Kemkes: Herbal Tidak Bisa Sembuhkan Covid-19
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Kemkes: Herbal Tidak Bisa Sembuhkan Covid-19

Rabu, 5 Agustus 2020 | 17:57 WIB
Oleh : Dina Manafe / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkan Covid-19. Perawatan terhadap pasien Covid-19 selama ini dengan terapi dan obat yang sifatnya hanya suportif yang bertujuan meningkatkan imunitas, sehingga bisa melawan virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19.

Termasuk jamu atau herbal atau obat tradisional, hanya efektif untuk menekan penyakit penyerta atau kormobid pada pasien Covid-19 agar tidak semakin parah, tetapi tidak bisa menyembuhkan Covid-19.

Hal ini disampaikan Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengambang Obat dan Obat Tradisional Balitbangkes Kementerian Kesehatan (Kemkes), Akhmad Saikhu dalam dialog “Obat Tradisional untuk Covid-19, Sudah Adakah ? “ di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (5/8/2020).

Baca Juga: Satgas Covid-19: Tidak Bisa Asal Klaim Obat Virus Corona

Menurut Akhmad, Covid-19 disebabkan oleh virus, sehingga obat satu-satunya adalah antivirus. Sampai saat ini antivirus tersebut masih dalam penelitian, dan belakangan sedang dilakukan uji klinis tahap ketiga di Indonesia.

Terkait penggunaan herbal atau jamu, menurut Akhmad, tidak bisa menyembuhkan Covid-19 seperti yang diklaim sejumlah orang akhir-akhir ini. Jamu yang dikembangkan dan terbukti berkhasiat hanya untuk mencegah penyakit penyerta atau kormobid, sehingga mengurangi tingkat keparahan pasien Covid-19.

“Artinya herbal atau jamu bisa digunakan untuk meringankan gejala penyakit penyerta, bukan membunuh virus corona,” kata Akhmad.

Data Kemkes menunjukkan, kebanyakan pasien Covid-19 termasuk yang meninggal juga memiliki penyakit penyerta atau kormobid. Kasus paling banyak adalah hipertensi, kemudian disusul diabetes melitus, jantung, penyakit paru obstruktif kronis, ginjal, dan asma. Penyakit-penyakit ini memperberat kondisi pasien Covid-19. Jamu atau herbal dengan komposisi tertentu bisa meringankan penyakit penyerta tersebut.

Baca Juga: Terkait Klaim Obat Covid-19 Temuan Hadi Pranoto, IDI Minta Masyarakat Kritis

Akhmad mengatakan, sebuah obat termasuk untuk Covid-19 harus melalui uji klinis dan izin edar dari Badan POM yang membuktikan bahwa produk tersebut aman, berkualitas, dan ada manfaat. Manfaat itu misalnya apakah bisa menurunkan gejala klinis, dan parameter pra klinisnya menjadi lebih baik dengan obat yang diujicobakan tersebut. Kemudian untuk keamanannya, tidak ada efek samping, seperti mengganggu fungsi hati dan ginjal.

Balitbangkes Kemenkes sendiri, menurut Akhmad, sudah mengembangkan 12 ramuan jamu saintifik yang sebenarnya bisa dipakai untuk menurunkan gejala penyakit penyerta Covid-19. Herbal sudah diteliti dibuktikan dengan data ilmiah baik untuk khasiat dan keamanannya. Herbal ini berkhasiat dan aman untuk dikonsumsi dengan dosis dan komposisi tertentu.

“Ada jamu-jamu yang aman dikonsumsi, karena sudah dipakai dari generasi ke generasi. Proses keamanan sudah diuji coba oleh nenek moyang kita sampai generasi sekarang. Artinya jamu ini secara empiris kita teruskan, karena sangat baik utk meningkatkan daya tahan tubuh,” kata Akhmad.

Dari 12 ramuan jamu tersebut ada yang berkhasiat untuk mengobati hipertensi ringan. Komposisinya seperti daun seledri, daun kumis kucing, pegagan, temulawak, rimpang kunyit dan herba meniran. Tiga bahan terakhir efektif sebagai analgetik dan imunomodulator untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Baca Juga: Klaim Obat Herbal Covid-19, Kemristek Imbau Masyarakat Hati-hati

Sedangkan untuk mencegah gula darah tinggi, komposisi herbalnya terdiri dari daun salam, herba sambiloto, kulit kayu manis, temulawak yang memiliki efek menurunkan gula darah atau sebagai antidiabetic.

Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekusor dan Zat Adiktif Badan POM, Togi Junice Hutadjulu juga menegaskan, sampai saat ini pengembangan obat belum ada yang bisa diklaim atau diindikasikan untuk pengobatan Covid-19. Tidak ada pula herbal yang bisa menyembuhkan Covid-19. Pengembangan obat dan vaksin sedang berlangsung sekarang, dan Badan POM mengawal produk ini nantinya aman digunakan.

Togi menambahkan, untuk memastikan sebuah obat aman dikonsumsi, Badan POM sudah mulai mengawalnya sejak dari awal pengembangan. Saat penelitian, akan dicari molekul apa yang nantinya digunakan oleh pengembang obat dan vaksin. Setelah ada molekulnya, masuk dalam pengujian laboratorium untuk menetapkan karakterisasi dan spesifkasinya.

Apabila sudah kelihatan ada potensi khasiat dan keamanannya, akan dipindah ke uji pra klinis pada hewan untuk membuktikan obat tersebut aman, lalu naik uji klinis atau uji pada manusia. Uji klinis sendiri ada tiga tahapan, yaitu uji keamanan, uji khasiatnya untuk memastikan efektifitasnya, dan tahap ketiga mengonfirmasi keamanan dan khasiatnya.

Khusus obat herbal, setelah melalui hasil evaluasi Badan POM berikan persetujuan dan nomor ijin edar. Dengan nomor ijin edar ini, herbal atau obat tradisional diberikan jaminan keamanan dan khasiat.

“Oleh karena itu, masyarakat harus berhati hati. Karena di masa pandemi ini banyak sekali tawaran atau klaim ada obat yang bisa menyembuhkan Covid-19 dengan harga murah dan sebagainya. Kita harapkan masyarakat jadi konsumen yang cerdas,” kata Togi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

JEC Targetkan 70.000 Kunjungan Pasien di 2020

JEC menghadirkan Klinik Utama Mata JEC-Orbita di Makassar, Sulawesi Selatan.

KESEHATAN | 5 Agustus 2020

Menkes Prioritaskan Penurunan Angka Stunting

Menurut Menkes, saat ini terdapat 10 provinsi yang memiliki tingkat prevalensi stunting tertinggi di Indonesia.

KESEHATAN | 5 Agustus 2020

Update Covid-19: Tambah 1.815, Kasus Positif di Indonesia Jadi 116.871

Penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 1.815 itu didapat dari pemeriksaan spesimen sebanyak 28.738.

KESEHATAN | 5 Agustus 2020

Cegah Covid-19, Wapres Minta Masyarakat Ikuti Fatwa Ulama

Ditegaskan Wapres, fatwa-fatwa tersebut baru dapat memberikan manfaat apabila adanya kepatuhan masyarakat untuk mematuhinya.

KESEHATAN | 5 Agustus 2020

Presiden: Pelayanan Ibu Hamil dan Balita Jangan Berhenti di Tengah Pandemi Covid-19

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pelayanan kesehatan ibu hamil dan balita di Puskesmas dan Posyandu tidak boleh berhenti di tengah pandemi virus corona.

KESEHATAN | 5 Agustus 2020

Jokowi Minta Penurunan Stunting Fokus di 10 Provinsi

Provinsi tersebut antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh.

KESEHATAN | 5 Agustus 2020

Tidak Mengenakan Masker, Masyarakat Bisa Kena Hukum

Sanksi kepada masyarakat yang tidak mengenakan masker dapat berupa denda atau sanksi administrasi.

KESEHATAN | 4 Agustus 2020

Rangkul Ibu-ibu PKK Berkampanye Masker untuk Menekan Penularan Covid-19

Kampanye masker tidak berdiri sendiri, harus ada koneksitas dengan yang lain.

KESEHATAN | 4 Agustus 2020

Bentuk Tim Audit, IDI Telusuri Kematian Dokter Selama Pandemi

PB IDI telah membentuk tim audit sesuai Surat Keputusan yang ditetapkan pada 20 Juli lalu.

KESEHATAN | 4 Agustus 2020

Satgas: Akhir Covid-19 Tidak Bisa Diprediksi

Belajar dari sejarah pandemi dunia, sejak dahulu tercatat bahwa lamanya waktu berlangsung bervariasi bergantung pada jenis sumber wabah tersebut.

KESEHATAN | 4 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS