Satpam Kantor PDIP Akui Suruh Harun Masiku Rendam HP Saat OTT KPK

Satpam Kantor PDIP Akui Suruh Harun Masiku Rendam HP Saat OTT KPK
Petugas merekam sidang dakwaan kasus dugaan korupsi penetapan pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024 secara virtual dengan terdakwa mantan Komisioner Bawaslu Wahyu Setiawan (ketiga kanan) dan mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina (kedua kanan) di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/5/2020). Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum Wahyu Setiawan didakwa telah menerima suap melalui perantaraan Agustiani Tio Fridelina sebesar Rp600 juta dari Saeful Bahri dan Harun Masiku agar KPU menyetujui permohonan Penggantian Antar Waktu (PAW) yang diajukan PDIP. (Foto: ANTARA FOTO / Aprillio Akbar)
Fana Suparman / JAS Kamis, 11 Juni 2020 | 20:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Petugas keamanan kantor DPP PDIP, Nur Hasan, mengakui pernah menyuruh caleg PDIP yang kini menjadi buronan, Harun Masiku untuk merendam ponselnya ke dalam air pada 8 Januari 2020 atau bertepatan saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap sejumlah pihak terkait perkara ini, termasuk mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan. Perintah merendam telepon genggam itu disampaikan Nur Hasan atas perintah dua orang berbadan tegap yang tidak dikenalnya.

Nurhasan dihadirkan Jaksa Penuntut sebagai saksi perkara dugaan suap pengurusan PAW Anggota DPR dengan terdakwa , Wahyu Setiawan dan mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina melalui konferensi video, Kamis (11/6/2020).

Kepada Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum, Nur Hasan menuturkan, saat itu sedang berada di pos keamanan Rumah Aspirasi di Jakarta Pusat. Menjelang Magrib, katanya dua orang misterius itu mendatanginya. Nur Hasan mengaku sempat menanyai identitas dan maksud kedatangan kedua orang tersebut. Namun, keduanya tidak menjawab pertanyaan Nur Hasan.

"Dia kurang bersahabat," tutur Nur Hasan.

Kepada Nur Hasan, keduanya mengaku mencari dan menanyainya mengenai nomor telepon Harun Masiku. Nur Hasan mengaku tak mengenal Harun Masiku.

"Nomor teleponnya ada? Ya, nggak punya saya bilang. Saya nggak kenal, masa punya nomor telepon," tuturnya.

Nur Hasan menuturkan, kedua pria itu mengikutinya masuk ke pos keamanan. Salah seorang di antaranya kemudian mengambil telepon genggam Nur Hasan yang sedang diisi baterai kemudian menghubungi seseorang yang diketahui belakangan merupakan Harun Masiku.

"Saya nggak tahu (siapa yang menelepon), karena dibilang nih kamu dengerin dulu, nanti saya tuntun," kata Nur Hasan.

Namun, Nur Hasan mengaku lupa isi pembicaraan melalui sambungan telepon itu. Jaksa KPK kemudian membeberkan isi berita acara pemeriksaan (BAP) Nur Hasan.

"Di BAP betul bilang 'HP bapak harus direndam di air dan bapak harus standby di DPP?'," kata Jaksa Takdir Suhan.

"Lupa, kayaknya itu deh," jawab Nur Hasan.

"Kemudian disebut Harun Masiku ya ok disimpan di mananya? lalu saksi jawab lagi direndam di air pak, di air ya," timpal Jaksa Takdir.

Nur Hasan mengakui dirinya mengucapkan kalimat itu. Nur Hasan mengaku, ucapan tersebut atas perintah dua orang yang tak dia kenal itu.

"Saya lagi bicara sama yang nelpon itu, dua orang itu yang nuntun saya," bebernya.

Belakangan, Nur Hasan baru mengetahui, orang yang dia ajak bicara melalui sambungan telepon dengannya merupakan Harun Masiku. Bahkan, dia juga mengaku sempat diajak oleh dua orang misterius itu untuk bertemu dengan Harun di dekat Hotel Sofyan, Jalan Cut Meutia, Jakarta Pusat untuk mengambil sebuah tas.

"Kan saksi ada komunikasi telepon, terus ada memberikan tas, lalu akhirnya tahu disebut dua orang itu namanya adalah Harun Masiku?" telisik Jaksa Takdir.

"Dua orang itu menyebut pak Harun, tapi awalnya saya gak tau itu siapa," turur Nur Hasan.

Nur Hasan mengaku tak mengetahui isi tas tersebut. Dikatakan, setelah menerima dari Harun Masiku yang duduk di kursi belakang sebuah mobil, tas tersebut diserahkan Nur Hasan kepada dua pria misterius yang terus 'mengawalnya'.

Nur Hasan kemudian berpisah dengan kedua pria misterius itu. Sementara Harun Masiku yang telah menyandang status tersangka perkara suap ini buron hingga kini.

Nur Hasan mengklaim handphone yang dipergunakan untuk menelepon Harun hilang beberapa hari setelah peristiwa itu.
"Kalau nggak salah lagi car free day, di situ hilang pak," katanya.

Diketahui, Wahyu bersama-sama mantan anggota Bawaslu yang juga Kader PDIP Agustiani Tio Fridenila didakwa menerima suap secara bertahap dari Harun Masiku dan Saeful Bahri dengan total Rp 600 juta.

Suap itu diberikan dengan tujuan Wahyu mengupayakan agar KPU menyetuhui permohonan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota DPR dari Dapil Sumsel 1 PDIP dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku. Namun, sejak OTT pada awal Januari 2020 Harun belum juga ditemukan dan ditangkap untuk mempertanggungjawabkan tindak pidana yang dilakukannya. 



Sumber: BeritaSatu.com