Sensor Internet Jadi Sorotan Para Blogger

Sensor Internet Jadi Sorotan Para Blogger
Ilustrasi pengguna internet. ( Foto: AFP Photo/Philippe Huguen )
/ WBP Senin, 5 Desember 2011 | 06:25 WIB
Beberapa politisi dan menteri di Singapura memanfaatkan situs jejaring sosial dan mempunyai akun di Facebook untuk menjawab pertanyaan dari masyarakat

Pemerintah suatu negara tidak perlu melakukan sensor di Internet bila mereka dapat membina hubungan baik dengan warganya di dunia maya, ujar seorang blogger dari Singapura.

"Bila suatu pemerintahan percaya diri dalam mengelola wilayahnya dengan baik di Internet, mereka akan punya komunikasi yang lebih baik dengan warganya di dunia maya dan tidak perlu lagi melakukan sensor," ujar Zheng "William" Wei, dalam sebuah perbincangan mengenai lanskap dunia digital di Asia Tenggara yang diadakan oleh pusat kebudayaan Amerika, @america, Minggu (4/12).

Namun isu mengenai sensor dunia maya, ujar William, tidak lagi menjadi hal yang hangat dibicarakan di Singapura.  "Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana seseorang bisa mempunyai perilaku berinternet yang bertanggungjawab," kata William.

Blogger dari Filipina, Flow Galindez juga menyatakan hal yang sama, bahwa di pemerintah di negaranya tidak menyensor Internet.

"Hal yang disosialisasikan sekarang adalah konsep untuk berpikir sebelum mengklik [informasi di Internet] bagi para blogger," ujar Flow, merujuk pada imbauan bagi pengguna Internet untuk berhati-hati dengan tulisannya di dunia maya dan situs jejaring sosial yang bisa merugikan dirinya ataupun orang lain.

Penyensoran terhadap konten di Internet juga tidak ada di Malaysia, ujar Marcus van Geyzel, seorang blogger dan pengacara dari Malaysia. "Satu hal yang menjadi masalah dengan penggunaan situs jejaring sosial di Malaysia adalah pencemaran nama baik individu," ujar Marcus.

Dengan perkembangan penggunaan situs jejaring sosial yang seperti itu, William menambahkan sekarang ini mulai banyak muncul imbauan di Internet bagi untuk menggunakan identitas asli bagi pengguna Internet dan pemilik akun di situs jejaring sosial.
 
"Dengan menggunakan nama aslinya, pengguna Internet akan lebih bertanggung jawab dan berhati-hati untuk mengatakan sesuatu di Internet," ujar William, yang juga berprofesi sebagai redaktur di perusahaan media Singapore Press Holdings.

Di Singapura sendiri, masyarakatnya sangat adaptif dalam penggunaan situs jejaring sosial berbasis Internet terutama dalam pemilihan umum bulan Mei lalu.

"Beberapa politisi dan menteri juga memanfaatkan keberadaan situs jejaring sosial dan mempunyai akun di Facebook, bahkan beberapa menteri menggunakannya untuk menjawab pertanyaan dari warga saat tengah malam," ujar William,  sambil menambahkan bahwa walaupun jumlah pengguna Internet di Asia Tenggara terus bertambah, sebagian besar populasi di ASEAN masih belum terhubung dengan Internet.

Hal ini juga diungkapkan oleh blogger dari Laos, Sounay Photisane, yang mengatakan bahwa infrastruktur teknologi informasi di negaranya masih belum baik dan hanya berfungsi bagus di kota besar seperti di ibukotanya, Vientiane.

"Jurang digital [digital divide] di ASEAN sangat besar, karena itu blogger di ASEAN harus bisa menyuarakan mereka yang suaranya tidak terdengar, seperti petani yang menghadapi masalah dengan sawahnya," ujar William.

Iman Usman, blogger dari Indonesia menambahkan bahwa hal itu menunjukkan komunitas dunia maya mempunyai peran untuk menyuarakan suatu isu dan menginformasikan masyarakat mengenai suatu kebijakan pemerintah yang berdampak pada kehidupan mereka.

"Apa yang sedang terjadi di dunia maya mencerminkan apa yang sedang terjadi di dunia nyata," ujar Iman.