Butuh 10 Tahun untuk Proses Bajakah Menjadi Obat Kanker
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Butuh 10 Tahun untuk Proses Bajakah Menjadi Obat Kanker

Selasa, 27 Agustus 2019 | 12:10 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Penelitian awal tanaman bajakah sebagai obat kanker yang dilakukan tiga pelajar SMA 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah, masih menuai pro dan kontra di masyarakat. Pasalnya, usai pelajar tersebut mendapat penghargaan dan viral di media sosial, tak sedikit masyarakat yang memburu tanaman ini sebagai pengobatan kanker.

Kepala Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siswanto mengatakan, penelitian awal yang dilakukan para pelajar ini baru sebatas kuantitatif, belum berdasarkan metodologi yang betul. Untuk membuktikan apakah zat aktif bajakah benar-benar ampuh mematikan sel kanker, masih dibutuhkan proses panjang. Ia memprediksi total waktu yang dibutuhkan minimal 7-10 tahun untuk keseluruhan proses penelitian.

Dimulai dari uji praklinis, yaitu uji pada sel kanker lainnya, dan setelah terbukti baru diujicobakan pada hewan. Jika terbukti baru masuk ke uji klinis pada manusia melalui tiga fase. Pertama, untuk melihat toksisitas atau sisi keamanan dan cara kerjanya. Kedua, untuk membuktikan efikasi atau manfaatnya dengan sampel jumlah pasien terbatas. Ketiga, dengan jumlah pasien banyak. Jika semua itu terbukti barulah bisa diklaim bajakah memiliki efek membunuh sel kanker.

Kemudian masuk pada tahap isolasi bahan aktif yang terkandung dalam tanaman itu. Setelah itu melalui tahapan yang sama dengan awal, yakni uji praklinis, dan uji klinis. Hanya bedanya, saat uji klinis pada manusia, bahan ujinya harus diproduksi oleh industri melalui cara pembuatan obat yang benar (CPOB).

Jika dalam tahapan tersebut tidak tebukti efek khasiatnya, maka penelitian bisa dihentikan. Dari seluruh kandidat yang diteliti hanya tersisa 5% yang benar-benar akan jadi obat.

"Jadi langkahnya masih panjang. Untuk uji praklinis paling cepat itu 2 tahun dan uji klinis minimal 5 tahun. Dan harus kerja sama industri," kata Siswanto di Jakarta, Senin (26/8).

Menurut Siswanto, tim Balai Besar Tanaman Obat dan Obat Tradisional Litbangkes Kemkes sudah turun ke Palangkaraya dan menemukan ada 200 spesies bajakah yang berpotensi untuk dikembangkan jadi fitofarmaka. Namun untuk jadi obat kanker masih perlu waktu panjang, dan butuh keterbukaan masyarakat setempat.

Untuk saat ini masyarakat diminta tidak menjadikan bajakah sebagai pengobatan utama karena belum terbukti khasiatnya secara ilmiah. Masyarakat boleh menggunakannya sebagai pengobatan tambahan setelah pengobatan medis atau kedokteran.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Kemkes Dukung Penelitian Lanjutan Bajakah Sebagai Obat Kanker

Masih perlu dibuktikan secara kajian ilmiah melalui uji praklinis (pada hewan) dan uji klinis (pada manusia)

KESEHATAN | 27 Agustus 2019

Siloam Bekasi Timur Berbagi Kasih ke Panti Asuhan Rumah Shalom

Acara berbagi kasih ini sekaligus merayakan HUT ke-2 Rumah Sakit Siloam Bekasi.

KESEHATAN | 26 Agustus 2019

"Jangan Ada Lagi Antrean Panjang Pasien"

"Sakit atau tidak sakit, premi BPJS Kesehatan harus tetap dibayar."

KESEHATAN | 25 Agustus 2019

BPJS Kesehatan Tunggu Keputusan Pemerintah

BPJS Kesehatan tidak bisa dibiarkan sendirian menanggung beban sebagai operator untuk mewujudkan negara kesejahteraan.

KESEHATAN | 25 Agustus 2019

Iuran BPJS Naik, Kualitas Ditagih

"Tidak mungkin masyarakat menghendaki layanan yang berkualitas dan berkelanjutan, tetapi tidak mau membayar premi yang lebih memadai."

KESEHATAN | 25 Agustus 2019

Raih BPJS Award 2019, Inilah Keunggulan RSU Aisyiyah Ponorogo

Rumah Sakit Umum (RSU) Aisyiyah Ponorogo melakukan berbagai inovasi untuk memudahkan dan memastikan pasien mendapatkan layanan terbaik.

NASIONAL | 24 Agustus 2019

AIA Ajak Jutaan Keluarga di Indonesia Hidup Lebih Sehat

AIA Centennial Celebration mengajak jutaan keluarga di Indonesia untuk hidup lebih sehat, lebih lama, lebih baik.

KESEHATAN | 25 Agustus 2019

Raih BPJS Award 2019, Ini Keunggulan RSU Aisyiyah Ponorogo

Berbagai inovasi dikembangkan RSU Aisyiyah Ponorogo untuk memudahkan pasien.

KESEHATAN | 24 Agustus 2019

MRCCC Siloam Luncurkan Penanganan Terpadu Kanker Payudara

Di Indonesia, kanker payudara merupakan kanker dengan jumlah kasus terbanyak.

KESEHATAN | 24 Agustus 2019

Psikis Tidak Stabil Bisa Jadi Pemicu Penyalahgunaan Narkoba

Dalam beberapa penyakit tertentu, faktor kecemasan yang berakibat tekanan mental juga berpengaruh.

KESEHATAN | 23 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS