Rokok Ikut Memicu Kasus Stunting di Indonesia
INDEX

BISNIS-27 503.6 (2.5)   |   COMPOSITE 5652.76 (48.27)   |   DBX 1032.04 (3.25)   |   I-GRADE 164.451 (1.87)   |   IDX30 490.95 (3.33)   |   IDX80 128.766 (0.95)   |   IDXBUMN20 358.484 (4.17)   |   IDXG30 133.521 (0.92)   |   IDXHIDIV20 437.723 (3.27)   |   IDXQ30 142.408 (1.41)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.77)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (3.3)   |   IDXV30 120.747 (2.08)   |   INFOBANK15 969.323 (8.87)   |   Investor33 424.184 (2.73)   |   ISSI 165.497 (1.49)   |   JII 607.992 (3.57)   |   JII70 207.954 (1.77)   |   KOMPAS100 1151.81 (10.08)   |   LQ45 901.663 (6.22)   |   MBX 1571.94 (14.64)   |   MNC36 316.426 (2.22)   |   PEFINDO25 300.975 (9.54)   |   SMInfra18 283.853 (1.3)   |   SRI-KEHATI 362.321 (2.15)   |  

Rokok Ikut Memicu Kasus Stunting di Indonesia

Sabtu, 31 Agustus 2019 | 12:00 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI) bekerja sama dengan Komnas Pengendalian Tembakau merilis dua hasil penelitian analisis mendalam terkait perilaku merokok dan dampaknya terhadap kualitas hidup dan perkembangan balita pada keluarga miskin. Penelitian pertama menemukan perilaku konsumsi rokok pada masyarakat ikut memicu tingginya angka balita pendek (stunting) di Indonesia. Ini terjadi karena perubahan konsumsi keluarga, di mana jumlah makanan bernutrisi berkurang karena konsumsi rokok.

Sementara penelitian kedua menemukan pengeluaran untuk rokok pada keluarga penerima bantuan sosial (bansos) sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dan berdampak pada belanja kebutuhan lainnya. Harga rokok yang murah serta variasi harga rokok di pasaran menyebabkan keluarga penerima bansos sulit berhenti merokok meski dalam kondisi perekonomian yang sedang sulit.

Penelitian pertama dilakukan di Kabupaten Demak sebagai satu dari tujuh kabupaten dengan angka stunting tertinggi di Jawa Tengah (Jateng) pada 2019. Jateng sendiri merupakan provinsi dengan prevalensi stunting tinggi di atas level nasional. Sedangkan penelitian kedua dilakukan di Kota Malang dan Kabupaten Kediri. Kedua kota ini dipilih untuk mewakili Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi sekitar 11% pada September 2018, dan prevalensi merokok juga tinggi.

Manajer Program Pengendalian Tembakau dan Peneliti PKJS UI, Renny Nurhasana mengungkapkan, perilaku merokok pada keluarga Indonesia yang tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam mencapai sumber daya manusia (SDM) berkualitas di masa depan sebagaimana visi serta misi pemerintahan saat ini. Sebagai negara dengan prevalensi merokok tertinggi di Asia menurut World Bank tahun 2017, isu rokok seharusnya menjadi bagian penting dalam agenda kebijakan kesehatan di Indonesia.

Rokok murah dan sangat terjangkau memicu peningkatan jumlah perokok. Terbukti sejak 2001 sampai 2014, harga rokok semakin terjangkau diikuti semakin tingginya jumlah perokok di Indonesia. Prevalensi perokok di antara kelompok pendapatan rendah (penerima bansos) meningkat dari 2016 ke 2017.

“Kebijakan cukai rokok sampai saat ini masih membuat harga rokok sangat terjangkau bagi uang saku anak dan keluarga miskin,” kata Renny di Jakarta, Jumat (30/8).

Lanjut Renny, rokok sudah menjadi candu dan dianggap normal di desa daerah penelitian. Di daerah ini, merokok di depan anak-anak adalah hal biasa. Bahkan merokok menjadi konsumsi wajib, misal harus satu bungkus per hari. Ini memungkinkan terjadinya perubahan konsumsi dari uang makan ke rokok demi mempertahankan konsumsi. Hal ini dapat terjadi terutama di masyarakat yang sifatnya patriarki dengan bapak atau kepala keluarga sebagai pencari nafkah yang memberikan uang belanja kepada istri yang sudah dipotong belanja rokok.

Perilaku perubahan konsumsi menjadi faktor besar yang berkontribusi terhadap anak mengalami stunting terutama pada masyarakat dengan penghasilan rendah atau tidak pasti seperti petani. Penghasilan rendah menyebabkan konsumsi rokok mendominasi pengeluaran rumah tangga.

Misalnya dari Rp 100.000 penghasilan suaminya per hari, istri hanya bisa belanja Rp 50.000 untuk keluarganya yang berjumlah 5 orang. Hal ini menyebabkan tidak tercukupinya nutrisi baik dari segi jumlah makanan maupun kualitas, sehingga akan menimbulkan anak dengan stunting. Di samping itu faktor lain, seperti pola asuh anak, jarangnya pemberian ASI eksklusif, fenomena menikah muda, dan adanya hambatan program pemberian makanan tambahan (PMT) juga berpengaruh pada status nutrisi anak.

