Berhasil Tangkap Djoko Tjandra, Isu Faksionalisasi di Polri Terbantahkan

Berhasil Tangkap Djoko Tjandra, Isu Faksionalisasi di Polri Terbantahkan
Buronan kasus cessie Bank Bali Djoko Soegianto Tjandra (baju tahanan) tiba di Bandara Halim Perdakusuma, Jakarta, Kamis (30/7/2020) malam. (Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao)
Robertus Wardi / JAS Sabtu, 1 Agustus 2020 | 15:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keberhasilan Polri menangkap pelarian terpidana kasus pengalihan hak tagih atau cessie Bank Bali, Djoko Tjandra, dinilai membantah isu yang menyebut ada faksionalisasi di tubuh Korps Bhayangkara.

Komunikolog Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing mengatakan, keberadaan in group dan out group atau faksi dalam suatu organisasi sosial tak terkecuali di Kepolisian adalah suatu hal yang tak terbantahkan.

Meski demikian, dalam konteks penegakan hukum atas Djoko Tjandra, Emrus justru melihat kekompakan di internal Polri.

"Faksi atau in group dan out group dalam tinjauan sosiologi adalah hal yang tak terbantahkan di organisasi sosial. Hal itu terbentuk berdasarkan kinerja, prestasi, dan kedekatan. Dalam konteks penegakan hukum saya kira mereka harus menyatu mengabaikan ciri-ciri daripada in group out group," kata Emrus di Jakarta, Sabtu (1/8/2020).

Ia menjelaskan sebagai lembaga yang bertugas menegakkan hukum dengan moto Promoter (Profesional, Modern, dan Terbuka), adanya diksi in group dan out group dalam Kepolisian sudah harus dikesampingkan demi berjalannya penegakan hukum di Indonesia.

Kepolisian adalah lembaga yang eksis di Undang-Undang Dasar. Artinya lembaga ini tidak bisa dibubarkan meski presiden berganti. Oleh karena itu muruh lembaga Kepolisian ini harus tetap dijaga.

"Seluruh anggota Polri dari tingkat terendah hingga teratas harus mengesampingkan kelompok in group atau out group," ujar Emrus.

Sebelumnya, Polri berhasil menangkap Djoko Tjandra di Malaysia pada Kamis (30/7/2020). Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan, penangkapan Djoko Tjandra merupakan instruksi langsung Presiden Joko Widodo kepada Kapolri Jenderal Idham Azis.

Atas instruksi tersebut, Kapolri membentuk Tim Khusus Bareskrim untuk mencari keberadaan Djoko Tjandra yang berdasarkan penyelidikan berada di Malaysia.

Emrus menilai, keberhasilan ini tidak terlepas dari sinergisitas antara Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam melacak keberadaan Djoko Tjandra. Menurutnya, dalam proses memburu pelarian terpidana suatu kasus, Polri tentu menggunakan berbagai informasi dari berbagai pihak termasuk informasi intelijen.

"Telah terjadi suatu kerja sama yang baik antara Polri dan intelijen. Polri berhasil menyimpan dan mengolah informasi yang bersifat rahasia itu sehingga bisa menangkap Djoko Tjandra," tutup Emrus. 



Sumber: BeritaSatu.com