Pemanfaatan JKN-KIS Menurun Selama Pandemi Covid-19
INDEX

BISNIS-27 510.175 (-17.99)   |   COMPOSITE 5783.33 (-162.95)   |   DBX 1064.04 (-3.52)   |   I-GRADE 168.858 (-6.35)   |   IDX30 499.932 (-20.46)   |   IDX80 131.904 (-5.05)   |   IDXBUMN20 373.781 (-16.94)   |   IDXG30 136.463 (-5.07)   |   IDXHIDIV20 450.262 (-17.47)   |   IDXQ30 146.101 (-5.82)   |   IDXSMC-COM 248.411 (-4.69)   |   IDXSMC-LIQ 303.864 (-9.52)   |   IDXV30 127.988 (-5.61)   |   INFOBANK15 983.467 (-30.4)   |   Investor33 429.105 (-15.66)   |   ISSI 169.797 (-5.07)   |   JII 620.069 (-24.81)   |   JII70 213.196 (-7.42)   |   KOMPAS100 1177.3 (-40.52)   |   LQ45 920.112 (-35.48)   |   MBX 1606.46 (-51.44)   |   MNC36 321.125 (-12.05)   |   PEFINDO25 316.867 (-8.18)   |   SMInfra18 295.49 (-12.78)   |   SRI-KEHATI 366.206 (-13.14)   |  

Pemanfaatan JKN-KIS Menurun Selama Pandemi Covid-19

Kamis, 22 Oktober 2020 | 22:07 WIB
Oleh : Dina Manafe / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 turut berdampak pada pola utilisasi atau pemanfaatan JKN-KIS. Jumlah peserta yang memanfaatkan layanan JKN-KIS menurun drastis dibanding sebelum pandemi. Penurunan ini diduga bukan hanya karena orang takut berobat ke fasilitas kesehatan (faskes), tetapi bisa jadi pemanfaatan layanan JKN sebelum pandemi tidak sesuai kebutuhan medis pasien.

Hal ini disampaikan Guru Besar sekaligus Ketua Center for Health Economics and Policy Studies Universitas Indonesia (CHEPS-UI), Prof Budi Hidayat, pada media workshop yang diselenggarakan BPJS Kesehatan, Kamis (22/10/2020).

Menurut Budi, utilisasi JKN cenderung turun saat Indonesia terkena pandemi. Ini fenomena yang menarik, mengingat selama ini pemanfaatan terus meningkat hingga dana JKN-KIS mengalami defisit. Defisit merupakan salah satu refleksi tingginya utilisasi yang membutuhkan biaya klaim tinggi.

“Di masa pandemi utilisasi JKN justru cenderung rendah. Ini menimbulkan sebuah hipotesis untuk dikaji lebih lanjut apakah pola utilisasi sebelum Covid-19 itu terjadi karena secara alamiah, dengan arti kata apakah sesuai kebutuhan medis pasien,” kata Budi.

Menurutnya, turunnya utilisasi ini memunculkan anomali. Sebelum Covid-19, terdapat utilisasi sebesar 5% untuk rumah sakit (RS). Ketika datang wabah, harusnya angka utilisasi ini naik.

Sebelum pandemi, satu orang pasien dirujuk oleh faskes tingkat pertama ke RS. Angka kunjungan pasien tersebut ke RS untuk diagnosis yang sama rata-rata bisa sampai empat kali. Pola ini berubah ketika ada pandemi.

Ini baru dari angka ini baru dari angka kunjungan berulang, belum kunjungan lainnya. Mulai dari angka kontak pasien terhadap faskes, angka kunjungan terhadap jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, hingga angka kunjungan berulang baik itu di RS maupun faskes tingkat pertama. Semuanya menurun selama Covid-19. Fenomena ini perlu dikaji lebih mendalam apakah pola utilisasi di Indonesia selama ini tidak sesuai kebutuhan medis.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Chairul Radjab Nasution mengatakan, utilisasi atau kunjungan pasien JKN-KIS ke faskes memang berkurang, tetapi biaya manfaat tetap tinggi. Meskipun penurunan ini berpengaruh pada potensi perbaikan rasio klaim, tetapi hanya bersifat insidental karena momentum Covid-19 dan adanya kenaikan iuran peserta.

