Pakar: Remaja Sekarang Lebih Rentan Terkena DBD
INDEX

BISNIS-27 503.6 (1.21)   |   COMPOSITE 5652.76 (35.99)   |   DBX 1032.04 (1.88)   |   I-GRADE 164.451 (0.97)   |   IDX30 490.95 (1.66)   |   IDX80 128.766 (0.54)   |   IDXBUMN20 358.484 (2.18)   |   IDXG30 133.521 (0.38)   |   IDXHIDIV20 437.723 (2.03)   |   IDXQ30 142.408 (0.74)   |   IDXSMC-COM 239.978 (2.06)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (2.24)   |   IDXV30 120.747 (1.77)   |   INFOBANK15 969.323 (2.13)   |   Investor33 424.184 (1.38)   |   ISSI 165.497 (1.24)   |   JII 607.992 (3.73)   |   JII70 207.954 (1.56)   |   KOMPAS100 1151.81 (6.97)   |   LQ45 901.663 (3.07)   |   MBX 1571.94 (11.04)   |   MNC36 316.426 (1.48)   |   PEFINDO25 300.975 (6.42)   |   SMInfra18 283.853 (0.77)   |   SRI-KEHATI 362.321 (1.21)   |  

Pakar: Remaja Sekarang Lebih Rentan Terkena DBD

Senin, 22 Juni 2020 | 19:49 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan oleh virus dengue dapat menyerang siapa saja dan semua kelompok umur. Namun para pakar menilai, di masa sekarang tren kasus lebih banyak mengarah pada usia remaja.

Ahli infeksi dan pediatri tropik RSCM, dr Mulya Rahma Karyanti mengatakan, banyak sekali remaja yang datang ke rumah sakit dalam fase kritis karena DBD. Bahkan beberapa pasien jatuh dalam kondisi syok hipovolemik. Ini adalah kondisi gawat darurat ketika tubuh kehilangan banyak darah dan cairan, sehingga jantung tidak mampu memompa cukup darah ke seluruh tubuh.

“Pada remaja kadang merasa sering muntah-muntah, sehingga tidak mau minum atau makan. Namun justru ini bikin tambah dehidrasi, lemas, tidur seharian. Apalagi jika remaja itu kos sendirian dan tidak ada yang mengingatkan. Inilah yang kita takutkan,” kata Mulya pada telekonferensi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Senin (22/6/2020).

Menurut Mulya, pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi pelayanan pasien DBD. Di setiap rumah sakit, ada triase untuk memilah antara pasien Covid-19 dan pasien umum. Ini mudah dilakukan karena gejala yang timbul berbeda antara DBD dan Covid-19, meskipun keduanya sama sama penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus.

DBD menunjukkan gejala selama satu minggu, dan penyebabnya adalah virus dengue yang ditularkan nyamuk aedes aegypti. Keluhan yang muncul biasanya demam tinggi mendadak, kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di bagian belakang mata, dan muntah-muntah. Biasanya disertai perdarahan spontan, seperti mimisan, gusi berdarah, dan bintik bintik merah di kulit. Keluhan ini tidak ada pada pasien Covid-19.

Yang paling diwaspadai dari DBD adalah di hari ketiga sejak muncul gejala. Di hari ketiga obat yang paling efektif sebetulnya hanyalah cairan. Ketika pasien kurang cairan, maka akan muncul tujuh tanda bahaya, yaitu sakit perut, lemas, perdarahan spontan, pembesaran hati, penumpukkan cairan, peningkatan hematrokrit secara bermakna, dan trombosit yang semakin menurun hingga di bawah 100.000 per ul.

Itulah mengapa hari ketiga disebut fase kritis. Karena biasanya terjadi kebocoran pembuluh darah. Ketika bocor akan muncul gejala, seperti cairan keluar, sehingga aliran darah ke otak berkurang.

“Biasanya lemas, tidur terus seharian, asupan makan dan minum sulit, sehingga muntah muntah, tambah dehidrasi, dan tidak buang air kecil lebih dari 4-6 jam. Ini tanda tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh orang tua jika ada anak atau keluarga yang muncul gejala ini. Segera bawa ke rumah sakit,” kata Rahma.

Di saat mengalami demam atau panas tinggi 39 hingga 40 derajat celcius selama 2-3 hari tidak membaik, maka sebaiknya ke rumah sakit. Yang penting jangan sampai dehidrasi. Awasi asupan minum, dan buang air kecil si penderita. Normalnya jika cukup cairan, maka dalam waktu 4-6 jam seharusnya buang air kecil. Jika seharian tidak minum, lemas, tidak kencing selama lebih dari 12 jam, dan muntah-muntah, maka disarankan ke rumah sakit.

Virus dengue penyebab DBD ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti melalui gigitannya. Warna hitam dan putih seperi zebra di bagian kaki adalah cirinya. Nyamuk ini senangnya menggigit manusia di pagi hari jam 10.00 sampai 12.000 WIB. Kemudian di sore hari jam 16.00-17.00 WIB.

Cara efektif untuk menghentikan gigitan nyamuk adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Ini bisa dilakukan dengan kegiatan 3M Plus, yang tujuannya membunuh jentik sehingga tidak berkembang menjadi nyamuk dewasa.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Banyak Hotel Kosong, Penderita DBD di 4 Kabupaten di Bali Terbanyak Se-Indonesia

Hotel kosong menjadi sarang nyamuk aedes aegypti yang menjadi vektor virus dengue penyebab DBD.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Israel Kembangkan Masker Kain yang Mampu Netralisir 99% Covid-19

Sebuah perusahaan Israel tengah mengembangkan masker kain yang mampu menetralisir virus corona (Covid-19) hingga 99 persen.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

90% Kabupaten dengan DBD Juga Laporkan Covid-19

Baik DBD maupun Covid-19 pada prinsipnya merupakan penyakit infeksi yang sama-sama disebabkan virus, dan belum ada obat maupun vaksin yang efektif.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Permintaan Hand Sanitizer Meningkat 50 Kali Lipat

Penggunaan hand sanitizer dapat menjadi pilihan utama untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Jokowi Setuju Laboratorium Avian Flu Burung Dijadikan Pabrik Produksi PCR

Menko PMK menjelaskan perlu adanya koordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk menentukan alat tes PCR yang cocok dilapangan dan lebih sederhana lagi.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Update Covid-19: Tambah 954, Kasus Positif Menjadi 46.845

Adanya 954 kasus baru Covid-19 didapat dari pemeriksaan spesimen sebanyak 10.926.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

DBD Telah Menginfeksi 68.753 Orang dengan 446 Kematian

Seluruh provinsi melaporkan terjadi kasus DBD.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Menko PMK: RI Mampu Produksi Perangkat Tes PCR 2 Juta Sebulan

PT Bio Farma mampu memproduksi alat tes PCR sebanyak 50.000 per minggu.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Percepat Deteksi Covid-19 Lewat Data dan Tes Masif

Zonasi menciptakan kompetisi sehat, karena setiap kepala daerah berlomba menunjukkan kinerja terbaik menekan laju penyebaran Covid-19.

KESEHATAN | 22 Juni 2020

Gugus Tugas Covid-19: Masyarakat Belum Jaga Jarak di Car Free Day

Yurianto meminta bahwa pelaksanaan CFD di tengah pandemi Covid-19 agar menjadi evaluasi bersama.

KESEHATAN | 21 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS