Mahfud MD: Penetapan Status Normal Baru Tidak Asal-Asalan

Mahfud MD: Penetapan Status Normal Baru Tidak Asal-Asalan
Mahfud MD. (Foto: Antara)
Robertus Wardy / YUD Rabu, 3 Juni 2020 | 16:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menko Polhukam Mahfud MD mengemukakan penetapan status normal baru (new normal) suatu daerah bukan asal-asalan. Pemerintah mengambil keputusan berdasarkan metode ilmu pengetahuan secara ilmiah (scientific).

“Kita berkali-kali, hampir setiap hari, kecuali di akhir pekan, kabinet itu rapat menghitung dengan angka. Misalnya tentang pembicaraan mau pelonggaran, atau mau relaksasi, atau mau masyarakat produktif. Itu di sidang kabinet ada empat pemodelan matematik yang menghitung seberapa besar bahaya di tiap daerah dan tiap tingkatan,” kata Mahfud di Jakarta, Rabu (3/6/2020).

Baca juga: Masuki New Normal, Kemkes Minta Masyarakat Berhenti Merokok

Ia menjelaskan lembaga-lembaga yang menyajikan permodelan adalah BIN, Kemenko Perekonomian, Bappenas dan Kantor Staf Presiden (KSP). Dari keempatnya, menghasilkan kesimpulan yang sama terkait perkembangan dan prediksi penyebaran Covid-19.

“BIN punya metode sendiri. Menko Perekonomian punya metode sendiri. Bappennas punya metode sendiri. KSP punya metode sendiri. Hitungannya dengan angka matematik. Kesimpulannya sama meskipun metodenya berbeda. Yang hasilnya itu kemudian memetakan ini daerah merah, kuning, hijau. Yang menunjukan tingkat resikonya di daerah ini begini, di daerah itu begini,” jelas Mahfud.

Baca juga: Sebelum Memulai Aktivitas New Normal, Masyarakat Diminta Disiplin

Bahkan, lanjut Mahfud, pemerintah sekarang sudah masuk ke tingkat menghitung di tingkat desa. Di desa mana sekarang yang bersih, desa mana yang ada satu dan dua Covid-19, kemudian desa mana yang masih penyebarannya tinggi. Kemudian para ahli dipanggil untuk didengar pandangannya terkait perkembangan Covid-19.

“Jadi tidak mungkin kita mengambil keputusan tanpa scientific. Semua sudah dipertimbangkan. Semua ahli sudah dipanggil. Jadi tidak mungkin pemerintah itu mengambik keputusan asal-asalan,” tutur mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Dia menegaskan tidak mungkin selamanya bangsa ini bersembunyi dari Covid-19. Hampir tiga bulan, masyarakat berada di dalam rumah. Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai dirasa ada kejenuhan. Setidaknya ada tiga penyebabnya. Pertama, masyarakat mulai galau dan stres karena dikurung terlalu lama. Apalagi mencapai dua bulan lebih. Kedua, ekonomi tidak bergerak. Banyak orang kehilangan pendapatan, kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), orang tidak bisa buka warung.

Baca juga: New Normal, Anak Balita Dilarang Naik Commuterline

“Orang mau cari makan susah. Bukan hanya uangnya tidak ada, tapi juga warungnya sudah harus tutup dan seterusnya. Sementara bantuan dari pemerintah itu ada batasnya,” tegas Mahfud.

Ketiga, keberadaan Covid-19 tidak bisa dipastikan kapan selesainya. Bahkan ada pernyataan dari badan kesehatan dunia, WHO bahwa mungkin saja Covid akan ada untuk selamanya. Artinya, Covid-19 itu tidak akan pernah habis dari bumi ini.

“Oleh sebab itu, diperlukan cara hidup baru. Diperlukan new normal life. Cara hidup yang baru seperti apa? Kalau keluar rumah pakai masker, cuci tangan pakai sabun, mengatur jarak, dan sebagainya,” tutup Mahfud.



Sumber: BeritaSatu.com