Kemtan Gandeng TNI-AD Tingkatkan Produksi Kedelai

Kemtan Gandeng TNI-AD Tingkatkan Produksi Kedelai
Seorang pekerja menunjukan kedelai di Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti), Kudus, Jateng. ( Foto: ANTARA FOTO / ANTARA FOTO )
INA Kamis, 3 Juli 2014 | 07:51 WIB

Nganjuk - Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) terus melakukan perluasan tanam kedelai. Tahun 2014 ini kerjasama tersebut diharapkan mencapai seluas 340.000 hektare di 15 provinsi dan 115 Kabupaten.

"Pada kegiatan ini, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) diharapkan dapat melakukan pengawalan dan pendampingan bersama petugas teknis pertanian di lapangan hingga tanaman kedelai berhasil panen dengan baik," kata Menteri Pertanian, Suswono, pada Kegiatan Tanam Kedelai dan Panen Raya Padi di Desa Ketawang, Kecamatan Gondang, Nganjuk, Jawa Timur, Rabu (2/7) petang.

Mentan mengemukakan, kerjasama perluasan tanam dengan TNI-AD merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk mencapai swasembada dan swasembada berkelanjutan kedelai yang diharapkan dapat terwujud tahun ini.

Strategi lain yang dipilih adalah peningkatan produktivitas, optimasi pengelolaan lahan, dan penyempurnaan manajemen.

Sedangkan program yang akan diimplementasikan secara nasional tahun 2014 ini di antaranya adalah kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) kedelai seluas 77.500 hektare dan Perluasan Areal Tanam (PAT) kedelai seluas 340.000 hektare.

Mentan menjelaskan, kebutuhan kedelai dalam negeri setiap tahun rata-rata mencapai 1,9 juta ton biji kering. Sementara kemampuan produksi nasional baru mencapai 843.100 ton atau sekitar 44,4 persen.

Selama ini yang menjadi kendala, selain persoalan lahan, juga persoalan harga kedelai yang rendah di pasaran. Sehingga petani lebih memilih menanam jagung ketimbang kedelai.

"Tapi kini harga kedelai dijamin pemerintah, sehingga petani tidak perlu takut lagi menanam kedelai," kata Mentan.

Selama ini antara jagung dan kedelai saling berebut lahan. Pasalnya, lahan yang dipakai untuk menanam jagung, juga dipakai untuk menanam kedelai.

"Jadi jika produksi kedelai naik, produksi jagung turun. Begitu sebaliknya. Sehingga perlu lahan baru untuk kedelai agar tidak terjadi trade off antara jagung dan kedelai," imbuh Mentan. 

Sumber: Investor Daily