Eceng Gondok Jadi Pakan Ikan Murah dan Berkualitas

Eceng Gondok Jadi Pakan Ikan Murah dan Berkualitas
Petugas membersihkan tanaman eceng gondok menggunakan kapal sampah di Kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Rorotan, Jakarta Timur. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao / Joanito De Saojoao )
/ HS Minggu, 30 Agustus 2015 | 06:25 WIB

Sukabumi - Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi mengembangkan pakan ikan murah tetapi berkualitas di tengah melambungnya harga pakan atau pelet yang disebabkan melonjaknya bahan baku. Salah satu yang dikembangkan adalah eceng gondok bisa karena memiliki kandungan protein yang cukup. 

"Kami mencari formulasi untuk menciptakan pakan ikan yang murah tetapi memiliki kandungan gizi yang tinggi dan berkualitas," kata Kepala BBPBAT Sukabumi Sarifin di Sukabumi, Sabtu (29/8).

Menurut dia, inovasi terbaru yang ditemukan oleh para ahli perikanan di BBPBAT Sukabumi adalah pakan ikan dengan bahan baku dari eceng gondok. Biasanya tanaman ini selalu dianggap hama dan limbah oleh pembudidaya karena pertumbuhannya yang cepat sehingga mengganggu budidaya ikan.

Namun, setelah dilakukan berbagai penelitian, ternyata kandungan protein eceng gondok yang telah dikeringkan mencapai 13 persen atau lebih tinggi dari dedak yang juga merupakan bahan utama pembuatan pakan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan eceng gondok bisa menggantikan tepung ikan yang selama ini masih ekspor.

"Untuk sementara, dari hasil penelitian pakan yang bahan bakunya dari eceng gondok tersebut cocok untuk ikan herbivora dan omnivora seperti ikan mas, nila, dan lele," tambahnya.

Sarifin mengatakan keunggulan lainnya pakan ini mampu merangsang nafsu makan ikan sehingga mempercepat pertumbuhannya.
Dari hasil hitungan sementara, pakan ikan dari eceng gondok rencananya dijual hanya dengan harga Rp 5.000/kg atau jauh lebih murah dari pakan pada umumnya yang mencapai Rp 15.000/kg.

Bahkan, penggunaan eceng gondok ini juga mempunyai efek simbiosis mutualisme, karena BBPBAT siap menerima eceng gondok dari masyarakat dengan harga Rp 1.000/kg dalam kondisi kering. Sehingga, tanaman yang selama ini dianggap limbah atau hama, juga menghasilkan pemasukan untuk masyarakat.

Sumber: Antara