Ada 65 Juta Pengguna Internet di Indonesia Tahun 2012

Ada 65 Juta Pengguna Internet di Indonesia Tahun 2012
Mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang, sedang menikmati program internet di lingkungan kampus mereka tanpa melalui sambungan kabel. Survei APJII 2012 menyebutkan ada 65 juta pengguna internet di Indonesia. ( Foto: Suara Pembaruan )
Rabu, 12 Desember 2012 | 14:25 WIB
65 juta pengguna internet di Indonesia. Sayang masih belum merata di seluruh pelosok Indonesia.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melakukan survei pengguna dan penggunaan internet di Indonesia tahun 2012. Survei yang dilakukan April-Juli 2012 di 42 kota dan 31 provinsi itu terungkap bahwa penetrasi pengguna internet di seluruh wilayah perkotaan Indonesia telah mencapai 24.23%.

"Dengan menggunakan angka penetrasi urban ini kita peroleh jumlah total pengguna internet di seluruh Indonesia adalah 63 juta pengguna internet. Angka sebesar itu jelas merupakan potensi yang luar biasa, katakanlah jika dibandingkan dengan negara-­‐negara di kawasan Asia Tenggara, bahkan Australia sekalipun. Namun potensi ini sendiri belum tergarap secara merata se-­‐Indonesia, setidaknya jika dilihat dari sisi operator atau penyelenggara jasa internet di Indonesia saat ini, yang umumnya beroperasi dengan orientasi di Jakarta atau Pulau Jawa," tulis APJII dalam rilis surveinya baru-baru ini.

Dilihat per kelompok usia, angka pengguna Internet didominasi oleh pengguna yang berusia muda pada rentang usia 12-­‐34 tahun yang mencapai total 64.2%, dengan pengguna internet tertinggi pada kelompok usia 20-­‐24 tahun yang mencapai 15.1% dari populasi. Pengguna internet yang berada pada usia dibawah 34 tahun ini disebut sebagai digital natives, yaitu generasi yang lahir dan hidup dalam era internet yang serba terdigitalisasi dan terkoneksi.

Kalangan ini cenderung membentuk tren di dunia maya. Mereka sudah sangat “melek internet” dan secara intuitif dapat mengoperasikan berbagai perangkat gadget dengan mudah karena sudah terbiasa menggunakannya sejak kecil.

Sementara pengguna internet yang berusia diatas 34 tahun ini disebut sebagai digital immigrants yaitu generasi yang mengenal dunia internet saat mereka dewasa. Para digital immigrants ini kerap merasa harus selalu belajar menyesuaikan diri untuk mengoperasikan gadget, membuat dan menggunakan berbagai perangkat gadget, bagaimana menggunakan e-­‐mail dan jejaring sosial, dan tidak mudah untuk berganti-­‐ganti platform perangkat lunak. Proses adaptasi menjadi pengguna internet pada kelompok ini berlangsung “terlambat” dibanding para digital natives yang mengenyam teknologi sejak dini.

Survei ini juga menunjukkan bahwa mayoritas (65%) pengguna internet Indonesia lebih sering terkoneksi dengan internet melalui ponsel mereka. Meningkatnya akses internet secara mobile ini tak pelak didorong semakin banyaknya ponsel pintar dengan harga yang kian terjangkau di pasaran dan biaya akses yang juga kian ekonomis. Namun ini sama sekali tidak meniadakan penggunaan internet fixed melalui kabel atau jaringan wifi atau wimax.

Sebab, meski pengguna internet lebih kerap melakukan update jejaring sosial mereka secara mobile, mereka tetap membutuhkan akses yang lebih stabil dan lebih besar untuk mengunggah atau mengunduh file-­‐file multimedia seperti video dan musik berukuran besar.
Oleh sebab itu, peluang dan sekaligus tantangan bagi penyelenggara jasa internet di Indonesia ke depannya adalah mengupayakan akses internet baik mobile maupun terutama fixed yang semakin cepat, semakin besar kapasitasnya, semakin murah, dan semakin andal.
Terlebih di luar Pulau Jawa, ketika teknologi nirkabel seperti wimax lebih mampu mengatasi hambatan kondisi alam dan geografis.

Jangkauan survei yang menjaring responden dari ujung Banda Aceh hingga ke Jayapura ini menunjukkan, internet kian menjadi kebutuhan komunikasi data yang semakin penting dalam aktivitas sehari-­‐hari masyarakat. Karena itulah, bagi pengguna yang berada di berbagai daerah yang jauh dari Jakarta ini, coverage dengan kualitas yang cepat dan andal ini tak pelak menjadi tumpuan yang diharapkan bisa menjadi pemacu geliat pembangunan daerah.

Namun melihat peluang dan tantangan secara coverage saja tentulah kurang bijak, tanpa mempedulikan kualitas. Sebab, semakin meluasnya penggunaan internet di seluruh Indonesia telah mendorong lonjakan jumlah subscriber yang dialami semua operator, baik selular, kabel, maupun nirkabel dan membuat kapasitas jaringan kian padat. Hasil survei menunjukkan bahwa konsumen semakin sensitif dengan kualitas jaringan. Hal ini sesungguhnya adalah tantangan bagi penyelenggara jasa internet di Indonesia.

Meningkatnya trafik data akan memunculkan masalah dalam menjaga quality of service bagi pengguna internet. Besarnya jumlah pelanggan yang terpaksa berdesakan memperebutkan jalur koneksi menuju awan internet berpotensi meluruhkan loyalitas mereka yang acapkali gagal mendapatkan koneksi ataupun terkoneksi namun dengan kecepatan akses yang lambat. Konsekuensi jika kualitas diabaikan adalah risiko berpindahnya konsumen. Sebab tak pelak, kualitas jaringan seperti kecepatan akses dan kestabilan koneksi, merupakan faktor pertimbangan penting bagi konsumen dalam memilih sebuah operator jasa internet, di samping harga yang terjangkau tentunya.