Tahun Ini, Hunian Menengah Jadi Primadona

 Tahun Ini, Hunian Menengah Jadi Primadona
Ilustrasi pembangunan proyek properti guna menunjang perekonomian ( Foto: Istimewa / Istimewa )
EDO / FER Kamis, 2 Januari 2014 | 10:05 WIB

Jakarta - Permintaan hunian tapak dan vertikal pada tahun ini diprediksi masih cukup tinggi jika melihat defisit rumah (backlog) yang mencapai 15 juta rumah pada 2013. Setiap tahun, kebutuhan rumah ditaksir mencapai 700 ribu rumah dari semua segmen. Untuk tahun 2014, tren hunian ada di segmen menengah.

"Primadona ada di segmen Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar untuk hunian tapak, sedangkan untuk apartemen menengah di perkotaan yang bakal banyak permintaannya ada di rentang Rp 300-500 jutaan per unit," ujar Ali Tranghanda, direktur eksekutif Indonesia Property Watch (IPW), saat dihubungi dari Jakarta, baru-baru ini.

Para pengembang mengaku terus membangun proyek properti hunian pada 2014. Sejumlah proyek apartemen dan hunian tapak yang dipasarkan sejak 2013 bakal terus bergulir pada 2014. Proyek tersebut ada yang ditargetkan rampung pada pertengahan tahun depan dan sebagian pada 2015.

Laju pembangunan proyek tersebut dapat dilihat dari data lembaga riset konstruksi, BCI Asia yang menaksir pada 2014, nilai konstruksi gedung mencapai sekitar Rp 260 triliun. Angka itu naik sekitar 8,47% jika dibandingkan setahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut khusus untuk konstruksi residensial, merupakan segmen yang paling tinggi di antara konstruksi gedung lainnya. Segmen residensial tercatat sebesar Rp 77,19 triliun pada 2014, atau naik 17,44% dibandingkan tahun 2013 yang sekitar Rp 65,72 triliun.

"Kami optimistis tahun 2014 sektor proper ti masih bertumbuh, kami menargetkan pertumbuhan sebesar 20%," ujar Rudy Margono, direktur utama Gapura Prima Group belum lama ini.

Optimisme di segmen hunian tersebut, tambah dia, berkaca pada backlog yang masih cukup tinggi pada 2013. Karena itu, kata dia, permintaan untuk produk properti masih tinggi, termasuk permintaan akan hunian.

"Melihat kondisi itu, kami masih terus menggarap proyek properti yang ada saat ini, plus ditambah beberapa proyek baru," jelas Rudy.

Sekalipun demikian, kata dia, masih ada sejumlah faktor penghambat pertumbuhan properti pada 2014. Faktor-faktor tersebut, jelasnya, tren harga tanah yang kian mahal, izin pembangunan yang kian susah, dan bunga perbankan yang tinggi.

Sumber: Investor Daily