Serikat Buruh: Cuti Bersama Bukan Alasan Utama Produktivitas Rendah

Serikat Buruh: Cuti Bersama Bukan Alasan Utama Produktivitas Rendah
Demo buruh di Bekasi ( Foto: Investor Daily / MKL )
Shesar Andriawan / FMB Kamis, 8 Agustus 2013 | 22:44 WIB

Jakarta - Keluhan tentang terlalu banyaknya cuti bersama yang menyebabkan menurunnya produktivitas menurut Budi Wardoyo, Sekretaris Nasional Politik Rakyat dan Badan Kerja Harian Sekretariat Bersama Buruh, hanyalah sebuah pengalihan isu.

Baginya penurunan produktivitas lebih besar dipengaruhi hal lain di samping banyaknya cuti bersama. Berikut beberapa faktor yang disebutkannya saat dihubungi BeritaSatu.com via telepon, Kamis (8/8) :

"Pertama, mesin yang usianya sudah tua. Semakin tua maka kinerja mesin akan semakin turun. Dulu pernah ada program pemerintah untuk peremajaan mesin, namun tidak berhasil diwujudkan.

"Kedua, Infrastruktur belum bagus. Misalnya aja jalan yang berlubang penyebab macet. Itu kalau mau angkut barang ke Tanjung Priok kan jadi lama, jadi engga bisa memanfaatkan waktu dengan optimal.

Untuk yang ketiga, Budi mengatakan alasan sebenarnya produktivitas rendah adalah masih ketergantungan impor bahan baku.

"Yang sering terjadi selama ini kita mengekspor bahan entah, lalu di luar negeri diolah menjadi bahan setengah jadi, dan kita kemudian membelinya kembali. Sejak jaman kolonial Belanda kita ini punya kecenderungan untuk mengikuti tren pasar luar negeri. Misalnya dulu di Eropa rempah-rempah laku mahal, lalu kita di sini dijadikan pusat produksinya." kata Budi.

Budi menyebut pengusaha Indonesia tidak berani melawan kondisi ini. Jika ada yang bisa maka Indonesia bisa menciptakan pasar sendiri tanpa perlu tren luar negeri.

Ia juga melihat Indonesia tak perlu menambah jam kerja buruh.

"Di Indonesia sini jam kerja kita 40 jam per minggu, tapi di Jerman sana cuma 32 jam per minggu dan tetap bisa produktif. Contoh lain soal cuti, di Venezuela kalau saat pekerja perempuan melahirkan ia diberi cuti setahun dan juga diberi tunjangan sehingga bisa konsentrasi mengurus anak," ujarnya,

"Sementara di Indonesia palingan hanya sebulan. Jadi si anak terpaksa dititipkan ke saudara atau tempat penitipan. Hal ini juga bisa jadi beban buat ibunya."

Untuk meningkatkan produktivitas, Budi melihat para pekerja perlu memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dari kondisi sekarang.

"Kualitas pendidikan pekerja di Indonesia masih rendah. Kebanyakan dari mereka tak bisa mengakses pendidikan yang memadai. Rata-rata cuma lulusan SMP, yang SMA sedikit, apalagi diploma dan sarjana. Makin tinggi pendidikan nanti mereka makin mudah diajari banyak hal." tutur Budi.