Kelompok Suporter Berharap Laga Pembuka Liga 2 Berjalan Lancar dan Fair

Kelompok Suporter Berharap Laga Pembuka Liga 2 Berjalan Lancar dan Fair
Liga 2 ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Rabu, 29 Mei 2019 | 20:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perhelatan Liga 2 akan bergulir 22 Juni 2019 dengan menggelar laga pembuka antara Persik Kediri dan PSBS Biak di Stadion Brawijaya, Kediri, Jawa Timur. Kelompok suporter dari Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) berharap laga pembuka Liga 2 berlangsung aman dan lancar, tidak seperti laga pembuka Liga 1.

Ketua Umum PSTI Ignatius Indro menekankan pentingnya pertandingan berjalan fair sehingga tidak memicu potensi terjadinya kericuhan. “Kalau tidak ada fairness, maka tak ada jaminan tak akan rusuh,” ungkap Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Lebih lanjut Indro menyoroti sejumlah konflik kepentingan yang ada di tubuh PSSI. Menurutnya, hal itu rawan terhadap kelancaran dan sikap fair dalam sebuah pertandingan. Untuk diketahui Persik Kediri, sebagaimana Arema FC, adalah klub yang pernah menjadi milik Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Iwan Budianto.

“Kalau ada konflik kepentingan, sulit berharap pertandingan akan fair. Itulah yang bikin suporter muak dengan PSSI," jelasnya.

Indro juga menyoroti konflik kepentingan yang potensial melanda Dirk Soplanit selaku anggota Komite Eksekutif PSSI dan Direktur Interim PT LIB. “Sulit berharap fairness bila semua terlibat konflik kepentingan,” tegasnya.

Rangkap jabatan petinggi PSSI, kata Indro, jelas bertentangan dengan Pasal19 ayat (3) Statuta PSSI yang menyatakan, “Dalam keadaan apa pun, tidak ada pribadi kodrati atau badan hukum (termasuk induk perusahaan dan anak perusahaan) yang dapat mengontrol lebih dari satu klub atau lembaga terafiliasi yang keberlangsungannya dapat mengganggu integritas pertandingan atau kompetisi sepak bola.”

Pun, lanjut Indro, bertentangan dengan Statuta Federation of International Football Association (FIFA) yang selama ini didewa-dewakan PSSI bahkan dianggap semacam “kitab suci”, khususnya Pasal 18 ayat (2) yang melarang para petinggi federasi dan operator liga merangkap jabatan di klub; hal mana berpotensi menimbulkan konflik kepentingan seperti pengaturan skor atau match fixing. “Kalau selama ini mereka mengagung-agungkan FIFA, kenapa Pasal 18 ayat (2) Statuta FIFA tidak diterapkan?” tanyanya.

Menurut Indro, seharusnya mereka yang menjabat di federasi tidak ada kepemilikan saham di klub. Sebab, katanya, patut diduga terjadi pengaturan pertandingan yang menguntungkan kesebelasan miliknya.

Catatan media, saat ini ada sejumlah petinggi PSSI dan operator liga yang memiliki saham mayoritas di masing-masing klub, antara lain Iwan Budianto (Arema FC dan Persik Kediri), Glenn Sugita (Persib Bandung), Pieter Tanuri (Bali United) dan Yoyok Sukawi (PSIS Semarang).



Sumber: BeritaSatu.com