Deteksi Covid-19, Ini Tiga Metode Covid-19 yang Dipakai
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Deteksi Covid-19, Ini Tiga Metode Covid-19 yang Dipakai

Selasa, 5 Mei 2020 | 16:13 WIB
Oleh : Dina Manafe / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Fasilitas pemeriksaan untuk mendeteksi Covid-19 saat ini sangat diperlukan. Jika kasus ditemukan lebih dini, maka penanganan akan lebih cepat, sehingga mencegah penularan dan meningkatkan peluang sembuh untuk pasien. Namun belakangan muncul banyak istilah metode pemeriksaan yang membuat bingung masyarakat.

Ketua tim pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menjelaskan, untuk mengetahui keberadaan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 maka diperlukan testing. Di Indonesia secara umum menggunakan tiga metode pemeriksaan Covid-19. Masing-masing punya kelebihan dan kelemahannya.

Metode pertama menggunakan gold standard atau standar utama yang disebut dengan real time polymerase chain reaction (RT-PCR). Metode ini memiliki sensitifitas dan spesifitas cukup tinggi sekitar 95 persen. RT PCR ini dipakai di seluruh dunia untuk memastikan apakah sampel berupa swab yang diambil dari hidung atau tenggorokan pasien dites dan menunjukkan hasil positif atau negatif Covid-19.

“Metode ini open system atau sistem terbuka, di mana harus memerlukan reagen dan sampel pasien untuk dilakukan pemeriksaan. Tes ini relatif cepat, dan beberapa jam suda h bisa diketahui hasilnya,” kata Wiku di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Metode pemeriksaan kedua adalah tes cepat molekuler (TCM). Menggunakan sebuah tes yang relatif cepat, dilakukan secara molekuler, dan ini memiliki sensitifitas serta spesifitas cukup tinggi sekitar 95 persen. Sebenarnya alat ini dulunya dipakai untuk mendeteksi penyakit lain seperti Tuberkulosis (TBC), HIV, dan lainnya. Saat bekerja mesin ini menggunakan alat yang berbentuk seperti kaset atau cartridge. Alat ini bisa diganti khusus untuk Covid-19. Pemeriksaan ini relatif lebih cepat dari PCR, dan hanya beberapa jam hasil pemeriksaan keluar.

TCM ini sebetulnya dimiliki pemerintah Indonesia dan tersebar di berbagai rumah sakit di seluruh daerah. Tetapi masalahnya, cartridge ini sulit didapat karena saat ini semua negara memerlukannya. Semua negara termasuk Indonesia bersaing untuk mendapatkannya.

Metode ketiga, biasa disebut rapid test atau rapid diagnostik test (RDT). RDT ini ada dua, yaitu RDT antibodi dan RDT antigen. Karena jumlah RDT antigen di dunia sangat terbatas, maka Indonesia menggunakan RDT antibodi. RDT antibodi ini bisa mendeteksi adanya reaksi antibodi terhadap Covid-19 yang muncul dari orang yang terinfeksi.

“Biasanya antibodi itu muncul setelah orang terinfeksi dan tubuhnya mulai melawan virus. Ketika melawan itulah bisa terlihat dari gejala yang muncul seperti batuk, demam, dan lain-lain,” kata Wiku.

RDT ini bisa mendeteksi antibodi dengan hasil yang cukup cepat. Tetapi metode ini pun ada kelemahan. Sensitifitas dan spesifitasnya tidak setinggi PCR dan TCM, hanya sekitar 60 persen sampai 80 persen. Akitbatnya, RDT ini mungkin sensitif menemukan kasus positif, tetapi ketika dites ulang dengan PCR hasilnya bisa jadi berbeda. Karena itulah hasil positif dengan pemeriksaan RDT harus dilanjutkan dengan pemeriksaan RT PCR untuk memastikan benar- benar positif.

Wiku menjelaskan mengapa perlu adanya rapid test atau RDT. Menurut dia, jumlah PCR sangat terbatas, maka terlebih dahulu dilakukan RDT sebagai skrining atau deteksi awal. Apabila RDT positif baru dikonfirmasi lagi dengan PCR. RDT bisa dilakukan terhadap masyarakat umum tanpa harus menunjukkan gejala atau masuk pasien dalam pengawasan (PDP) atau orang dalam pemantauan (ODP).

“Jumlah PCR kita terbatas, dan harus dikerjakan di laboratorium oleh ahlinya. Sementara penduduk kita banyak, sehingga lebih dulu pakai rapid test,” kata Wiku.

Dalam hal kemampuan pemeriksaan Covid-19, Indonesia selalu dibandingkan dengan negara lain. Pemeriksaan di Indonesia dianggap terlalu sedikit di bawah negara lain.

Wiku mengatakan, Indonesia dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia tidak bisa dibandingkan dengan negara lain. Secara ekonomi mereka lebih tinggi dengan jumlah penduduk lebih sedikit. Dengan jumlah penduduk besar dan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, pemerintah terus berupaya keras untuk memperkuat semua lini dalam penanganan Covid-19.

Saat ini menurut Wiku, pemerintah tengah mempersiapkan setiap provinsi memiliki satu laboratorium. Pemerintah juga sedang mendata ketersediaan SDM untuk mengisi seluruh lab tersebut.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menristek: Syarat Pengembangan Alkes Perlu Dilonggarkan

Relaksasi dalam pengembangan alkes dibutuhkan, salah satunya syarat pengujian.

KESEHATAN | 5 Mei 2020

IDI: Butuh Lebih Banyak Data untuk Tentukan Keberhasilan PSBB

DKI Jakarta dinilai lebih sukses menerapkan PSBB dibanding wilayah lain, tetapi masih butuh lebih banyak data untuk menentukan sejauh mana keberhasilan PSBB.

KESEHATAN | 5 Mei 2020

RSCM Mulai Tahap Uji Klinis Terapi Plasma Konvaselen

Pasien yang terlibat dalam uji coba adalah pasien konfirmasi positif Covid-19 berdasarkan pemeriksaan PCR.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

300 Baju Coverall Disumbangkan ke Tiga Rumah Sakit di Jatim

Tiga rumah sakit di Jawa Timur mendapatkan bantuan berupa 300 baju coverall sebagai alat pelindung diri.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

LIPI: PSBB Nasional Diperlukan untuk Memutus Penularan Covid-19

Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) perlu dilakukan secara nasional yang pelaksanaannya mengacu pada karakteristik setiap wilayah.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

Percepat Tes Covid-19, 1.500 Cartridge Didistribusikan ke Daerah

Catridge tersebut digunakan pada mesin tes cepat molekuler (TCM) Tuberculosis (TBC) sehingga hasil tes Covid-19 bisa diketahui dengan cepat.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

Siloam Hospitals Luncurkan Layanan Rawat Jalan Online

Siloam Hospitals berinovasi dan menghadirkan pelayanan rawat jalan yang dapat diakses secara online.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

Doni Monardo: Sebelum Ada Vaksin, Indonesia Belum Aman dari Covid-19

Doni Monardo menegaskan selama belum ada vaksin, Indonesia masih belum aman dari virus Covid-19.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

Ramadan, Nilai Pembelian Suplemen Naik 50%

Masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga imun tubuh melalui konsumsi suplemen.

KESEHATAN | 4 Mei 2020

Pekan Depan, BPPT Akan Produksi Rapid Test Antibodi 50.000 per Bulan

Mulai pekan depan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan dapat memproduksi rapid test antibodi sebanyak 50 ribu per bulan.

KESEHATAN | 4 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS