Tiongkok tetapkan Aturan Investasi ke Luar Negeri

Tiongkok tetapkan Aturan Investasi ke Luar Negeri
Presiden Tiongkok, Xi Jinping ( Foto: AFP/Andy Wong )
Happy Amanda Amalia / GOR Sabtu, 19 Agustus 2017 | 11:17 WIB

BEIJING – Pemerintah Tiongkok telah menerapkan secara eksplisit aturan untuk membatasi investasi keluar negeri dan meningkatkan kampanye perlawanan terhadap akuisisi aset-aset yang tak masuk akal di industri mulai dari real estat, perhotelan, hingga hiburan.

Dalam pernyataan yang disampaikan Dewan Pemerintah pada Jumat (18/8), otoritas Negeri Tirai Bambu itu menetapkan tiga kategori, yakni pelarangan, pembatasan, dan dianjurkan, dalam investasi ilegal di industri perjudian dan seks. Pemerintah juga mendorong perusahaan-perusahaan mendukung inisiatif ambisius negara Belt and Roadyang disokong oleh Presiden Xi Jinping.

Disebutkan juga dalam pernyataan bahwa sekarang investasi yang dilakukan dalam properti, hotel, perfilman, hiburan dan olahraga akan masuk dalam kategori pembatasan.Adapun sektor-sektor yang terbagi ke dalam tiga kategori, di mana kategori pertama melarang adanya investasi ilegal di bidang teknologi militer inti, perjudian, indutri seks, dan investasi yang bertentangan dengan keamanan nasional.

Kemudian dalam kategori kedua membatasi investasi di industri properti, perhotelan, perfilman, hiburan, olah raga, peralatan-peralatan yang sudah ketinggalan zaman,dan investasi yang bertentangan dengan standar lingkungan

Sedangkan kategori ketiga menganjurkan investasi dilakukan mencakup kerangka kerja Belt and Road, peningkatan standar-standar teknis, penelitian dan pengembangan Tiongkok, eksplorasi minyak dan pertambangan, pertanian dan perikanan.

“Perubahan besar terjadi dalam situasi internasional dan dalam negeri, dan perusahaan-perusahaan Tiongkok tidak hanya menghadapi peluang-peluang yang relatif baik melainkan juga berbagai risiko dan tantangan di dalam investasi luar negeri,” bunyi pernyataan Dewan Pemerintah, kabinet Tiongkok, seperti dikutip Bloomberg News, Jumat.

Tiongkok sendiri sudah memulai upaya-upaya untuk mengurangi leverage di pasar finansial dan menghilangkan risiko sistemik menjelang transisi kepemimpinan Partai Komunis di akhir tahun ini, seraya tetap waspada terhadap percepatan arus modal yang mengancam melemahkan mata uang negara.

Beberapa perusahaan negara yang terlihat paling agresif dalam melakukan kesepakatan adalah Anbang Insurance Group Co., Fosun International Ltd., Dalian Wanda Group Co., dan HNA Group Co. Namun, pada akhirnya, perusahaan-perusahaan itu terpaksa mengurangi investasinya di luar negeri atau menjual aset-asetnya di tengah tekanan peraturan.

Menurut Robin Xing, kepala ekonom Tiongkok dari Morgan Stanley, Hong Kong, perubahan terakhir adalah bagian dari paket kehati-hatian untuk mencegah lonjakan arus keluar modal di tengah penaikkan tingkat suku bunga The Fed lebih lanjut.

“Para pembuat kebijakan juga khawatir dengan potensi kerugian investasi dan risiko finansial terkait pengambilalihan ‘aset-aset rampasan’ – tindakan itu mungkin meniru yang dilakukan perusahaan-perusahaan Jepang pada akhir 1980-an,” ujarnya.

People’s Bank of China (PBoC) pun memberlakukan kontrol mengingat jumlah uang yang mengalir keluar tahun lalu mencapai US$ 816 miliar.



Sumber: Investor Daily