Pilih Berutang
Perilaku merokok, lanjut Renny, juga ditemukan pada keluarga penerima bansos di Kota Malang dan Kabupaten Kediri. Kebutuhan belanja rokok merupakan urusan suami. Namun, mereka mengakui jika pengeluaran untuk rokok juga berdampak pada kebutuhan harian. Jika dibandingkan kebutuhan untuk belanja bahan makanan, belanja rokok hampir mencapai setengahnya.

“Meski sedang mengalami kesulitan ekonomi, suami enggan memberikan uang rokok untuk membeli telur. Ketika mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan harian, seorang ibu rumah tangga lebih memilih berutang ke orang lain daripada meminta uang rokok suami. Ketika perekonomian sedang sulit pun suami tetap merokok,” kata Renny.

Efek adiksi yang ditimbulkan dari rokok sendiri membuat keluarga miskin sulit berhenti merokok meski dalam kondisi ekonomi sulit. Sebagian besar keluarga penerima bantuan sosial mengonsumsi bahan makanan pokok seadanya yang menurut mereka murah. Hal ini tentu saja akan berakibat pada asupan nutrisi keluarga. Selain itu, perilaku merokok juga berdampak pada aspek kesehatan, seperti gangguan pernapasan dan gizi buruk pada anak. Hal ini disebabkan harga rokok yang relatif terjangkau bagi masyarakat miskin.

Kedua penelitian ini menurut Renny, memperkuat bukti-bukti sebelumnya bahwa konsumsi rokok menjadi salah satu faktor pendorong tingginya stunting di Indonesia dan menurunnya kualitas hidup keluarga miskin. Di sisi lain konsumsi rokok juga mengancam efektivitas program bansos untuk pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah.

Temuan ini, menurut Renny, diharapkan dapat menjadi acuan pembuat kebijakan. Misalnya, kenaikan harga rokok melalui mekanisme kenaikan cukai hasil tembakau untuk menjauhkan keterjangkauan kelompok rentan, termasuk anak dan remaja dari pembelian rokok.

Simplifikasi layer cukai hasil tembakau juga harus dilakukan agar kenaikan cukai lebih efektif. Pengendalian konsumsi akan sulit terjadi jika pilihan harga rokok di pasar masih bervariasi akibat layer cukai yang berlapis. Konsumen rokok bisa berpindah ke golongan harga yang lebih rendah karena tarif cukainya lebih kecil.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Iuran Naik 100% Atasi Defisit Jangka Panjang

BPJS Kesehatan akan melaksanakan apa pun keputusan pemerintah terkait iuran peserta JKN-KIS.

KESEHATAN | 31 Agustus 2019

Majukan Industri Alat Kesehatan, Indonesia Kerja Sama Korea

Saat ini industri alkes Indonesia masih terbatas pada teknologi rendah dan medium.

KESEHATAN | 31 Agustus 2019

RS Jantung Diargam Layani Pasien BPJS Kesehatan

RS Jantung Diagram juga melayani pasien pengguna BPJS Kesehatan.

KESEHATAN | 29 Agustus 2019

Pengusaha Alat Kesehatan Terancam Gulung Tikar

Banyaknya kelemahan dalam kebijakan dan tata kelola, berdampak masif bagi bisnis alat kesehatan.

KESEHATAN | 29 Agustus 2019

Waspada Kekurangan Protein di Masa Tumbuh Kembang Anak

Anak membutuhkan konsumsi nutrisi seimbang termasuk protein dalam masa tumbuh kembang.

KESEHATAN | 28 Agustus 2019

Menkes Sebut Ubah Perilaku Sehat Masyarakat Butuh Waktu

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan, untuk mengubah perilaku hidup sehat masyarakat membutuhkan proses dan tidak bisa dalam waktu yang singkat.

KESEHATAN | 27 Agustus 2019

Menkeu Usulkan Iuran BPJS Kesehatan Naik Dua Kali Lipat

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengusulkan iuran BPJS Kesehatan untuk peserta mandiri kelas satu naik dua kali lipat dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000.

KESEHATAN | 27 Agustus 2019

Butuh 10 Tahun untuk Proses Bajakah Menjadi Obat Kanker

Siswanto mengatakan, penelitian awal yang dilakukan para pelajar ini baru sebatas kuantitatif, belum berdasarkan metodologi yang betul.

KESEHATAN | 27 Agustus 2019

Kemkes Dukung Penelitian Lanjutan Bajakah Sebagai Obat Kanker

Masih perlu dibuktikan secara kajian ilmiah melalui uji praklinis (pada hewan) dan uji klinis (pada manusia)

KESEHATAN | 27 Agustus 2019

Siloam Bekasi Timur Berbagi Kasih ke Panti Asuhan Rumah Shalom

Acara berbagi kasih ini sekaligus merayakan HUT ke-2 Rumah Sakit Siloam Bekasi.

KESEHATAN | 26 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS