Permenkes tentang Radiologi Klinik Akan Rugikan Pasien
INDEX

BISNIS-27 491.129 (11.99)   |   COMPOSITE 5612.42 (112.33)   |   DBX 1062.36 (4.11)   |   I-GRADE 161.886 (4.37)   |   IDX30 478.794 (12.21)   |   IDX80 126.714 (3.02)   |   IDXBUMN20 355.426 (9.57)   |   IDXG30 131.028 (2.32)   |   IDXHIDIV20 432.126 (9.85)   |   IDXQ30 139.823 (3.69)   |   IDXSMC-COM 243.691 (3.69)   |   IDXSMC-LIQ 294.252 (6.8)   |   IDXV30 122.487 (4.61)   |   INFOBANK15 946.8 (29.41)   |   Investor33 412.464 (10.19)   |   ISSI 165.112 (2.43)   |   JII 597.802 (9.53)   |   JII70 206.187 (3.44)   |   KOMPAS100 1134.88 (27.52)   |   LQ45 883.061 (21.77)   |   MBX 1552.46 (34.83)   |   MNC36 308.511 (7.09)   |   PEFINDO25 308.232 (9)   |   SMInfra18 281.756 (5.87)   |   SRI-KEHATI 352.482 (8.96)   |  

Permenkes tentang Radiologi Klinik Akan Rugikan Pasien

Selasa, 6 Oktober 2020 | 20:39 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Para dokter yang tergabung dalam 50 organisasi perhimpunan dan kolegium dokter se-Indonesia menuntut Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk mencabut Permenkes 24/2020 tentang Radiologi Klinik. Permenkes ini dinilai menimbulkan keresahan juga gesekan di kalangan dokter yang akhirnya akan merugikan pasien.

Dihubungi Suara Pembaruan, Selasa (6/10/2020), Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), Prof David S Perdanakusuma, menyayangkan munculnya Permenkes 24/2020 di tengah situasi pandemi di mana semua tenaga medis dan masyarakat sedang berjuang melawan Covid-19. Selain tidak ada urgensinya, Permenkes ini juga akan menimbulkan keresahan karena ada pembatasan wewenang dari dokter spesialis yang lain pada layanan radiologi.

Selama ini, alat-alat radiologi tidak hanya dioperasionalkan oleh dokter spesialis radiologi, melainkan juga oleh dokter dari disiplin lain. Baik dokter umum maupun dokter spesialis seperti jantung dan pembuluh darah, bedah saraf, ortopedi, saraf, penyakit dalam, rehabilitasi medik, dan obgyn atau kandungan.

“Pemangkasan wewenang jadi potensi di dalam Permenkes ini, yang sangat bernuansa radiologis. Seolah Permenkes ini membesarkan radiologi, tetapi mengabaikan dokter lain,” kata David.

Selain itu, akan terjadi kekacauan dalam pelayanan kesehatan yang berdampak pada masyarakat luas berupa keterlambatan dan menurunnya kualitas pelayanan. Akibatnya, akan terjadi peningkatan angka kesakitan dan kematian pasien, termasuk kematian ibu dan anak karena USG oleh dokter kebidanan tidak bisa lagi dilakukan.

Kemudian, penilaian pembuluh darah jantung untuk pasien penyempitan pembuluh darah juga tidak bisa lagi dilakukan oleh dokter jantung. Bahkan tindakan USG dasar oleh dokter umum juga tidak bisa dikerjakan bila profesi dokter ini tidak mendapat kewenangan dari kolegium radiologi.

Menurut David, Permenkes 24/2020 mengganggu layanan sekurang-kurangnya 16 bidang medis. Masyarakat adalah pihak yang paling merasakan dampak dari Permenkes ini. Sebab, layanan yang semestinya dijalankan oleh 25.000 dokter spesialis dari 15 bidang medis hanya akan dilayani oleh sekitar 1.578 radiolog. Itu pun belum menghitung dokter umum di dalamnya.

Yang juga aneh dari Permenkes ini, menurut David, adalah dokter di luar radiologi boleh menangani kalau diberikan sertifikasi kompentensi oleh Kolegium Radiologi. Padahal, Kolegium Radiologi hanya boleh memberikan kompetensi pada radiolog, tidak pada profesi lain.

