Satu Terdakwa Reaktif Covid-19, Sidang Kasus Jiwasraya Ditunda

Satu Terdakwa Reaktif Covid-19, Sidang Kasus Jiwasraya Ditunda
Ilustrasi Jiwasraya. (Foto: Antara / Galih Pradipta)
Fana Suparman / YUD Rabu, 1 Juli 2020 | 17:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sidang perkara dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya yang sedianya digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (1/7/2020) terpaksa ditunda. Penundaan ini disebabkan mantan Dirut PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim yang menjadi salah satu terdakwa perkara tersebut reaktif risiko terinfeksi virus corona (Covid-19) berdasarkan hasil tes cepat atau rapid test.

Atas hal tersebut, persidangan pada hari ini yang beragendakan pemeriksaan saksi-saksi ditunda dan dilanjutkan kembali pada Senin (6/7/2020) mendatang.

"Benar, tadi langsung setelah sidang ditunda, Bapak Ketua Pengadilan Negeri langsung turun dan bertanya, kemudian betul itu hasil rapid. Oleh karena itu diminta untuk swab test," kata Humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Bambang Nurcahyono, kepada wartawan, Rabu (1/7/2020).

Setelah menunda persidangan, pihak pengadilan segera menyemprotkan desinfektan di ruang persidangan. Sementara Hendrisman akan menjalani swab test guna memastikan risiko terinfeksi Covid-19.

"Kita akan melaksanakan (rapid test kepada hakim) karena ada gejala seperti itu. Kemarin juga sudah, nanti ada lagi," tambahnya.

Persidangan perkara dugaan korupsi Jiwasraya dengan enam terdakwa digelar di dua ruang sidang berbeda dalam waktu bersamaan. Terdakwa Hendrisman bersama Direktur Keuangan Jiwasraya periode 2013-2018 Hary Prasetyo dan Kepala Divisi Investasi Jiwasraya periode 2008-2014 Syahmirwan menjalani sidang di Ruang Kusuma Atmadja. Sedangkan Direktur Utama PT Hanson International Tbk, Benny Tjokrosaputro; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat; dan Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto menjalani persidangan di Ruang Hatta Ali.

Sidang berlangsung sejak sekitar pukul 10.00 WIB dan diskors pukul 12.00 WIB untuk istirahat, salat dan makan.
Kemudian, sidang dilanjutkan sekitar pukul 13.00 WIB dan diskors kembali sekitar pukul 14.05 WIB.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum mendakwa Direktur Utama PT Hanson Internasional Benny Tjokrosaputro dan Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat serta empat terdakwa lainnya melakukan korupsi terkait pengelolaan dana PT Asuransi Jiwasraya. Atas perbuatan Benny dan Heru bersama empat terdakwa lain, keuangan negara menderita kerugian hingga sebesar Rp 16,8 triliun berdasarkan audit BPK tanggal 9 Maret 2020.

Empat terdakwa lain perkara ini dengan surat dakwaan terpisah, yaitu, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto, mantan Direktur Utama PT Asuaransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo dan eks Kepala Divisi Investasi PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan.

Jaksa membeberkan, Benny Tjokro melakukan kesepakatan bersama dengan petinggi PT Asuransi Jiwasraya untuk melakukan transaksi penempatan saham dan reksa dana perusahaan asuransi tersebut. Kesepakatan itu dilakukan dengan tidak transparan dan akuntabel. Tiga petinggi Jiwasraya, Hendrisman Rahim, Hary dan Syahmirwan juga didakwa melakukan pengelolaan investasi tanpa analisis yang objektif, profesional dan tidak sesuai nota interen kantor pusat. Jaksa menyebut analisis hanya dibuat untuk formalitas.

Hendrisman, Hary dan Syahwirman juga disebut membeli saham sejumlah perusahaan tanpa mengikuti pedoman investasi yang berlaku. Ketiganya terdakwa disebut Jaksa membeli saham melebihi 2,5 persen dari saham perusahaan yang beredar.

Keenam terdakwa dan pihak terafiliasi juga telah bekerja sama untuk melakukan transaksi jual-beli saham sejumlah perusahaan dengen tujuan inventarisasi harga. Hal tersebut pada akhirnya tidak memberikan keuntungan investasi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan likuiditas guna menunjang kegiatan operasional.Jaksa mengatakan Hendrisman bersama-sama Hary Prasetyo, Syahmirwan, Heru Hidayat dan Benny melalui Joko Hartono mengatur dan mengendalikan 13 Manajer Investasi dengan membentuk produk Reksa Dana khusus untuk PT Asuransi Jiwasraya.

Hal ini dilakukan agar pengelolaan instrumen keuangan yang menjadi underlying Reksa Dana PT Asuransi Jiwasraya dapat dikendalikan oleh Joko Hartono Tirto.

Jaksa juga menyebut Heru, Benny dan Joko turut memberikan uang, saham dan fasilitas lain kepada tiga petinggi Jiwasraya. Pemberian dilakukan terkait pengelolaan investasi saham dan reksadana di perusahaan tersebut selama 2008-2018.
Atas perbuatannya, keenam terdakwa didakwa melanggar melanggar Pasal 2 ayat (1) Juncto Pasal 18 dan atau Pasal 3 Juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b, Pasal 18 ayat (2) dan Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Selain didakwa melakukan korupsi terkait pengelolaan dana PT Asuransi Jiwasraya, Heru dan Benny juga didakwa Jaksa telah melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang. 



Sumber: BeritaSatu.com