Lindungi Anak dari Stunting Jadi Kunci Bangsa yang Berdaya Saing
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

Lindungi Anak dari Stunting Jadi Kunci Bangsa yang Berdaya Saing

Kamis, 13 Agustus 2020 | 18:29 WIB
Oleh : Iman Rahman Cahyadi / CAH

Jakarta, Beritasatu.com – Anak-anak merupakan modal bagi sebuah bangsa untuk berkembang dan memiiki daya saing dengan negara lainnya. Namun, stunting masih menjadi tantangan berat yang sampai saat ini dihadapi sekitar sepertiga dari anak-anak Indonesia, terlebih di masa pandemi.

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara yang berdaya saing, mengingat saat ini kita memiliki sekitar 80 juta anak Indonesia.

Dra. Lenny Nurhayanti Rosalin, M.Sc., Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak KMPPA, memaparkan setiap anak berhak memperoleh perlindungan dan hal tersebut diatur pada peraturan tingkat global hingga negara.

"Intervensi berupa pengasuhan adalah kewajiban dan tanggung jawab seluruh pihak terutama keluarga. Hal ini termasuk mengubah konsumsi rumah tangga yang kurang sehat seperti rokok menjadi makanan bergizi untuk anak, hingga memperbaiki sanitasi di lingkungan tempat tinggal," ujar Lenny Nurhayati dalam seminar online bertajuk "Lindungi Anak Stunting agar Terwujud Generasi Emas dan Indonesia Maju," pada Kamis (13/8/2020).

Baca Juga:Wapres Tegaskan Pentingnya ASI untuk Cegah Stunting

Pemenuhan nutrisi menjadi komponen yang penting, karena nutrisi sangat berperan dalam mempersiapkan kesehatan generasi unggul Indonesia. Maka dari itu, selain melakukan pencegahan stunting terhadap anak di bawah dua tahun yang sehat, intervensi gizi spesifik juga harus dilakukan kepada baduta yang terindikasi malnutrisi.

Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K). Guru Besar FKUI-RSCM, menerangkan ibarat prosesor komputer, otak manusia adalah hardware, maka stimulasi adalah software-nya. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk mencapai pembelajaran yang maksimal, dan sama-sama membutuhkan asupan nutrisi yang baik.

“Intervensi nutrisi yang paling dibutuhkan oleh anak berusia di bawah 2 tahun adalah protein hewani, bukan tumbuh-tumbuhan seperti daun kelor ataupun zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral,” ujar Prof Damayanti.

Pada anak, kondisi stunting akan menyebabkan perkembangan yang terlambat, fungsi kognitif yang menurun, serta kegagalan sistem imun. Sedangkan pada saat anak sudah dewasa, anak rentan mengalami obesitas, penyakit jantung, hipertensi, osteoporosis, dan penyakit degeneratif lainnya.

Baca Juga:Menkes Prioritaskan Penurunan Angka Stunting

“Orangtua harus memantau tumbuh kembang anak, mencari petugas kesehatan, dan mematuhi semua tata laksana kesehatan yang berlaku. Apabila tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan, segera ditangani dengan intervensi gizi, salah satunya seperti PKMK sesuai dengan rekomendasi dokter, dan jangan menunggu sampai stunting,” lanjut Prof Damayanti.

Pencegahan stunting membutuhkan komitmen masyarakat hingga tingkat desa. Dalam hal ini, Dinas Kesehatan di kabupaten/ kota yang menaungi Puskesmas berperan besar dalam melakukan pencegahan maupun intervensi gizi spesifik agar pencegahan stunting pada baduta tidak terlambat.

Stunting membutuhkan pendekatan multisektor pada masyarakat. Peran Dinas Kesehatan sendiri dimulai dari pencegahan di tingkat Keluarga, Posyandu, Puskesmas, hingga jika diperlukan Rumah Sakit,” ujar dr Mohamad Subuh MPPM, Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Indonesia.

Hal yang sama juga dipaparkan oleh Dr. dr. Tb. Rachmat Sentika SpA. MARS., Dokter Spesialis Anak dan Staf Ahli HIPPG yang menyatakan bahwa tindakan pencegahan stunting dimulai dari kedisiplinan pengukuran dasar seperti berat badan, tinggi badan, panjang badan, lingkar kepala, dan lainnya. Kemudian, dimasukkan ke dalam Buku KIA yang menjadi dasar alat pemantauan.

“Dari Buku KIA, kita bisa memulai tindakan deteksi dini dengan mempercepat skrining dan mengetahui tingkat risiko, hingga pengukuran diagnosis dini dan intervensi dini,” jelas dr. Rachmat.

Baca Juga:Jokowi Minta Penurunan Stunting Fokus di 10 Provinsi

Kerja sama antara pemerintah pusat hingga daerah, bahkan dengan sektro lain seperti lembaga kemasyarakatan maupun swasta, akan menjadi kunci penurunan prevalensi stunting yang ditargetkan menjadi 14 persen pada 2024. Hal ini dapat terwujud apabila kita mampu memperkuat upaya bersama untuk melindungi anak dari stunting, agar kita menjadi negara yang berdaya saing kuat di dunia internasional.

“Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pola asuh serta gizi yang benar dan cukup, agar dapat menjadi anak-anak cerdas dan unggul. Maka dari itu, kami menginisiasi diskusi ini untuk bersatu bersama dalam upaya penurunan angka stunting dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tutup Dr. drg. Widya Leksmanawati Habibie, Sp.Ort., MM., Direktur Eksekutif Habibie Institute of Public Policy and Governance Universitas Indonesia.



Sumber:BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Kepala BP2MI: ASN Harus Setia Terhadap Pancasila dan UUD 1945

Benny Rhamdani menegaskan bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) harus setia dan memegang teguh ideologi Pancasila dan UUD 1945.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Dijanjikan Anaknya Lolos Taruna Akpol, Polisi Tertipu Rp 1,3 Miliar

Aiptu Putu dijanjikan oleh pelaku IR bisa meloloskan anaknya masuk Taruna Akpol asal menyerahkan Rp 1 miliar.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Pemerintah Telah Bayarkan Rp 843 Miliar Insentif Tenaga Kesehatan

Hingga 11 Agustus 2020 pemerintah telah membayarkan lebih dari Rp 843 miliar untuk insentif tenaga kesehatan yang menangani Covid-19.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Pengadaan Tanah untuk Pembangunan Masih Terkendala, Ini Solusi Doktor Andriani

Perlu dikembangkan mekanisme pendanaan pengadaan tanah yang ditanggung sepenuhnya oleh badan usaha dalam skema KPBU.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Jarang Terbang, Pilot Maskapai Penerbangan Ini Terpaksa Jualan Mie Ayam

Megah mengaku sangat terbantu dari sisi ekonomi meski pekerjaan barunya menjual mie ayam itu sangat jauh berbeda dengan pekerjaannya sebagai seorang pilot.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Arief Poyuono: IDI Harus Bisa Buktikan Bukan ‘Kacung WHO’

Dengan melaporkan ke polisi bisa diartikan bahwa IDI memang tidak mampu membuktikan bahwa kritik itu salah.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Bupati Manggarai Diminta Tidak Lindungi Terduga Koruptor

Bupati Manggarai, NTT, Deno Kamelus diminta tidak melindung terduga mantan Kepala Desa Goloworok, Fransiskus Darius Syukur.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Penanganan Bahaya Karhutla dan Covid-19 Harus Berfokus pada Mitigasi

Pada 2020 bahaya karhutla kembali mengancam dan kali ini datang bersamaan dengan pandemi Covid-19.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Presiden Anugerahi Ahmad Muzani Bintang Jasa Utama

Politisi kelahiran Tegal, Jawa Tengah ini menyampaikan berterima kasih atas anugerah bintang jasa ini.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Gunung Sinabung Tiga Kali Erupsi dalam Sehari

Erupsi pertama Gunung Sinabung pada Kamis pagi sekitar pukul 06.07 WIB, dengan membentuk kolom abu vulkanik setinggi 1.000 meter.

NASIONAL | 13 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS