Inilah Dua Tragedi Sepakbola Amerika Latin pada Satu Bulan Terakhir

Inilah Dua Tragedi Sepakbola Amerika Latin pada Satu Bulan Terakhir
Warga menunggu informasi di depan pusat latihan klub elite Brasil yang bermarkas di Kota Rio de Janeiro, Flamengo setelah api melalap asrama para pemain muda klub yang menewaskan 10 orang, Jumat (8/2) pagi waktu setempat. ( Foto: AFP/Reuters )
Alexander Madji / AMA Senin, 11 Februari 2019 | 12:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam satu bulan terakhir, ada dua tragedi yang menimpa dunia pesepakbola Amerika Latin. Mulai dari hilanganya pesawat yang membawa pemain profesional asal Argentina Emiliano Sala dari Nantes ke Cardiff hingga terbakarnya asrama pemain di kompleks latihan klub legendaris Brasil di Kota Rio de Janeiro, Flamengo.

Dirangkum dari berbagai sumber, pesawat kecil yang membawa Emiliano Sala dari Nantes ke Cardiff hilang dari radar pada 20 Januari 2019 malam. Dalam peswat itu hanya ada dia bersama pilot David Ibbotson.

Pencarian pada satu pekan pertama tidak membuahkan hasil, hingga akhirnya. Kebijakan ini membuat keluarga Emiliano Sala menggalang dana supaya pencarian kembali dibuka. Sumbangan terkumpul cukup banyak, termasuk dari para pemain profesional seperti bek Arsenal asal Prancis, Laurent Koscielny.

Upaya ini kemudian membuahkan hasil. Pada Rabu (6/2) lalu, satu jenasah ditemukan reruntuhan pesawat di dasar laut dan regu penyelamat berhasil mengangkat jenasah itu dari dasar laut. Sehari kemudian, otoritas Inggris mengumumkan bahwa jenasah itu adalah Emiliano Sala. Temuan ini membuat pihak keluarga lega.

Baca juga: Jenazah Emiliano Sala Ditemukan, Keluarga Lega

Meski demikian, yang masih ditunggu hingga saat ini adalah nasib pilot David Ibbotson. Belum diketahui seperti apa nasibnya.

Tragedi kedua, adalah terbakarnya asrama para pemain muda Flamengo di kompleksi latihan klub yang berbasis di Kota Rio de Janeiro tersebut pada Jumat (8/2) pagi waktu setempat. Asrama ini dihuni para pemain muda yang masih berusia belasan tahun dan datang dari berbagai wilayah.

Api yang melalap asrama tersebut menewaskan 10 orang pemain muda Flamengo, beberapa lainnya mengalami cedera. Ada juga yang dalam kondisi kritis. Para korban sudah mulai dimakamkan pada Minggu (10/2) waktu setempat.

Seorang pemain muda klub itu, Felipe Cardoso yang lolos dari maut, kepada wartawan mengatakan, api yang menghanguskan asrama di kompleks latihan itu berawal dari kamarnya. “Api berawal dari pendingin ruangan. Melihat itu saya lari keluar. Puji Tuhan, saya bisa melarikan diri dan masih hidup,” kata pemuda yang bermain di posisi gelandang tim U-17 Flamengo.

Baca juga: Asrama Terbakar, 10 Pemain Muda Flamengo Tewas

Kejadian ini memunculkan rasa simpatik dari para pemain dan mantan pemain top dunia, terutama mereka yang berasal dari Brasil. Ucapan belasungkawa dan simpati disampaikan melalui berbagai platform media sosial.

Lucas Paqueta, misalnya. Pemain ini membela Flamengo sebelum dibeli AC Milan pada jendela transfer musim dingin 2019. Satu golnya ke gawang Cagliari saat Milan menang 3-0 pada Senin (11/2) dini hari WIB dipersembahkan untuk Flamengo. Selain sebagai ucapan terima kasih untuk klub itu juga bentuk simpatik atas tragedi yang menimpa para yuniornya.

“Adalah mimpi saya bisa bermain di klub seperti ini (AC Milan) dan lebih mengagumkan lagi bisa mencetak gol pertama di Serie A. Karena itu, saya sangat berterima aksih kepada Flamengo dan saya mempersembahkan gol ini untuk mereka,” kata Paqueta kepada Sky Sports.

Selain memunculkan simpatik, peristiwa naas ini menimbulkan protes, terutama dari pihak keluarga. Sebab, ternyata, para pemuda ini tidur di dalam konteiner yang disulap jadi tempat nginap. Meskipun, pihak klub tetap menilai, hunian itu sangat layak dan nyaman, meskipun otoritas Kota Rio de Janerio tidak memberikan izin untuk membangun tempat tinggal di lokasi tersebut.

“Bagaiman klub sepenting Flamengo membiarkan anak-anak tidur di konteiner? Tidak masuk akal. Pemerintah Brasil harus mengambil tindakan untuk menghentikan orang mati tanpa ada yang dihukum,” protes Johnny Vinicius saat penguburan keponakannya yang menjadi salah satu korban dalam tragedi ini, Christian Esmero (15 tahun), Minggu (10/2). Esmero berposisi sebagai penjaga gawang di klub itu.



Sumber: Suara Pembaruan