Cegah Penyebaran, Pemerintah Harus Siapkan RS Khusus Covid-19
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Cegah Penyebaran, Pemerintah Harus Siapkan RS Khusus Covid-19

Kamis, 21 Mei 2020 | 22:06 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Senat Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Menaldi Rasmin mengatakan, untuk mencegah penularan penyebaran Covid-19, pemerintah harus berkomitmen menyiapkan rumah sakit (RS) khusus untuk menangani pasien Covid-19. RS ini akan melayani seutuhnya pasien Covid-19 dengan standar pelayanan medis dan

Menaldi menyebutkan, RS khusus ini amat penting karena sejak munculnya pandemi Covid-19, pasien yang tidak terpapar Covid-19 terabaikan pengawasan dan perawatannya. Padahal, mereka juga berhak untuk memperoleh perawatan dan kesembuhan sama dengan pasien Covid-19.

“Hak orang yang tidak terpapar Covid-19 hilang, kalah. Ini tidak pernah kita sadari, bahkan kita yang dokter ini salah dalam bertugas di RS. Saya dari awal Maret sudah berteriak-teriak ke semua pihak, tolong tetapkan mana RS Covid-19 dan mana RS non-Covid-19,” kata Menaldi dalam diskus daring bertemakan "Perjuangan Lawan Maut di ICU Covid-19" yang diselenggarakan oleh BeritaSatu, dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Rabu (20/5/2020).

Menaldi menyebutkan, tanpa adanya RS khusus Covid-19, maka pasien dengan penyakit bawaan yang butuh penanganan medis seperti diabetes komorbid, hipertensi, dan gagal ginjal kronis dirawat di RS bersama-sama dengan pasien Covid-19. Dengan begitu, mereka pun mudah terpapar.

Bahkan, berdasarkan data, 85% kematian pada pasien Covid-19 terjadi pada pasien Covid-19 yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan.

“Nah kalau itu campur (perawatannya,red), berarti kita ciptakan orang komorbid berisiko lebih berat daripada orang dengan Covid-19 saja,” terangnya.

Untuk itu, Menaldi mendesak pemerintah, khususnya pemerintah daerah (pemda) untuk menyiapkan RS khusus Covid-19 ini di masing-masng kabupaten/ kota, minimal satu RS. Apabila RS di tingkat daerah tersebut tidak dapat menangani atau menampung pasien, maka harus dirujuk ke tingkat provinsi dan pusat.

Menurut Menaldi, dengan hadirnya RS khusus Covid-19 ini, maka sejumlah kendala seperti kebutuhan alat pelindung diri (APD), ventilator, dan alat kesehatan lain untuk penanganan pasien Covid-19 di masing-masing daerah dapat terukur dengan baik. Dengan begitu, tidak ada lagi RS yang mengeluhkan minimnya alkes untuk penanganan Covid-19.

Sementara RS lainnya, kata Menaldi, dapat menjalankan peran menolong pasien non-Covid-19. Sebab, menurut Menaldi, salah satu kendala mengapa jumlah pasien terpapar Covid-19 tidak kunjung turun adalah, karena mereka tersebar di semua RS.

“Salah satu cara memutus rantai penularan Covid-19 adalah dengan tegas, mana yang Covid-19 dan mana yang bukan Covid-19. Dua-duanya memiliki hak sama tinggi dan dua-duanya memiliki hak sama untuk kesembuhannya,” ujarnya.

Hidup Bersih
Dengan penanganan yang teratur ini, Menaldi juga mengimbau masyarakat untuk menjalankan new normal yakni mulai menyadari pola hidup bersih, disiplin diri, menghormati diri sendiri, dan menghormati orang lain dengan tidak menularkan virus kepada orang lain.

Kebiasaan baru ini, menurut Menaldi harus diperkuat mulai dari ranah sendiri yakni tempat tinggal masing-masing, ranah tertentu yakni tempat kerja seperti kantor atau pabrik, serta ranah insitusi seperti kampus dan sekolah, dan terakhir rumah sakit.

Menaldi menyebutkan, untuk menggerakkan tiga fase tersebut sebelum harus ke rumah sakit, perlu adanya kerja sama dan gotong royong semua pihak untuk bergerak.

”Kalau Covid-19 ini enggak ditangkap (diantisipasi, red), ada tiga fase pertama tadi, artinya belum bergerak masif,” ujarnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

65% Pengguna Instagram Pilih Jalani PSBB

Sebanyak 83 persen responden mengaku patuh menjalankan PSBB dan hanya 17 persen yang cuek.

KESEHATAN | 20 Mei 2020

Bertambah 6, Kasus Positif Covid-19 di DIY Capai 215

Dua dari penambahan enam kasus baru diantaranya merpakan tenaga medis di RSUP Dr. Sardjito.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Ikatan Dokter Indonesia Khawatirkan Ledakan Kasus Baru Covid-19

PB IDI mengkhawatirkan terjadinya ledakan kasus karena kesadaran masyarakat untuk mentaati protokol kesehatan dari pemerintah mulai kendor.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

9 Pasien Positif Covid-19 di Bengkulu Dinyatakan Sembuh

Pasien virus covid-19 yang dinyatakan sembuh berasal dari tenaga medis dan masyarakat umum.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Jelang Idulfitri, Pemerintah Kembali Ingatkan Protokol Kesehatan

Masyarakat diminta agar mematuhi protokol kesehatan dalam berkegiatan menjelang Idulfitri 1441 H.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Jatim Sumbang Penambahan Terbanyak Kasus Covid-19

Dalam 24 jam terakhir, terdapat penambahan sebanyak 502 kasus baru di Jatim atau lebih dari separuh dari total penambahan kasus baru di Indonesia yakni 973.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Tambah 502 Kasus Baru Covid-19, Jatim Penyumbang Terbanyak Nasional

Dengan tambahan kasus baru yang sangat tinggi tersebut, Jatim kini menjadi episentrum baru penyebaran Covid-19.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Catat Rekor Tertinggi, Tambahan Kasus Positif Covid-19 Capai 973

Dengan penambahan 973 kasus baru, maka total kasus positif Covid-19 menjadi 20.162 hingga hari ini, Kamis (21/5/2020) pada pukul 12.00 WIB.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Dokter Vito Damay: Indonesia Tidak Terapkan Konsep Herd Immunity

Kelonggaran beraktivitas dengan kebiasaan baru adalah langkah yang ditempuh sebagai jalan tengah untuk mengurangi laju penularan dan tetap menjaga kestabilan.

KESEHATAN | 21 Mei 2020

Pasien Membeludak, RS Darurat Wisma Atlet Minta Kesadaran Masyarakat Putus Rantai Covid-19

Jumlah pasien Covid-19 rata-rata perhari di RS Darurat Wisma Atlet dari awalnya hanya 500 orang per hari, kini meningkat hingga diatas 1.000 orang per hari.

KESEHATAN | 21 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS