Epidemiolog Prediksi Covid-19 Baru Terkendali di Akhir 2021
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Epidemiolog Prediksi Covid-19 Baru Terkendali di Akhir 2021

Jumat, 23 Oktober 2020 | 20:00 WIB
Oleh : Dina Manafe / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar epidemiologi memperkirakan pandemi Covid-19 belum berakhir dalam waktu dekat. Tanpa intervensi luar biasa diperkirakan virus ini baru bisa dikendalikan di akhir 2021 atau awal 2022 mendatang. Berdasarkan pemodelan epidemiologi Covid-19 yang dilakukan tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Covid-19 bisa terkendali di akhir 2021 apabila intervensi yang dilakukan, seperti testing, lacak, dan isolasi (TLI) serta protokol kesehatan ditingkatkan.

“Sampai 2021 kita masih hidup bersama Covid-19, belum terkendali. Kalau menurut pemodelan kami, baru akan mulai terkendali pada akhir 2021 dan awal 2022,” kata Iwan Ariawan, pakar epidemiologi dan juga salah satu anggota tim FKM UI tersebut pada webinar pembahasan proyeksi kasus Covid-19 dan evaluasi PSBB, Jumat (23/10/2020).

Menurut Iwan, perkiraan ini berdasarkan asumsi perubahan cakupan TLI maupun kepatuhan masyarakat terhadap 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Bila kondisi intervensi seperti sekarang di mana cakupan TLI dan kepatuhan 3M dalam kategori tinggi maka diperkirakan terjadi di bulan Mei 2021 dengan kasus positif di 2.000. Di akhir 2021 hingga awal 2022 kasus positif bisa mendekati angka nol, tidak ada lagi kasus berat atau kematian, dan jumlah tempat tidur Covid-19 mulai kosong. Tetapi bila cakupan TLI dan 3M sedang, maka puncak kasus pada Maret atau April 2021 dengan rata-rata kasus positif di atas 4.000. Setelah puncak, menurun drastis hingga di akhir 2021 sampai awal 2022 mulai terkendali, tetapi masih ada kasus meski sedikit.

Sebaliknya, bila mengabaikan virus ini, misalnya berperilaku seperti sebelum adanya Covid-19, maka pada puncak kasusnya akan jauh lebih tinggi bisa mencapai 6.000 di Januari 2021. Fasilitas kesehatan tidak akan sanggup menampung pasien yang butuh perawatan, dan angka kematian bisa jadi naik.

“Ini artinya kita masih lama untuk selesaikan wabah ini. Oleh karena itu kita harus buat rencana jangka panjang sampai 2022 untuk menangani Covid-19,” kata Iwan.

Iwan mengatakan, dalam pemodelan epidemiologi Covid-19 pihaknya menggunakan dua intervensi, yaitu dari cakupan TLI dan protokol kesehatan. Dari segi TLI, telaah literatur menunjukkan bila dilakukan dengan baik bisa menurunkan risiko infeksi atau penurunan kecepatan epidemi separuhnya. Jika testing atau pemeriksaan PCR banyak dilakukan tetapi acak, maka dampaknya terhadap penurunan epidemi sedikit. Tetapi kalau tes PCR banyak tetapi diikuti dengan tracing atau pelacakan kontak yang tepat, maka dampaknya besar menurunkan epidemi. Dari berbagai publikasi ilmiah menunjukkan jeda pelacakan tiga hari atau lebih kurang berdampak pada penurunan epidemi. Idealnya pelacakan dilakukan secepatnya atau kurang dari tiga hari sejak hasil konfrmasi positif dari laboratorium.

Kemudian dari sisi masyarakat, menurut Iwan, yang bisa dilakukan adalah patuhi protokol kesehatan. Bukti ilmiah menunjukkan perilaku cuci tangan pakai sabun turunkan risiko tertular 35% untuk Covid-19 dan SARS. Menggunakan masker kain turunkan risiko 45%, masker bedah sekitar 70%, dan jaga jarak 85%. PSBB seharusnya menurunkan jumlah kasus, karena di rumah saja dan jaga jarak.

Dari pemodelan yang dilakukan tim FKM UI juga menemukan bahwa pada saat PSBB transisi dilakukan di Indonesia, maka kecepatan penularannya adalah 0,11 sampai 0,12, yang artinya satu orang positif berisiko menularkan ke satu orang lain dalam waktu 11 sampai 12 hari. Pencabutan kebijakan PSBB harus diikuti dengan peningkatan TLI dan kepatuhan 3M. Faktanya ini cakupan kedua intervensi ini masih lemah.

Jumlah testing PCR, misalnya, jumlahnya terus meningkat, tetapi belum mencapai target WHO. Baru sekitar 703 tes per 1 juta penduduk atau 70,3% dari target WHO adalah 1.000 per 1 juta penduduk dalam seminggu.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kenali Cara Mudah Mengurangi Risiko Hipertensi

Diet rendah garam merupakan salah satu upaya esensial dan cukup mudah dilakukan untuk mengurangi risiko hipertensi.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Pentingnya Menjaga Daya Tahan Tubuh di Masa Pandemi

Konsumsi suplemen sebagai penunjang kesehatan juga sangat penting di masa pandemi Covid-19.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Pandu Riono: Belum Ada Vaksin yang Aman dan Siap Digunakan

Pandu meminta pemerintah untuk tidak menarasikan bahwa sudah ada vaksin yang efektif dan aman yang bisa diberikan kepada masyarakat Indonesia.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Pulau Jawa Masih Mendominasi Sebaran Kasus Baru Covid-19 Hari Ini

Empat provinsi terbanyak penyumbang kasus baru ada di DKI Jakarta (952 kasus), Jawa Tengah (571), Jawa Barat (504) dan Jawa Timur (295).

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Update Covid-19: Tambah 4.369, Kasus Positif di Indonesia Jadi 381.910

Penambahan sebanyak 4.369 kasus baru Covid-19 didapat berdasarkan pemeriksaan spesimen sebanyak 42.287.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

YLKI Dukung Rencana Kenaikan Cukai Rokok di 2021

Menurut Tulus, kenaikan cukai rokok justru menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Daewoong Raih Izin Edar Alat Uji Covid-19 di Indonesia

Alat uji ini telah memperoleh sertifikasi CE-IVD di Eropa pada Maret lalu.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Satgas : Ini Tahapan Pengembangan Vaksin Covid-19

Masyarakat diharapkan mendukung pemerintah secara penuh pengadaan vaksin dan vaksinasi.

KESEHATAN | 23 Oktober 2020

Media Sosial Jadi Rujukan Utama Informasi Nutrisi

Sebanyak 68 persen konsumen di Asia Pasifik menggunakan media sosialuntuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan nutrisi dan kesehatan.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Angka Covid-19 Anak di Indonesia Naik 100 Persen

Kasus Covid-19 pada anak di Indonesia naik 100 persen pada Oktober 2020.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS