 2 UU No. 19 Tahun 2016 Tentang ITE terkait larangan kebencian berdasarkan SARA," tandas dia.

Selain itu, kata Muannas, penghinaan pada penguasa Pasal 207 KUHP yang terlihat dalam surat dan audio Ruslan Buton khususnya kepada Presiden Joko Widodo sekaligus kalimat-kalimat ancaman, seperti "Namun bila tidak, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat".

Kalimat lain yang diduga penghinaan terhadap penguasa, tutur Muannas, "Yang akan meluluhlantakan para penghianat bangsa, akan bermunculan harimau, singa, dan srigala lapar untuk memburu dan memangsa para penghianat bangsa" dan frasa "pertumpahan darah" yang diulang-ulang dalam narasi Ruslan Buton.

"Narasi Ruslan Buton tidak bisa dibela atas dasar kebebasan berpendapat, karena dia diduga kuat menyebarkan berita bohong, kebencian berdasarkan SARA, penghinaan dan ancaman yang berdampak pada kegaduhan sosial," pungkas Muannas.



Sumber: BeritaSatu.com