Selamatkan Nasib Anak Putus Sekolah di NTT
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.34)   |   COMPOSITE 5112.19 (31.86)   |   DBX 973.986 (8.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.48)   |   IDX30 428.304 (2.58)   |   IDX80 113.764 (0.56)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.17)   |   IDXG30 119.182 (0.2)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.03)   |   IDXQ30 124.656 (0.92)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.7)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (-0.32)   |   IDXV30 107.478 (0.14)   |   INFOBANK15 831.648 (11.11)   |   Investor33 374.125 (2.2)   |   ISSI 151.171 (0.09)   |   JII 550.867 (-0.37)   |   JII70 188.056 (-0.11)   |   KOMPAS100 1022.34 (4.05)   |   LQ45 789.815 (4.4)   |   MBX 1412.7 (8.24)   |   MNC36 280.331 (1.41)   |   PEFINDO25 282.464 (2.47)   |   SMInfra18 241.575 (1.13)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.46)   |  

Polikarpus Do

Selamatkan Nasib Anak Putus Sekolah di NTT

Selasa, 10 September 2019 | 14:13 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bintang Flobamora asal Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meraih penghargaan sebagai PKBM Nasional Terbaik Pertama Se-Indonesia dalam ajang Apresiasi Kelembagaan PKBM Terbaik Nasional Tahun 2019.

Ketua PKBM Bintang Flobamora, Polikarpus Do (37) mengatakan, menjadi terbaik bukan hal yang mudah. Semua ini tercapai berkat perjuangannya sejak 2013 mendatangi kantong-kantong anak putus sekolah dan mengajak mereka untuk kembali bersekolah melalui pendidikan nonformal atau kejar paket A, B, dan C yang setara dengan pendidikan formal SD, SMP, dan SMA.

“Mereka sudah biasa berkelana bebas dan untuk mengajak mereka kembali butuh perjuangan dengan pendekatan yang meyakinkan mereka layaknya orang lagi melakukan pendekatan dalam pacaran,” kata lulusan Seminari CICM Makassar ini saat berbincang-bincang dengan SP, usai Puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2019 di Lapangan Karebosi Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), akhir pekan lalu.

Poli menuturkan, tingginya angka putus sekolah di NTT bukan dikarenakan tidak ada sarana dan prasarana (sarpras) seperti ketersediaan gedung sekolah, akan tetapi disebabkan oleh faktor lain seperti ekonomi, sosial, dan budaya setempat. Penyebab lainnya adalah, masyarakat yang belum teredukasi akan pentingnya pendidikan di abad 21 ini.

Dengan demikian, butuh kesabaran untuk kembali mengajak dan membujuk anak putus sekolah menjadi warga binaan PKBM Bintang Flobamora. Poli mengaku menggunakan strategi jemput bola, yakni mendatangi orang tua dari anak putus sekolah untuk memberi pemahaman akan pentingnya pendidikan. Pasalnya, pada umumnya masyarakat belum semuanya menjadikan sekolah sebagai bagian dari kebutuhan.

“Saya sangat prihatin terhadap masalah pendidikan di NTT yang secara kasat mata, hampir sebagian besar masyarakatnya putus sekolah dengan berbagai alasan berbeda. Saya dirikan PKBM ini untuk mengusung semangat pengabdian. PKBM yang lahir dari masyarakat ini berusaha melayani yang tak terjangkau dan menjangkau yang tak terlayani. Jadi kita harus datangi orang tuanya dan membujuk anak ini kembali ke sekolah. Masyarakat ini sudah terpola, mereka merasa sudah nyaman dengan kondisi saat ini dan beranggapan, buat apalagi melanjutkan pendidikan. Jadi penting sekali semua pihak melakukan edukasi kepada masyarakat,” terang Poli.

Selanjutnya, ketua Pengurus Wilayah Forum Taman Baca NTT ini juga menuturkan, khusus untuk mengakomodasi anak putus sekolah di usia sekolah, PKBM Flobamora memiliki program khusus untuk mengajak anak kembali melanjutkan sekolah di pendidikan nonformal atau sekolah paket melalui Gerakan Kembali Sekolah (GKS).

Poli menyebutkan, berdasarkan data pokok pendidikan (dapodik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), PKBM Bintang Flobamora memiliki 461 warga belajar usia sekolah. Tentu jumlah ini masih sangat sedikit mengingat angka putus sekolah sangat tinggi di NTT.

Poli menuturkan, GKS sukses membuahkan hasil karena anak-anak lulusan Paket C ini banyak diterima di perguruan tinggi terbaik di NTT. Bahkan sebagai besar berhasil diterima di Universitas Nusa Cendana (Undana) melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).

Buta Aksara
Selanjutnya, Poli menuturkan, apabila anak tersebut tidak melanjutkan pendidikan ke PTN atau warga binaan usia lanjut yang berasal dari keluarga tidak mampu, PKBM Bintang Flobamora juga mencerdaskan masyarakat melalui berbagai strategis pengembangan. Salah satunya adalah fokus pada pendidikan vokasi seperti keterampilan, industri rumah tangga, hingga pengembangan koperasi untuk membantu warga binaan hidup terampil menjadi SDM yang unggul. Untuk itu, lulusan sekolah nonformal PKBM Bintang Flobamora tidak hanya mendapat ijazah, akan tetapi mereka juga mendapat keterampilan.

Poli menyebutkan, PKBM Bintang Flobamora juga melatih warga binaan melalui sejumlah keterampilan karena pada umumnya, warga binaan ini adalah masyarakat yang melakukan urbanisasi dari desa ke ibu kota provinsi tanpa memiliki keterampilan. Ini tentu saja akan menciptakan masalah baru di Kota Kupang.

Selain fokus pada anak putus sekolah dan warga usia lanjut yang tidak memiliki keterampilan, PKBM Bintang Flobamora juga hadir untuk pengentasan buta aksara. Apalagi NTT memiliki 5,24% warga yang masih buta aksara dan ini menempatkan NTT ke dalam enam provinsi dengan angka buta aksara zona merah di atas 4%. Sementara untuk data nasional, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) survei sosial market ekonomi nasional 2018, terdapat 1,93% atau 3.290.490 orang yang masih buta aksara di usia 15-59 tahun.

Poli menyebutkan, masyarakat NTT yang buta aksara umumnya berusia lanjut di atas 21 tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama semua pihak baik dari masyarakat maupun pemerintah untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pasalnya, dalam menuntaskan buta aksara dibutuhkan energi literasi yang kuat agar NTT bisa bebas buta aksara.

Dalam menuntaskan masalah ini, Poli berharap adanya kesadaran dari pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah daerah (pemda) untuk menjadikan penuntasan buta aksara sebagai bagian dari program prioritas. Pemda dapat menelusuri angka buta aksara ini mulai dari tingkat RT dan RW sehingga benar-benar tuntas.

“Pemerintah pusat (Kemdikbud, red) telah memiliki spirit untuk menuntaskan buta aksara. Akan tetapi yang jadi persoalannya adalah dukungan dari pemprov dan pemda. Ini perlu kesadaran dan komitmen dari gubernur dan bupati ataupun wali kota, karena hingga saat ini saya melihat belum ada komitmen untuk itu,” ujarnya.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kardinal Baru Indonesia

Gereja Indonesia dinilai sebagai gereja hidup, yakni benar-benar hadir di masyarakat.

FIGUR | 6 September 2019

Memperkuat DPD sebagai Kaki Tangan Daerah

Di pusat ini harus ada kaki tangan daerah. Karena kalau partai, partai itu di pusat dan hanya kepentingan partai, bukan kepentingan daerah. Kita bicara daerah dan bukan bicara partai.

FIGUR | 14 Agustus 2019

Visi Pelayan Parlemen yang Rendah Hati

Indra Iskandar fokus melayani segala kebutuhan anggota dewan, dan juga masyarakat yang membutuhkan informasi tentang DPR-RI.

FIGUR | 3 Agustus 2019

Merawat Anak Autis dengan Cinta

Orang tua dituntut untuk teliti, membuka pikiran, dan berkonsultasi ke dokter agar diberikan program perawatan yang baik.

FIGUR | 5 Juli 2019

Ancaman People Power Itu Tak Memenuhi Syarat

Pemetaan daerah rawan konflik sudah dari awal kita mengikuti dan memetakannya. Tetap saja yang paling rawan itu adalah Jakarta.

FIGUR | 9 April 2019

Arsitek Peduli Kemanusiaan

Rumah dengan arsitektur tradisional merupakan sebuah tempat hunian yang ramah lingkungan bahkan tanggap bencana.

NASIONAL | 8 Desember 2018

Majukan Budaya Kampung Halaman

"Jadi sasarannya bukan hanya generasi muda, tetapi kita ingin para petua bisa turun gunung dan angkat bicara mengenai akar kebudayaan silek," kata Leni.

FIGUR | 3 Desember 2018

Sosok Tepat Awaki PGN di Masa Transisi

Gigih menyadari bahwa masa transisi akan memberikan tantangan yang tak mudah.

FIGUR | 30 Oktober 2018

Keseimbangan Antara Bisnis dan Filantropi

"Kita harus mengembangkan karakter yang berani ambil risiko, penuh tekad, dan berwawasan ke depan."

FIGUR | 29 Oktober 2018

Indonesia Hadapi Masalah Stunting

Sudah 12 tahun stunting growth menjadi salah satu masalah bangsa Indonesia.

FIGUR | 20 Oktober 2018


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS