KPK Dalami Aliran Dana korupsi PT DI

KPK Dalami Aliran Dana korupsi PT DI
Ketua KPK Firli Bahuri (tengah) menyampaikan keterangan pers tentang penahanan mantan direksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (12/6/2020). KPK menahan mantan Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan mantan Direktur Niaga Irzal Rinaldi Zailani dalam kasus dugaan korupsi kegiatan penjualan dan pemasaran pesawat PTDI tahun 2007-2017. (Foto: ANTARA FOTO / Nova Wahyudi)
Fana Suparman / YS Kamis, 2 Juli 2020 | 19:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut kasus dugaan korupsi penjualan dan pemasaran pesawat di PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

Salah satunya mengenai aliran dana dari korupsi yang diduga merugikan keuangan negara sekitar Rp 330 miliar tersebut. Pendalaman itu dilakukan penyidik dengan memeriksa sejumlah saksi yang diduga mengetahui sengkarut kasus ini.

“Terkait aliran uang sejauh ini penyidik masih terus memeriksa saksi-saksi,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2020).

Diketahui, KPK menetapkan mantan Dirut PT DI Budi Santoso dan mantan Asisten Direktur Utama PT DI Bidang Bisnis Pemerintah Irzal Rizaldi Zailani sebagai tersangka kasus dugaan korupsi di PT DI. Keduanya diduga melakukan korupsi terkait pengadaan barang dan jasa fiktif terkait penjualan dan pemasaran produk PT DI seperti pesawat terbang, helikopter, dan lainnya.

Budi Santoso dan Irzal serta sejumlah pihak lain diduga telah merugikan keuangan negara hingga Rp 330 miliar yang merupakan nilai yang telah dibayarkan PT Dirgantara Indonesia (persero) kepada enam perusahaan mitra/agen dalam kurun tahun 2011 hingga 2018.

Padahal, enam perusahaan mitra, yakni PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha tidak pernah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan perjanjian.

Dari nilai tersebut, KPK menduga Budi Santoso dan Irzal serta sejumlah direksi PT DI menerima aliran dana sekitar Rp 96 miliar. Selain Budi dan Irzal, direksi PT DI lainnya yang disebut turut kecipratan aliran dana yakni, mantan Direktur Niaga dan Restrukturisasi PT DI dan mantan Direktur Aerostructure yang kini menjabat Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) Budiman Saleh serta mantan Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan Arie Wibowo.

Selain memeriksa para saksi, tim penyidik juga telah menyita aset properti dan memblokir rekening milik tersangka Budi Santoso dan Irzal Rinaldi Zailani dengan nilai sekitar Rp 18,6 miliar. Tak hanya itu, KPK juga telah menyita sejumlah uang dari para saksi yang telah diperiksa. Namun, Ali masih enggan merinci jumlah uang yang disita dari para saksi.

“Penyidik KPK saat ini telah pula melakukan penyitaan sejumlah uang dari para saksi terkait dugaan korupsi di PT DI,” kata Ali.

Dikatakan, jumlah total uang yang disita tersebut belum bisa disampaikan. Hal ini lantaran penyidik masih akan memanggil dan mengonfirmasi kembali kepada beberapa orang saksi.

"Nanti perkembangannya kami sampaikan," kata Ali.

Ali memastikan, tim penyidik akan terus mengembangkan kasus itu. Tak tertutup kemungkinan, KPK bakal menjerat pihak lain yang terlibat sepanjang ditemukan bukti permulaan yang cukup. Ali berjanji akan menyampaikan setiap perkembangan kasus ini.

“Sejauh ini yang sudah disampaikan sebagai tersangka dan ditahan ada dua orang. Untuk lainnya, masih proses penyidikan. Nanti akan disampaikan perkembangannya,” kata Ali.



Sumber: Suara Pembaruan