Ratusan Tenaga Kesehatan Gugur Akibat Covid-19, IDI: Tingkatkan Tes PCR
INDEX

BISNIS-27 446.998 (3.66)   |   COMPOSITE 5103.41 (22.92)   |   DBX 961.91 (2.39)   |   I-GRADE 139.433 (1.14)   |   IDX30 425.424 (3.73)   |   IDX80 112.732 (0.9)   |   IDXBUMN20 290.237 (3.92)   |   IDXG30 119.067 (0.52)   |   IDXHIDIV20 380.466 (2.42)   |   IDXQ30 124.992 (0.94)   |   IDXSMC-COM 219.453 (0.5)   |   IDXSMC-LIQ 253.905 (3.07)   |   IDXV30 105.587 (1.13)   |   INFOBANK15 830.947 (11.32)   |   Investor33 371.883 (3.69)   |   ISSI 150.117 (0.53)   |   JII 544.402 (1.55)   |   JII70 185.969 (0.84)   |   KOMPAS100 1019.44 (6.38)   |   LQ45 783.452 (7)   |   MBX 1412.54 (6.76)   |   MNC36 280.287 (2.27)   |   PEFINDO25 278.026 (3.1)   |   SMInfra18 241.756 (0.32)   |   SRI-KEHATI 314.153 (3.5)   |  

Ratusan Tenaga Kesehatan Gugur Akibat Covid-19, IDI: Tingkatkan Tes PCR

Jumat, 4 September 2020 | 23:27 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 menyebabkan korban meninggal di Indonesia cukup banyak termasuk dari tenaga medis. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mencatat saat ini sebanyak 108 dokter dan dokter gigi telah wafat akibat Covid-19. Ini belum termasuk 55 tenaga perawat dan 15 bidan.

Banyaknya tenaga kesehatan (nakes) yang gugur saat bertugas ini membuat para pakar mendesak pemerintah agar meningkatkan tes polymerase chain reaction (PCR) untuk menemukan lebih banyak kasus.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Ari Fahrial Syam mengatakan, banyaknya tenaga medis wafat bukan disebabkan langsung oleh Covid-19 atau penyakit penyerta (komorbid), melainkan akibat stres tingkat tinggi. Salah satu jenis stres tersebut adalah burnout, yaitu sindrom psikologi akibat respons terhadap stressor atau konflik.

“Ada beberapa dokter yang tadinya sehat, tetapi akhirnya jadi korban meninggal. Sebab kalau pun kondisi fisiknya sehat, tetapi stres tinggi, istirahat kurang, dan beban kerja besar, maka tetap jadi faktor risiko terpapar,” kata Ari pada temu media tentang potensi tenaga medis mengalami burnout yang diadakan secara daring, Jumat (4/9/2020).

Menurut Ari, selama pandemi Covid-19 berlangsung dan belum ada vaksin untuk pencegahan, maka risiko tenaga medis untuk wafat akan terus terjadi. Banyaknya tenaga medis yang wafat akan menjadi ancaman lain untuk pelayanan kesehatan nasional di Indonesia. Ketersediaan nakes semakin berkurang, sementara kebutuhannya di masa pandemi Covid-19 ini meningkat.

Ia mencontohkan, seorang gubernur ketika wafat akan digantikan dengan gubernur lain. Sementara seorang dokter apalagi dokter spesialis, untuk menciptakannya butuh waktu bertahun-tahun.

Untuk menjadi seorang dokter subspesialis di bidang penyakit dalam atau penyakit paru yang ada kaitannya dengan Covid-19, dibutuhkan waktu belasan tahun. Dimulai dari dokter umum yang membutuhkan waktu 5-6 tahun. Dilanjutkan menjadi internship kurang lebih 1 tahun dan dokter spesialis 4 tahun. Belum lagi program konsultan yang butuh waktu lebih lama lagi.

Oleh karena itu, menurut Ari, yang paling penting dilakukan sekarang adalah komitmen bersama untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 dan menurunkan positivity rate. Selama masih banyak pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit, maka risiko tenaga medis untuk terpapar dan akhirnya meninggal akan terus terjadi.

Untuk menurunkan jumlah kasus, pemerintah diminta untuk meningkatkan lagi jumlah tes PCR setiap hari dan mempercepat proses keluarnya hasil tes tersebut. Menurut Ari, jumlah tes PCR memang terus meningkat dari waktu ke waktu, tetapi jumlahnya masih kurang jika melihat potensi penyebaran di masyarakat.

Peningkatan jumlah tes swab PCR juga, lanjutnya, jangan hanya dilakukan di DKI Jakarta, tetapi juga di daerah lain yang jumlah kasusnya mungkin baru mulai bertambah belakangan ini.

“Karena semakin masif kita melakukan penemuan kasus, maka semakin kita bisa menemukan kasusnya dan bisa lakukan isolasi, sehingga menekan penularan,” tambahnya.

Upaya lainnya, rumah sakit dan komite medik perlu mengatur beban kerja untuk dokter. Perlu ada pengaturan atau mobilisasi tenaga dokter dengan tetap menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD) lengkap.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pandemi Covid-19 Pengaruhi Kesehatan Mental Masyarakat

Menjaga kesehatan mental tak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik selama masa pandemi Covid-19.

KESEHATAN | 4 September 2020

71 Perawat Gugur Akibat Covid-19, Ketua PPNI: Banyak yang Enggan Melapor

Banyak perawat yang enggan melapor karena takut terjadi stigma negatif terhadap mereka.

KESEHATAN | 4 September 2020

75% Faskes Tidak Melakukan Pemeriksaan Swab Rutin

Masih ada tenaga kesehatan (2 persen) yang tidak mendapatkan alat pelindung diri (APD) dari fasilitas kesehatannya.

KESEHATAN | 4 September 2020

Hadapi Pandemi, 82% Nakes Alami Burnout Syndrome

Tingginya risiko nakes menderita burnout syndrome akibat pajanan stres yang luar biasa berat di fasilitas kesehatan selama pandemi.

KESEHATAN | 4 September 2020

Sebaran Kasus Harian Covid-19: DKI Jakarta Masih Terbanyak, Jabar Kedua

DKI Jakarta masih tercatat memiliki penambahan kasus Covid-19 tertinggi di Indonesia hari ini, Jumat (4/9/2020). Jabar di posisi kedua.

KESEHATAN | 4 September 2020

Update Covid-19: Tambah 3.269, Kasus Positif di Indonesia Jadi 187.537

Pada Jumat (4/9/2020), terdapat penambahan kasus baru sebanyak 3.269. Total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 187.537.

KESEHATAN | 4 September 2020

Sosiolog: Perlu Edukasi tentang Standarisasi Masker

Apakah pemerintah sudah memastikan bahwa masker yang dijual di jalanan sudah terstandarisasi?

KESEHATAN | 3 September 2020

Sosiolog: Masyarakat Butuh Testimoni Pasien Covid-19 yang Sembuh

Sebab, saat ini masih ada public distrust kepada pemerintah.

KESEHATAN | 3 September 2020

Epidemiolog Dukung Peningkatan Tes Swab PCR

Tes swab PCR memang wajib diperbanyak dilakukan terlebih di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar.

KESEHATAN | 4 September 2020

Merck Dukung Eijkman Percepat Penelitian Vaksin Covid-19

Merck mendukung Lembaga Eijkman untuk mempercepat penelitian vaksin di Indonesia, melalui donasi peralatan dan material riset senilai Rp1,2 miliar.

KESEHATAN | 3 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS