Desak Suksesi PSSI, KPSN Dorong AFC Pindahkan Perwakilan ke Indonesia

Desak Suksesi PSSI, KPSN Dorong AFC Pindahkan Perwakilan ke Indonesia
Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Sabtu, 9 Februari 2019 | 19:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sepakbola bisa dikatakan menjadi cabang olahraga paling populer di tanah air. Indonesia punya basis suporter sepakbola yang tergolong besar dan spesial di dunia. Ketua Komite Perubahan Sepakbola Nasional (KPSN) Suhendra Hadikuntono menyebut Indonesia punya potensi besar menggerakan ekonomi dari sepakbola.

Indikasinya, stadion selalu penuh saat klub-klub berlaga di level domestik maupun internasional.

Meski begitu, kehebatan itu masih dipandang sebelah mata karena Indonesia tidak punya prestasi yang cukup membanggakan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Kondisi ini diperparah dengan maraknya praktek pengaturan skor di sepakbola nasional. Situasi tersebut semakin memperburuk citra Indonesia di kancah global maupun Asia.

Menurut Suhendra, langkah pertama yang harus ditempuh buat memulihkan kepercayaan kepada sepakbola Indonesia bisa dimulai dengan memperbaiki organisasi federasi sepakbolanya (PSSI).

"Harus ada suksesi, reorganisasi penting di tubuh PSSI, jangan sampai orang itu lagi orang itu lagi yang ada. Perlu ada figur-figur baru yang punya kompetensi serta komitmen memajukan sepakbola nasional," kata Suhendra.

Lebih lanjut, revolusi di dalam tubuh PSSI bisa menjadi modal awal posisi tawar Indonesia agar Komite Sepakbola Asia (AFC) bersedia memindahkan kantor perwakilannya dari Malaysia ke Indonesia.

Wacana tersebut bukan tanpa alasan, fanatisme fans serta atmosfer luar biasa di tiap pertandingan merupakan aspek komersial yang sangat potensial.

"Jika ini sukses terjadinya Kongres Luar Biasa (KLB), dalam kesempatan pertama adalah memindahkan perwakilan AFC dari Malaysia ke Indonesia. Tak masuk akal kan jumlah penonton terbanyak di indonesia duitnya lari ke Malaysia," lanjut Suhendra.

"Karena ini ada potensi ekonomi yang besar, FIFA hanya memberikan sedikit sekali (dana) kepada Indonesia. FIFA tidak boleh lagi berpikir bahwa prestasi kita, tetapi juga harus berpikir bahwa kita adalah komunitas (sepakbola) terbesar di dunia," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com