Pakar: Relaksasi Infrastruktur Bisa Atasi Pelemahan Rupiah

Pakar: Relaksasi Infrastruktur Bisa Atasi Pelemahan Rupiah
Pakar ekonomi internasional, President & Group Head Asean International Advocacy, Shanti Ramchand Shamdasani (Sumber: Gora Kunjana)
L Gora Kunjana / GOR Rabu, 5 September 2018 | 16:25 WIB

Jakarta - Untuk mengatasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah dan sudah menembus level Rp 15.000 per dolarnya Rabu (5/9), pemerintah perlu melakukan relaksasi proyek infrastruktur dan menggenjot sektor ekonomi riil.

Demikian dikemukakan Pakar ekonomi internasional, President & Group Head Asean International Advocacy, Shanti Ramchand Shamdasani kepada media di Jakarta, Rabu (5/9).

“Proyek infrastruktur yang belum dilaksanakan perlu dikaji ulang atau ditunda dan dananya dialihkan ke sektor riil,” kata Shanti Ramchand Shamdasani.

Menurut Shanti, dengan mengalirkan dana ke sektor riil ada perputaran uang yang pada akhirnya akan menguatkan posisi rupiah.

“Tiga megaproyek infrastruktur saja yang di-reschedule kita akan dapat dana besar untuk mengangkat sektor ekonomi riil sekaligus mengamankan rupiah,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur yang digenjot pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama empat tahun terakhir ini merupakan langkah yang tepat. Indonesia harus bisa mengejar ketertinggalan dari negara lain di bidang infrastruktur.

“Tetapi, harus diakui pula bahwa proyek infrastruktur itu telah membuat perekonomian Indonesia mengalami overheating. Kapasitas ekonomi tidak mampu mengimbangi pertumbuhan yang terus meningkat,” ujarnya.

Di samping menunda proyek infrastruktur, Shanti menilai, pemerintah perlu membuka keran impor secara selektif dan merenegosiasi ulang perdagangan dengan negara lain. “Transaksi perdagangan jangan menggunakan dolar. Dari dulu bolak-balik dolar yang bikin ulah. Harus ada kurs alternatif,” ujarnya.

Shanti menambahkan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling sedikit terdampak atas penguatan dolar. Ia pun memprediksikan bahwa rupiah hingga akhir tahun masih bisa bertahan di kisaran 14.700-15.000 per dolar AS.

Shanti melihat pada akhir tahun banyak warga Indonesia yang mengeluarkan uangnya (spending) untuk liburan. Selain itu, pada satu atau dua bulan ke depan masa kampanye partai politik, calon anggota legislatif (caleg), dan calon presiden (capres) juga dimulai.

“Akan ada spending yang lumayan besar menjelang akhir tahun ini. Bayangkan, berapa caleg dan partai yang akan mengeluarkan uang untuk kampanye. Akan ada perputaran uang. Ini yang penting,” ujarnya. (*)



Sumber: Investor Daily