Eksploitasi Seksual 305 Anak oleh WNA, KPAI Minta Segera Dibentuk Tim Terpadu Percepatan Perlindungan Korban

Eksploitasi Seksual 305 Anak oleh WNA, KPAI Minta Segera Dibentuk Tim Terpadu Percepatan Perlindungan Korban
Komisioner bidang Pendidikan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti (Foto: istimewa)
Lennny Tristia Tambun / EHD Jumat, 10 Juli 2020 | 22:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto meminta pemerintah segera membentuk Tim Terpadu Percepatan Perlindungan Korban. Keberadaan tim ini sangat mendesak dibutuhkan untuk memberikan bantuan bagi 305 anak yang menjadi korban eksploitasi seksual oleh Warga Negara Asing (WNA).

“Untuk itu, penting membentuk Tim Terpadu dalam menjalankan fungsi jangkauan dan rehabilitasi tersebut, baik kepolisian, P2TP2A dan Kemensos,” kata Susanto dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/7/2020).

Tim terpadu ini perlu segera dibentuk, lanjut Susanto, untuk menindaklanjuti pernyataan Menteri Sosial Juliari Batubara bawah Kementerian Sosial akan memberikan perlindungan dan rehabilitasi kepada korban.

“Pemberiaan perlindungan dan rehabilitasi pada korban membutuhkan percepatan, untuk jangkauan kepada anak agar jumlah anak yang teridentifikasi segera bertambah dan segera mendapat perlindungan,” ujar Susanto.

KPAI sudah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya dan Mabes Polri, Kemensos RI, KPPPA, P2TP2A DKI Jakarta dan LPSK untuk memastikan perlindungan anak dan menemukan anak-anak tersebut, agar setiap anak mendapatkan perlindungan. Saat ini sudah teridentifikasi 17 anak dari ratusan korban dan mereka sudah mendapatkan hak perlindungan.

“Saat ini data identifikasi korban di Polda Metro sudah mencapai 17 anak. P2TP2A DKI segera melakukan langkah perlindungan. Dalam koordinasi per hari ini, sudah enam anak yang teridentifikasi untuk dijangkau dan sedang dalam proses assessment. Hal ini mengharuskan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja keras dalam mengungkap dan menemukan korban,” terang Susanto.

Susanto menegaskan pihaknya juga membuka pengaduan dan laporan apabila ada anggota keluarga atau siapapun yang merasa mendapat perlakuan dan tindakan eksploitasi dari pelaku untuk segera mendapatkan jangkauan dan perlindungan.

Dijelaskannya, dalam satu bulan ini, KPAI mencatat setidaknya ada dua kasus besar tindak eksploitasi seksual pada anak yang dilakukan WNA kepada anak di bawah umur.

Pertama, yang dilakukan oleh RAD, seorang DPO FBI Amerika kasus kredit 722 juta dolar AS yang lolos ke Indonesia. Kemudian RAD terciduk sedang melakukan Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA) pada remaja.

Kedua, ESKA yang diduga dilakukan warga Perancis hingga memakan korban hingga 305 anak sejak tahun 2015 dan terlacak menggunakan hotel sejak 2019 hingga 2020 di Jakarta.

Dalam sistem data KPAI sepanjang tahun 2019 tercatat 244 kasus kekerasan pada anak. Dengan rincian, jumlah kasus tertinggi adalah anak korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak sebanyak 71 kasus, lalu anak korban prostitusi tercatat 64 kasus, anak korban perdagangan sebanyak 56 kasus dan anak korban pekerja ada 53 kasus.

“KPAI memberikan apresiasi kepada Polda Metro Jaya yang sudah mengungkap peristiwa ini, dengan terus mendorong pengembangan kasusnya agar hukum segera ditegakkan dan korban-korban ditemukan dan mendapat perlindungan,” tutur Susanto.

 



Sumber: BeritaSatu.com