Dampak Kepunahan Hiu Bagi Keseimbangan Ekosistem Laut

Dampak Kepunahan Hiu Bagi Keseimbangan Ekosistem Laut
Ilustrasi Hiu ( Foto: AFP )
Kharina Triananda Minggu, 9 Juni 2013 | 12:02 WIB

Jakarta - Isu berkurangnya populasi hiu di perairan dunia menjadi salah satu fokus WWF saat ini. WWF berinisiatif  mengumpulkan petisi yang hasilnya pada akhir Juni mendatang akan mereka berikan ke beberapa restoran yang menyediakan menu sirip hiu dan juga ke toko-toko ikan segar serta ke media massa yang turut mengambil peran dalam mempromosikan menu sirip hiu yang dikenal sangat mahal ini.

Menurut WWF saat ini masyarakat masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai fakta tentang hiu. Bahkan, banyak yang beranggapan bila punah, tidak akan berdampak buruk bagi ekosistem laut.

"Banyak yang beranggapan hiu memakan ikan-ikan yang lebih kecil dan membuat jumlah ikan-ikan tersebut berkurang. Padahal keberadaan hiu sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. Contoh simpel adalah hiu memakan ikan-ikan kecil yang sakit, karena yang sedang sakit pasti tidak gesit sehingga mudah ditangkap. Bila hiu punah, tentunya akan ada penyebaran penyakit di antara ikan-ikan tersebut," jelas Wahyu Teguh Prawira, Bycatch Officer WWF-Indonesia pada acara kampanye #SOSharks (Save Our Sharks) di Car Free Day, Jakarta, Minggu (9/6).

Dia juga menambahkan justru bila hiu punah maka tidak akan ada kontrol bagi pertumbuhan-pertumbuhan ikan besar yang memakan ikan-ikan kecil. Sehingga, ikan-ikan kecil itu akan punah juga.

"Hiu sendiri sebenarnya jumlahnya jauh lebih sedikit dari ikan-ikan lain. Dia hanya bereproduksi sekitar 8-10 tahun sekali dan menghasilkan anak yang tidak lebih dari 20 ekor. Itu juga belum tentu semuanya hidup," tambahnya.

Teguh mengatakan saat ini nelayan yang berhasil membawa pulang 7 ekor hiu dalam sehari itu sudah sangat beruntung. Padahal sekitar tahun 1990-an nelayang bisa membawa puluhan ekor dalam sehari.

"Populasinya sangat mengkhawatirkan. Bahkan karena jumlahnya yang sudah sedikit banyak nelayan yang menangkap bayi hiu untuk mengambil siripnya saja dan badannya dibuang lagi ke laut," imbuh Wahyu.

Menurutnya hiu martil yang saat ini paling mahal harga siripnya, namun sudah jarang ditemukan karena hampir punah. Sirip termahal setelah martil adalah hiu cokelat. "Harganya ditentukan dengan ukuran dan dari jenis hiunya sendiri," jelasnya.

"Kenyataan yang ada di lapangan saat saya tugas di sekitar laut Halmahera, ditemukan bahwa para nelayan bisa dapat 10 karung lebih dalam waktu 45 hari. Dalam satu karung isinya bisa mencapai 40-50 buah untuk yang ukuran besar," tambah Wahyu.

Dia juga mengatakan bahwa dengan kenyataan itu tidak mengherankan bila Indonesia dalam 10 tahun terakhir ini menduduki posisi pertama dalam isu penangkapan hiu dari hasil penelitian.