Tiga Tersangka Penganiaya Perawat Tidak Ditahan

Tiga Tersangka Penganiaya Perawat Tidak Ditahan
Ilustrasi penanganan pasien terinfeksi "corona". (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / YS Senin, 29 Juni 2020 | 19:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Tiga orang tersangka yang menganiaya perawat RSUD dr M Haulussy di Ambon belum ditahan.

Mereka yang juga anggota keluarga almarhum HK, pasien Covid-19 yang meninggal dunia pada Jumat (26/6/2020) lalu itu, hanya dikenakan wajib lapor.

”Tidak kami tahan (atas pertimbangan penyidik) tapi mereka wajib lapor,” kata Kabid Humas Polda Maluku Kombes Rum Ohoerat saat dihubungi Beritasatu.com Senin (29/6/2020).

Seperti diberitakan, perawat RSUD Haulussy, Jumima Orno dianiaya pada Jumat (26/6) pagi sekitar pukul 07.30 WIT di depan ruang jenazah pasien Covid-19 di RSUD Haulussy.

Keluarga pasien mengatakan, pihak keluarga tidak puas dengan penanganan RSUD Haulussy. Makanya, keluarga terpaksa mencegat ambulans dan mengambil paksa jenazah sang ayah.

Seperti dibeitakan, pengambilan paksa jenazah pasien positif Covid-19 terjadi pada ambulans yang melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon Jumat (26/6/2020) berbuntut panjang

Polres Ambon dan Pulau Lease menetapkan 11 tersangka dalam kasus tersebut. Delapan tersangka terlibat penghadangan ambulans dan tiga tersangka lain terlibat penganiayaan perawat RS.

Untuk 8 orang yang menghadang ambulans, 6 orang sudah ditahan dan 2 orang tidak ditahan, namun dikenakan wajib lapor karena wanita. Yang laki-laki berinisial AM, BY, SI, SU, dan SD. Dua perempuan inisialnya NI dan YN.

Jenazah yang diambil paksa itu dikenali sebagai HK yang merupakan mantan anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah.

Ia sebelumnya dirujuk ke RSUD Haulussy karena menderita penyakit tumor, namun belakangan dinyatakan positif Covid-19 dan meninggal di rumah sakit.



Sumber: Suara Pembaruan