David mengatakan, dampak dari Permenkes ini juga berkelanjutan pada pendidikan kedokteran baik spesialis maupun dokter umum. Akan ada perubahan pada standar pendidikan yang berlaku saat ini. Sementara itu, akan diperlukan perubahan pula pada standar pendidikan radiologi terkait dengan pelayanan klinik yang meliputi diagnostik dan terapi. Menurutnya, setidaknya 8.935 peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) akan terdampak.

Kemudian, terbitnya Permenkes ini berpotensi memicu gesekan antar sejawat dokter. Padahal dalam situasi pandemi semua tenaga medis harus saling mendukung. Karena tidak diketahui pandemi ini akan berlangsung sampai kapan, seluruh komunitas kesehatan harus saling mendukung, termasuk pemerintah dan masyarakat.

“Kondisi negara kita yang tengah menghadapi pandemi Covid-19 dirasa sangat memerlukan kerja sama yang erat dan saling mendukung antar sesama teman sejawat profesi dokter dengan kompetensi masing masing-masing,” kata David.

Menurut David, pihaknya telah mengirimkan surat penolakan dan meminta Menkes untuk mencabut Permenkes 24. Alih-alih merespons surat tersebut, Kemkes justru mengirimkan undangan kepada seluruh organisasi profesi tersebut untuk menyosialisasikan tentang Permenkes 24/2020 pada Selasa (6/10/2020). Namun menurut David, pihaknya kembali mengirimkan surat penolakan.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kasus Kematian Covid-19 Turun 7,7 %

Jumlah kasus kematian Covid-19 secara mingguan mengalami penurunan sebesar 7,7 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya.

KESEHATAN | 6 Oktober 2020

Dalam Sepekan, Kasus Positif Turun 7,4 Persen

Adapun lima provinsi yang menyumbang kasus positif tertinggi berbeda dari pekan lalu.

KESEHATAN | 6 Oktober 2020

Kasus Covid-19 di Indonesia Diprediksi Capai 500.000 pada 12 November

Indonesia akan mencatatkan kasus Covid-19 ke-400.000 pada 25 Oktober 2020 atau 21 hari setelah mencatatkan kasus ke-300.000.

KESEHATAN | 6 Oktober 2020

Aice Group Mulai Distribusikan Jutaan Masker Medis

Jutaan masker medis tersebut akan disalurkan melalui berbagai jalur distribusi.

KESEHATAN | 6 Oktober 2020

Jumlah Kasus Positif Covid-19 di DKI Jakarta Tembus 80.000

Jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 telah menembus 80.000 pada hari ini Selasa (6/10/2020) tepatnya 80.979.

KESEHATAN | 6 Oktober 2020

Update Covid-19: Tambah 4.056, Kasus Positif di Indonesia Jadi 311.176

Kasus baru Covid-19 di Indonesia bertambah 4.056 dalam 24 jam terakhir sampai Selasa (6/10/2020) siang. WIB. Total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 311.176.

KESEHATAN | 6 Oktober 2020

BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Emergensi Dua Obat Covid-19

Kedua obat itu adalah Favipiravir dan Remdesivir.

KESEHATAN | 5 Oktober 2020

RS Dituding “Meng-Covid-kan” Pasien, Persi dan IDI: Data Tak Bisa Dimanipulasi

Amat sulit mevonis pasien dengan Covid-19 hanya agar klaim bisa cair karena pasien positif atau negatif harus dibuktikan dengan hasil laboratorium.

KESEHATAN | 5 Oktober 2020

Prof Wiku: Angka Positivity Rate Indonesia Lampaui Standar WHO

Persentase positivity rate nasional adalah 17,03% dan angka ini sudah di atas standar yang ditetapkan WHO yaitu 5%.

KESEHATAN | 5 Oktober 2020

Angka Kesembuhan Covid-19 di Indonesia Terus Meningkat

Rasio sembuh terhadap total kasus ini (pekan ke-1 Oktober) meningkat dibandingkan pekan sebelumnya (pekan ke-4 September) yang tercatat pada angka 73,77 persen.

KESEHATAN | 5 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS