BI: 2020, Ekonomi Tumbuh di Atas 6%

BI: 2020, Ekonomi Tumbuh di Atas 6%
Ilustrasi Bank Indonesia ( Foto: The Jakarta Globe )
Kunradus Aliandu / GOR Selasa, 29 Agustus 2017 | 23:59 WIB

YOGYAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi bisa mencapai kisaran 6% pada 2020-2021 yang didukung oleh perbaikan kinerja investasi maupun ekspor.

"Tahun depan, (pertumbuhan) kita 5,1-5,5% terus naik ke 5,3-5,7% di 2019. Setelah itu mudah-mudahan bisa di atas 6% di 2020-2021," kata Asisten Gubernur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo, di Yogyakarta, Minggu (27/8).

Dody menjelaskan, pembangunan infrastruktur yang telah dicanangkan oleh pemerintah bisa memberikan dampak tidak langsung yang positif terhadap mesin investasi. Kinerja investasi yang membaik itu, dalam jangka menengah panjang, bisa membantu pencapaian ekonomi untuk tumbuh lepas dari angka 5% mulai 2019.

"Pengaruh pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu. Dalam hitungan kita, sekitar 2019, infrastruktur mulai memberikan kontribusi kepada pertumbuhan," ujarnya seperti dikutip Antara.

Selanjutnya, Dody memperkirakan kinerja investasi dalam jangka menengah panjang bisa tumbuh sesuai potensinya pada kisaran 6-7% atau lebih tinggi dari angka saat ini sebesar 5%.

Selain itu, upaya untuk mendorong produksi nasional yang berdaya saing bisa memperbaiki kinerja ekspor sehingga ikut memberikan kontribusi terhadap perekonomian."Ekspor dalam jangka menengah panjang bisa tumbuh rata-rata empat persen hingga 2020-2021," kata Dody.

Dalam dokumen Nota Keuangan dan RAPBN 2018, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada 2018 melalui dukungan konsumsi masyarakat yang terjaga, peningkatan investasi serta perbaikan kinerja ekspor dan impor.

Perkiraan angka itu berdasarkan proyeksi pembentukan modal tetap bruto (investasi) yang tumbuh pada 2018 sebesar 6,3%, konsumsi rumah tangga dan ekspor yang masingmasing mencapai 5,1%, impor 4,5%, dan konsumsi pemerintah 3,8%.

Inflasi Rendah
BI juga memperkirakan laju inflasi pada 2018 bisa dibawah 3,5% dengan catatan pemerintah tidak melakukan penyesuaian harga untuk komoditas yang harganya diatur pemerintah atau administered prices. "Angka proyeksi BI sedikit dibawah 3,5% untuk 2018," kata Dody.

Dia menjelaskan ekspektasi tingkat inflasi yang rendah tersebut bisa terjadi apabila pemerintah tidak melakukan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), tarif listrik maupun gas.

"Pemerintah telah menetapkan 2018 tidak ada kenaikan apa pun terkait BBM, listrik dan gas, artinya 2018 relatif cukup terkendali dari tekanan inflasi," katanya.

Selain itu, laju inflasi yang relatif terjaga dapat terwujud apabila pemerintah dan BI terus berkoordinasi untuk menahan inflasi dari bahan makanan (volatile food) pada 2018.

"Pemerintah dan BI terus berkoordinasi untuk menjaga inflasi pangan agar stabilitas kedepan berlanjut," kata Dody.

Sebelumnya, BI memperkirakan laju inflasi pada 2017 berada dalam kisaran 4% plus minus 1% dan 3,5% plus minus 1% pada 2018. Sedangkan pemerintah dalam APBN-P 2017 menetapkan asumsi laju inflasi sebesar 4,3%, setelah inflasi pada enam bulan pertama 2017 terdampak oleh penyesuaian tariff listrik 900 VA nonsubsidi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahun kalender Januari-Juli 2017 telah mencapai 2,6% dan inflasi dari tahun ke tahun (yoy) sebesar 3,88%. 



Sumber: Investor Daily