Triwulan III, Pasar Properti Nasional Mulai Bergerak

 Triwulan III, Pasar Properti Nasional Mulai Bergerak
Imam Muzakir / FER Selasa, 2 September 2014 | 16:56 WIB

Jakarta - Memasuki triwulan III/2014, pasar properti diprediksi mulai bergerak. Hal tersebut merupakan sinyal positif dari situasi pasar pada triwulan II yang mengalami penurunan penjualan.

Pandangan tersebut tercantum dalam hasil riset Indonesia Properti Watch (IPW), yang dipublikasikan melalui laman indonesiapropertywatch.comindonesiapropertywatch.com, Selasa (2/9).

Berdasarkan pengamatan, kata Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda, pasar mulai bergerak naik pada triwulan III/2014. Pergerakan terjadi, dengan asumsi kondisi politik relatif kondusif.

Meskipun demikian, menurut Ali, tren pertumbuhan yang ada masih dalam koridor perlambatan. "Artinya belum menunjukkan tren percepatan yang signifikan,” ujar dia.

Dalam amatan IPW, perlambatan tersebut merupakan dampak dari situasi pada triwulan II. Memasuki triwulan II, jelas Ali, pasar perumahan masih dibayangi tren perlambatan. Riset IPW menunjukkan nilai penjualan masih membukukan penurunan -0,9 persen (q-to-q). Kendati demikian, berdasarkan nilai unit secara keseluruhan menunjukkan sedikit kenaikan sebesar 2,4 persen.

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan, seperti pergeseran segmen harga, ke harga yang rendah. Harga rata-rata segmen atas mulai bergeser ke segmen yang lebih rendah menjadi Rp 1,1 miliar, dari harga rata-rata pada triwulan sebelumnya sebesar Rp1,5 miliar," jelas Ali.

Menurut Ali, saat ini banyak pengembang swasta yang biasa membangun rumah untuk kelas menengah bawah, mulai bergeser ke segmen lebih atas. Hal tersebut dipicu turunnya minat pengembang membangun rumah murah menyusul kebijakan perumahan yang tidak berpihak.

"Rencana penghapusan subsidi Rumah Sederhana Tapak (RST) merupakan salah satu faktor yang membuat pengembang enggan membuat rumah murah. Di samping itu nilai profitnya juga rendah," kata dia.

Perlambatan pasar properti juga mengimbas ke penghapusan PPN. Menurut Ali, penghapusan itu tidak sinkron dengan kebijakan penghapusan subsidi rumah tapak. Hal ini menunjukkan lemahnya koordinasi antar lembaga sehingga menyebabkan kebijakan yang diambil menjadi kontraproduktif.

Sementara itu, tumbuhnya kelas menengah di kawasan perkotaan mendorong pengembang mengarahkan bisnisnya ke segmen tersebut. Segmen ini dinilai sangat potensial setelah pasar kelas atas mengalami penurunan.

"Pasar mulai bergeser ke masyarakat menengah. Komposisi penjualan menengah atas turun dan bergeser ke segmen menengah, dengan kisaran harga rumah Rp 300 jutaan sampai Rp 800 jutaan," kata dia.

Sumber: Investor Daily