ICW Serahkan Informasi Terkait Sidang Penyiraman Air Keras

ICW Serahkan Informasi Terkait Sidang Penyiraman Air Keras
Sidang Perdana Tersangka Penyiram air keras Novel Baswedan. (Foto: Beritasatuphoto/Joanito De Saojoao)
Fana F Suparman / WM Jumat, 5 Juni 2020 | 19:41 WIB


Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyerahkan Amicus Curiae atau memberikan informasi terkait persidangan teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan dengan terdakwa dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Amicus Curiae ini diserahkan ICW ke Pengadilan lantaran menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam perkara tersebut.

Peneliti ICW, Kurnia Ramadhana membeberkan sejumlah poin yang dinilai janggal dari kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Setidaknya, terdapat tujuh poin yang disampaikan ICW dalam Amicus Curiae.

Kurnia menyatakan, dakwaan Jaksa menafikan perbuatan terdakwa yang menghalangi proses hukum. Hal ini bertentangan dengan kesimpulan penyelidikan yang sebelumnya dilakukan oleh Tim Gabungan bentukan Polri. "Sebab, Tim itu secara terang benderang menegaskan bahwa ada keterkaitan antara serangan terhadap Novel dengan perkara-perkara yang sedang ia tangani," kata Kurnia dalam keterangan pers yang diterima, Jumat (5/6).

Kurnia menilai, Pasal 355 KUHP dan Pasal 351 KUHP tentang tindak pidana penganiayaan sangat bertentangan dengan temuan tim gabungan bentukan Polri.

Menurutnya, dengan Jaksa yang hanya mendakwa kedua terdakwa dengan pasal terkait penganiyaan, perkara ini berpotensi digiring pada ranah pribadi Novel tanpa mengaitkan rekam jejak perkara yang sedang atau pernah Novel tangani. Padahal, kata Kurnia, posisi Novel sebagai Penyidik KPK penting untuk dikaitkan dalam tindak kejahatan ini.

"Sebab dalih dari terdakwa yang menyebutkan memiliki persoalan pribadi dengan Novel sudah terbantahkan ketika Penyidik KPK itu mengaku tidak pernah berinteraksi dengan mereka," tegas Kurnia.

ICW juga mempersoalkan penyelidikan dan penyidikan perkara ini oleh Kepolisian. Komnas HAM telah membeberkan sejumlah persoalan penanganan perkara ini di tahap penyelidikan dan penyidikan. Merujuk temuan Komnas HAM, observasi yang dilakukan oleh Tim Polda tidak cukup memetakan saksi kunci dan barang bukti penting, hal ini terindikasi dengan tidak diwawancarai beberapa saksi kunci secara mendalam, tidak diambilnya beberapa rekaman CCTV serta telpon genggam penting. Bahkan ada saksi kunci yang sudah diperiksa di Polres Kelapa Gading, tidak tercatat oleh Tim Polda.

"Tim Polda belum pernah memeriksa Kapolda Metro Jaya saat itu yang diduga mengetahui akan adanya serangan kepada Novel Baswedan sebelum 11 April 2017 sehingga dapat dikategorikan sebagai saksi kunci," kata Kurnia.

ICW juga menilai, dakwaan Jaksa mengaburkan fakta serangan yang dapat mengancam nyawa korban. ICW menegaskan, teror tersebut tidak bisa hanya dipandang sekadar penganiyaan, sebab banyak kasus terjadi di Indonesia yang terkait dengan penyiraman air keras menimbulkan akibat serius, yaitu meninggal dunia.

Untuk itu, ICW menilai, Jaksa seharusnya mendakwa kedua terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

"Atas dasar kejadian-kejadian di atas seharusnya Kejaksaan juga mendakwa para terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kuat dugaan dalam dakwaan tersebut Jaksa hanya ingin mengaburkan fakta bahwa siraman air keras berpotensi untuk menghilangkan nyawa orang lain, termasuk dalam hal ini korban, yaitu Novel Baswedan," tegasnya.

Dalam Amicus Curiae, ICW turut mencatumkan sketsa Polri berbeda dengan wajah dua terdakwa. Menurut Kurnia, Polri setidaknya telah dua kali memperlihatkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Dia menyebut, diawali Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 31 Juli 2017 di Istana Negara, lalu dilanjutkan dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis pada tanggal 24 November 2017.

Namun, lanjut Kurnia, dua sketsa yang dirilis resmi oleh Polri itu tidak memiliki persesuaian sama sekali dengan wajah dua terdakwa.

"Tentu ini akan menjadi pertanyaan bagi masyarakat, apakah memang dua orang oknum Polri ini yang menjadi pelaku sebenarnya? Lalu bagaimana metode pembuatan sketsa yang dilakukan oleh Polri? Siapa saksi yang diambil keterangannya?," katanya.

Dalam perkara ini, dua anggota Brimob Polri, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis didakwa melakukan penganiayaan secara terencana yang mengakibatkan luka berat. Keduanya menyebabkan mata Novel Baswedan terluka sehingga kornea mata kanan dan kirinya terancam buta.

Kedua terdakwa yang merupakan polisi aktif tersebut melakukan perbuatannya dengan alasan dendam lantaran Novel Baswedan dianggap telah mengkhianati institusi Polri.



Sumber: BeritaSatu.com