Jakpro Gandeng BPPT Bangun Pengolahan Sampah Terpadu

Jakpro Gandeng BPPT Bangun Pengolahan Sampah Terpadu
PT Jakarta Propertindo dan BPPT melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) mengenai kajian dan penerapan teknologi dalam mendukung pembangunan kota Jakarta. Khususnya di bidang pengolahan sampah dengan teknologi yang terbarukan. ( Foto: Beritasatu.com/Lenny Tristia Tambun )
Lenny Tristia Tambun / FER Selasa, 28 Juni 2016 | 18:07 WIB

Jakarta - Untuk membangun Intermediate Treatment Facility (ITF) atau Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dalam kota dengan teknologi incinerator yang tepat, PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

PT Jakpro dan BPPT hari ini melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) mengenai kajian dan penerapan teknologi dalam mendukung pembangunan kota Jakarta. Khususnya di bidang pengolahan sampah dengan teknologi yang terbarukan.

Sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU tersebut, kedua instansi ini telah menandatangani kontrak kerja sama untuk pekerjaan asistensi dan evaluasi feasivility ITF.

Dalam kontrak kerja sama tersebut, Jakpro memberikan kewenangan penuh kepada BPPT untuk melakukan pekerjaan pendampingan dalam evaluasi analisa kelayakan proyek pembangunan dan pengolahan sampah dalam kota di DKI Jakarta.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan, pihaknya akan membantu Jakpro untuk mengkaji teknologi yang dapat mengolah sampah dengan cepat tanpa memerlukan lahan yang terlalu luas. Tetapi teknologi itu harus mengedepankan teknologi ramah lingkungan.

"Kami akan merekomendasikan teknologi yang menggunakan proses thermal. Dengan proses ini, timbunan limbah padat (sampah) dalam jumlah besar dapat diubah menjadi panas yang kemudian dikonversikan menjadi energi dalam bentuk energi listrik," kata Unggul di dalam acara penandatanganan MoU di gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (28/6).

Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Rudi Nugroho, menerangkan dua keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan proses tersebut. Pertama, sampah dengan jumlah besar dapat dihabiskan dengan singkat.

Kedua, diperoleh energi listrik yang dapat dimanfaatkan, baik untuk mendukung memproses kembali limbah padat maupun untuk digunakan oleh masyarakat.

"Teknologi pengolahan sampah dengan proses thermal, saat ini dipandang paling efektif dan telah banyak digunakan oleh sebagian besar negara maju. Seperti Jepang, Singapura, Perancis, Austria, Finlandia," kata Rudi.

Negara-negara maju tersebut menggunakan teknologi incinerator untuk pengolahan sampah. Dan lebih dari 70 persen pengguna teknologi incenerator telah mengkonversikan panas yang dihasilkan untuk selanjutnya diubah menjadi energi listrik.

Karena jenis teknologi incinerator cukup banyak, maka BPPT akan melakukan kajian untuk menentukan jenis teknologi incenerator yang paling tepat diterapkan di Jakarta.

Direktur Utama PT Jakpro, Satya Heragandhi, mengungkapkan, kerjasama dengan BPPT untuk membantu pihaknya memilih teknologi yang tepat untuk digunakan dalam ITF.

Apalagi saat ini, sudah ada 96 proposal teknologi sampah yang ditawarkan pihak swasta. Karena tak ingin memilih sembarangan, ia ingin menyerahkan pemilihan teknologi ke tangan instansi yang bergerak di bidang teknologi yaitu BPPT.

"BPPT akan memberikan pendampingan kepada Jakpro. Pendampingannya dalam hal proses evaluasi analisa kelayakan proyek pembangunan dan pengelolaan sampah dalam kota DKI Jakarta," kata Satya.

Pihaknya berharap dalam waktu beberapa bulan ke depan sudah ada minimal satu ITF yang telah terbangun sebagai proyek percontohan, sehingga dapat menjadi trigger daerah lain maupun swasta lain untuk berperan serta.

Sumber: BeritaSatu.com