Keamanan Data Harus Jadi Prioritas di Era Big Data

Keamanan Data Harus Jadi Prioritas di Era Big Data
Ilustrasi kejahatan cyber ( Foto: www.it-security-blog.com / www.it-security-blog.com )
Imam Suhartadi / IS Jumat, 9 Desember 2016 | 22:00 WIB

Jakarta - Di era big data seperti sekarang ini, sikap kehati-hatian yang diiringi dengan langkah check and recheck menjadi sebuah keharusan yang mesti dilakukan para pengguna internet. Tak hanya perorangan, hal ini berlaku juga bagi mereka yang berkecimpung di bagian Teknologi Informasi (TI) sebuah perusahaan.

Pasalnya, ancaman terhadap penggunaan Internet dan semua konektivitasnya meningkat seiring meningkatnya penetrasi penggunaan Internet. Biaya yang timbul dari kerugian akibat pencurian data dan informasi penting baik milik perorangan, pemerintah dan swasta sangat besar, bisa mencapai sepuluh kali lipat.

Apalagi saat ini bermunculan tren dimana perusahaan menjadi lebih bergantung pada cloud untuk meningkatkan kolaborasi dan fleksibilitas serta membuat transformasi digital menjadi lebih mudah.

Meski demikian, keamanan data tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, pentingnya kebijakan dan privasi menjadi dua hal yang tidak bisa dikesampingkan. “Data tentu saja harus aman tersimpan, tetapi bentuk keamanannya juga harus mampu menjaga privasi pemilik data,” kata Senior Vice President Symantec for Asia Pacific and Japan, Sanjay Rohatgi dalam acara diskusi media di Jakarta, beberapa waktu.

Dia tak memungkiri bahwa keamanan sistem cloud saat ini telah menjadi perbicangan hangat di kalangan enterprise.

“Keamanan cloud sangat kritikal saat ini. Alasannya, banyak perusahaan yang menggunakan aplikasi cloud, seperti Saleforce.com, Office 365, atau Dropbox, butuh keamanan agar data tidak bocor,” kata Sanjay.

Sistem keamanan pada cloud memang tak bisa lepas dari tiga hal, yakni orang yang menjalankan, kebijakan, dan privasi. Ketiganya akan menjadi kunci dan benteng kokoh bagi platform cloud.

“Ketiganya harus bersinergi. Apabila salah satunya tidak terpenuhi, sistem keamanan akan goyah,” ujar Sanjay.

Pernyataan Sanjay tak berlebihan mengingat kondisi ini seperti terungkap dalam Symantec Internet Security Threat Report (ISTR) Volume 21 yang menyebutkan bahwa jumlah kerentanan zero-day ditemukan meningkat 125% atau dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi 54 kali. Dengan kata lain, satu kerentanan zero-day baru ditemukan setiap minggunya (secara rata-rata) pada 2015.

Bahkan menurut Blue Coat Elastica Shadow Data Report baru-baru ini, 23% dari semua file dalam aplikasi cloud secara luas dibagikan, dan 12% dari file tersebut mengandung data yang sensitif dan yang terkait dengan kepatuhan.

“Biasanya perusahaan menggunakan berbagai solusi dan banyak alat keamanan siloed yang tidak dapat melindungi semua data sensitif, sehingga menciptakan celah keamanan dan membuka pintu untuk kebocoran dan serangan,” ujar Sanjay.

Kondisi ini semakin miris dengan adanya tren penggunaan cloud yang ternyata akan mempengaruhi beberapa teknologi lainnya, di antaranya Bring Your Own Device (BYOD) dan Internet of Things (IoT). Sanjay memaparkan bahwa kedua teknologi itu membuat data bisa diakses tanpa melihat tempat dan waktu.

Tentu saja, hal ini membuat semakin sulit bagi Chief Information Security Officers (CISOs) untuk melacak, mempertahankan kepatuhan dan mengamankan data sensitif perusahaan karena mereka mengalir di antara sistem lokal, aplikasi ponsel dan layanan cloud. Data ini mungkin mencakup catatan pribadi, informasi kesehatan atau arsip pembayaran yang dilindungi.

“Ini menambah risiko pembobolan data lebih besar sehingga menguntungkan penjahat siber. Tantangan besar dan berat bagi perusahaan dalam melindungi data. Kondisi ini sangat dibutuhkan sistem keamanan berlapis dan harus bersifat end point. Siap atau tidak, seluruh sumber daya perusahaan harus mempelajari mengenai serangan siber,” kata Sanjay.

Sanjay menjelaskan, perusahaan besar di Indonesia sejak dulu memang sudah menunjukkan kepedulian terhadap keamanan sistem komputasi.

Namun, level kepeduliannya masih berada di tingkat rendah, berbeda dengan negara berkembang lain. Padahal, menggunakan cloud tidak hanya fokus bertransformasi saja, tetapi perlu memikirkan efeknya terhadap big data.





Sumber: Investor Daily