Kasus ABK Lompat ke Laut Ditangani Polda Riau

Kasus ABK Lompat ke Laut Ditangani Polda Riau
Kepala BP2MI, Benny Rhamdani (kanan) bersama Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah (kiri) menyambut sembilan anak buah kapal (ABK) eks kapal milik perusahaan RRT Rongcheng Ocean Fishery Co.Ltd yang kembali ke Tanah Air di Ruang Pertemuan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (29/5/2020). (Foto: Istimewa)
Farouk Arnaz / EHD Selasa, 9 Juni 2020 | 19:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus dugaan penyiksaan dua anak buah kapal (ABK) Lu Qing Yuan Yu yang terjun ke laut di sekitar Selat Malaka mulai disentuh polisi.  “Kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini ditamgai Polda Kepri,” kata Kasubdit III Dit Tipidum Bareskrim Kombes John Hutagalung saat dihubungi Beritasatu.com Selasa (9/6/2020).

Untuk diketahui Reynalfi (22) dan Andri Juniansyah (30), Warga Negara Indonesia (WNI), nekat kabur karena tak tahan dengan pola kerja di kapal berbendera China tersebut.

Kedua ABK itu meloloskan diri dengan terjun ke laut saat kapal mereka melintas di sekitar perairan perbatasan internasional yang masuk wilayah Provinsi Kepri pada Jumat (5/6/2020) malam sekitar pukul 20.00 WIB.

Bukan kali ini saja kasus semacam terjadi. Satgas tindak pidana perdagangan orang (TPPO) Bareskrim juga mengusut kasus serupa.  Tiga tersangka dalam kasus eksploitasi ABK yang bekerja di kapal Long Xing 629 dibekuk.

Ketiga tersangka tersebut adalah W dari PT APJ di Bekasi, inisial F dari PT LPB di Tegal dan J dari PT SMG di Pemalang.

Kasus ini bermula saat PT APJ diduga memberangkatkan 8 ABK dimana 5 sudah kembali pulang, 2 masih berlayar, dan satu meninggal dunia. Pun dengan dua agen yang lain.

Kasus ini terungkap saat media Korea Selatan, MBC, merilis video yang menunjukkan penderitaan para ABK WNI itu. Dalam video itu terlihat mereka bekerja hingga 18 jam sehari dan tanpa asuransi kesehatan.

Para ABK yang bekerja selama 13 bulan itu juga mengaku hanya menerima bayaran 140.000 won atau sekitar Rp 1,7 juta. Jika dihitung per bulan, mereka hanya menerima gaji 11.000 won atau sekitar Rp 135.000.

Gambar itu diperoleh dari 14 ABK WNI lain yang selamat dan semula bekerja di kapal Long Xing 629. Mereka diturunkan dari kapal lain di pelabuhan Busan, Korea Selatan pada 23 April lalu.

Dengan didampingi staf dari KBRI Seoul, 14 orang ABK WNI itu pulang ke Tanah Air dari Korsel dan tiba Jumat (8/5/2020) kemarin. Ke 14 orang inilah yang kini diperiksa Bareskrim.

Untuk diketahui jasad ABK malang asal Indonesia yang meninggal dan lantas dilarung di tengah Samudera Pasifik itu terjadi pada Desember 2019 dan Maret 2020. Keluarga mereka menuntut keadilan.

Pelaku TPPO diancam Pasal 4 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 21/2007 tentang Pemberantasan TPPO dan atau Pasal 81 dan Pasal 86 huruf b UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan atau Pasal 102 ayat 1 huruf B UU Nomor 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Ancaman hukuman maksimalnya 15 tahun penjara.



Sumber: BeritaSatu.com