Dengan kata lain, kenaikan iuran dan perbaikan rasio klaim tidak menjamin defisit BPJS Kesehatan hilang selama pengendalian biaya manfaat tidak optimal. Oleh karena itu, ia menyarankan, hal ini harus diantisipasi dengan peningkatan keparahan penyakit dari peserta dan lonjakan kunjungan kasus katastropik pascapandemi. Kondisi ini menimbulkan risiko kenaikan klaim ke BPJS Kesehatan.

“Saran Dewas, BPJS Kesehatan melakukan evaluasi berkala terhadap utilisasi faskes khususnya pada masa pandemi ini di setiap wilayah. Kemudian, hasil evaluasi ini digunakan sebagai dasar penyusunan strategi pengendalian biaya manfaat pascapandemi,” kata Chairul.

Klaim Tinggi
Dihubungi terpisah, Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar mengatakan, meski utilisasi menurun, tetapi biaya klaim tinggi karena tidak sedikit pasien yang selama pandemi menunda kunjungan ke faskes. Akibatnya, ketika mereka datang ke RS sudah menagalmi komplikasi atau kondisi berat, yang tentu membutuhkan biaya perawatan yang lebih tinggi.

Inilah pentingnya mendorong pemanfaatan telemedis, di mana pasien-pasien bisa dikontrol sehingga tidak sampai komplikasi ketika datang ke faskes.

Menurut Timboel, penurunan utilisasi ini justru jadi bumerang bagi BPJS Kesehatan. Mereka yang selama ini menunda kunjungan ke faskes karena takut bisa jadi kembali ke RS pascapandemi. Saat datang ke faskes, banyak kemungkinan sudah terjadi komplikasi. Ini akan berpengaruh ke biaya klaim yang harus dibayarkan BPJS Kesehatan.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

14 Provinsi Termasuk Jakarta Laporkan Kasus Sembuh Lebih Banyak dari Kasus Baru

Jumlah kasus sembuh di ibukota sebanyak 1.159 sedangkan penambahan kasus baru Covid-19 sebanyak 989.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Update Covid-19: Tambah 4.432, Kasus Positif di Indonesia Jadi 377.541

Penambahan 4.432 kasus baru Covid-19 berdasarkan pemeriksaan spesimen sebanyak 43.928.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Inilah Rekomendasi Pemberian Vaksinasi Covid-19 Menurut PB IDI

PB IDI minta pemerintah agar jangan tergesa-gesa dalam pemberian vaksin Covid-19 kepada masyarakat dan tenaga medis.

KESEHATAN | 22 Oktober 2020

Jessica Tanoesoedibjo Ajak Hidup Sehat lewat MNC Virtual Ride

Peserta dapat melakukan pendaftaran mulai 19 Oktober hingga 7 November 2020. Adapun, periode gowes akan dilaksanakan mulai 1-7 November 2020.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Pemerintah Targetkan Stunting 14% pada 2024, Pakar: Ambisius dan Butuh Kerja Keras

Sebab, target ini baru bisa tercapai apabila angka stunting turun 3,8% per tahun atau angka stunting baru maksimum 10%.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Menko PMK Minta Pemda Optimalkan Penanganan Stunting

Persentase angka stunting berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019 sebesar 27,67%. Artinya, 1 dari 4 balita di Indonesia mengalami stunting.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Tips Mengenali Gejala Khas Covid- 19

Bagi yang menunjukan gejala Covid-19, ada beberapa ciri khas yang terbagi menjadi tiga.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Turunkan Angka Stunting , Wapres: Hilangkan Ego Sektoral

Wakil Presiden Ma'ruf Amin berharap ego sektoral dapat dihilangkan dalamr rangka menurunkan angka stunting di Indonesia.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Masyarakat Perlu Jaga Imun karena Covid-19 Makin Merebak

Rasio menunjukkan 1 dari 114 penduduk DKI terpapar virus corona.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020

Konsumsi Temulawak Tingkatkan Sistem Imunitas Tubuh

Temulawak merupakan salah tanaman asli Indonesia yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan imunitas tubuh.

KESEHATAN | 21 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS