FSGI: Sekolah Dibuka, Pembelajaran di Sekolah Tetap Tidak Efektif
INDEX

BISNIS-27 503.107 (8.47)   |   COMPOSITE 5679.25 (80.67)   |   DBX 1039.52 (14.71)   |   I-GRADE 166.189 (3.47)   |   IDX30 492.322 (9.09)   |   IDX80 129.082 (2.66)   |   IDXBUMN20 363.759 (7.86)   |   IDXG30 133.243 (2.59)   |   IDXHIDIV20 440.08 (10.13)   |   IDXQ30 143.762 (2.86)   |   IDXSMC-COM 242.127 (2.51)   |   IDXSMC-LIQ 293.644 (5.57)   |   IDXV30 123.61 (3.35)   |   INFOBANK15 979.67 (10.23)   |   Investor33 423.592 (6.88)   |   ISSI 165.745 (2.98)   |   JII 604.859 (14.26)   |   JII70 207.745 (4.44)   |   KOMPAS100 1155.02 (20.8)   |   LQ45 903.46 (17.32)   |   MBX 1578.72 (22.44)   |   MNC36 316.411 (5.51)   |   PEFINDO25 310.113 (3.58)   |   SMInfra18 286.549 (5.46)   |   SRI-KEHATI 362.507 (5.51)   |  

FSGI: Sekolah Dibuka, Pembelajaran di Sekolah Tetap Tidak Efektif

Kamis, 13 Agustus 2020 | 22:43 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan, pembukaan sekolah di zona kuning berpotensi mengancam kesehatan dan keselamatan warga sekolah, khususnya guru, siswa, tenaga kependidikan, dan keluarga mereka. Padahal, secara efektivitas kegiatan tatap muka pembelajaran di sekolah zona kuning juga tidak akan optimal.

“Bagaimana kegiatan sekolah bisa terlaksana mengingat siswa dilarang untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler dan berolahraga. Padahal dalam kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan OSIS, dan olahraga yang sangat beragam inilah terbangun interaksi sosial antarsiswa. Siswa ingin segera bersekolah karena rindu dengan aktivitas kesiswaan yang sangat beragam di tiap-tiap sekolah. Rindu berkumpul ramai-ramai bersama kawan-kawan. Namun harapan siswa tersebut terlarang selama tatap muka di sekolah zona kuning,” kata Satriwan dalam siaran pers yang diterima Suara Pembaruan, Kamis (13/8).

Satriwan menambahkan, interaksi siswa antarkelas juga dilarang, kantin ditutup, tak ada kumpul ramai-ramai bercengkrama di kantin, dan tak ada acara-acara lainnya. Selama empat jam masuk sekolah, siswa hanya diperbolehkan diam di kelasnya.

Kondisi-kondisi seperti ini, lanjut Satriwan, membuat pembelajaran tak akan efektif. Interaksi antar siswa sangat dibatasi, tak jauh beda dengan belajar dari rumah atau pembelajaran jarak jauh (BDR/PJJ). Bahkan, kehadiran siswa di sekolah berpotensi menghadirkan klaster baru Covid-19 karena bisa terjadi sebaran Covid-19 di antara siswa, guru dan warga sekolah lainnya. Sebab, tak ada jaminan pasti apakah siswa mematuhi aturan tersebut secara ketat.

Ditambah lagi ketika siswa dan guru pulang pergi ke sekolah naik kendaraan umum. Apalagi kemudian, rumah mereka berada di zona merah atau oranye. Tak ada jaminan kesehatan yang steril dari Covid-19 selama menumpangi kendaraan umum. Artinya, mulai keluar dari rumah, naik kendaraan umum, sampai di sekolah, dan pulang kembali ke rumah, kesehatan dan nyawa siswa serta guru benar-benar sedang terancam.

Selanjutnya, Satriwan mengatakan, FSGI sebagai organisasi profesi guru akan fokus dengan perlindungan atas kesehatan dan keselamatan guru selama bekerja. Sebab sebagaimana tercantum dalam UU tentang Guru dan Dosen No. 14/2005, Peraturan Pemerintah tentang Guru, dan Permendikbud No. 10/2017 tentang Perlindungan Guru dan Tenaga Kependidikan, sudah sangat jelas bahwa guru berhak mendapatkan perlindungan atas kesehatan dan keselamatan kerja.

“Jadi di saat guru tetap harus masuk sekolah mengajar tatap muka, di zona kuning ini akan berpotensi melanggar dan bertentangan dengan tiga regulasi di atas. Sebab kesehatan, keamanan, dan keselamatan guru ketika bekerja di sekolah sedang terancam,” ujarnya.

Untuk itu, Satriwan mengatakan, FSGI menyesalkan SKB 4 Menteri yang baru ini. Sebab, SKB ini berpotensi mengorbankan guru dan siswa, apalagi dengan melepaskan izin pembukaan sekolah ke pemda masing-masing.

“Komiten pemda beragam soal perlindungan atas kesehatan dan keselamatan guru. Buktinya beberapa pemerintah daerah sudah tak sabar membuka sekolah, yang dampaknya sekolah jadi klaster terbaru. Termasuk dalam hal ini, komitmen Kemdikbud juga kami ragukan. Buktinya di masa Mas Nadiem Makarim sekarang, struktur kelembagaan di internal Kemdikbud sendiri telah menghapus/meniadakan Subdit Kesejahteraan, Penghargaan, dan Perlindungan Guru di Dirjen GTK, yang di periode sebelumnya masih ada. Ini bukti jika keseriusan Kemdikbud dalam melindungi guru apalagi di masa pandemi diragukan,” kecamnya.

Satriwan menyebutkan, bagi FSGI opsi memperpanjang PJJ dengan perbaikan-perbaikan melalui koordinasi lintas kementerian dan pemda untuk gotong-royong memberikan layanan fasilitas PJJ adalah mendesak dilakukan. Ini semata-mata dilakukan demi perlindungan dan keselamatan bagi guru dan siswa.

“Lebih baik siswa tetap melaksanakan PJJ walaupun tertinggal beberapa materi pembelajaran, ketimbang memaksakan masuk sekolah tapi kesehatan dan nyawanya tengah terancam,”ucapnya.

Satriwan menuturkan, hingga saat ini bermunculan klaster baru penyebaran Covid-19 di sekolah, terbaru ada di Balikpapan, Pontianak, dan Rembang, yang mengorbankan guru termasuk siswa.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kemdikbud: 23.150 Sekolah Telah Laksanakan Pembelajaran Tatap Muka

Banyak satuan pendidikan di daerah 3T yang sangat kesulitan untuk melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena minimnya akses.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Wapres Minta Erick Thohir Percepat Eksekusi Program Tangani Dampak Pandemi Covid-19

Wapre) Ma'ruf Amin menyatakan, dirinya meminta Menteri BUMN Erick Thohir untuk mendorong pelaksanaan penanganan isu kesehatan menyangkut pandemi Covid-19

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Kasus Djoko Tjandra, Wujud Nyata Praktik Mafia Hukum

Skandal pelarian terpidana perkara pengalihan hak tagih Bank Bali dinilai sebagai wujud nyata praktik mafia hukum.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Temui BEM Jabodetabek, Azis Syamsuddin: RUU Cipta Kerja Solusi Keluar dari Krisis Ekonomi

Azis Syamsuddin meminta teman-teman BEM membaca ulang dan mendalami lagi RUU Cipta Kerja.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Densus 88 Tangkap Dokter Terduga Teroris di Bekasi

Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri menangkap 11 terduga teroris yang bermukim di Bekasi, Rabu (12/8/2020) pagi. Salah satunya adalah dokter.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

IDI: Evaluasi Kegiatan Tatap Muka di Sekolah

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendorong pemerintah mengevaluasi kegiatan tatap muka di sekolah.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Kemdikbud Bantah Sekolah Jadi Klaster Baru Covid-19

Klaster-klaster sekolah itu merupakan akumulasi kejadian dari bulan Maret sampai Agustus.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

UPH, First Media, dan Berita Satu Berikan Beasiswa Rp 100 Miliar

UPH, First Media dan BSMH memberi kesempatan seluas-luasnya kepada siswa berprestasi di berbagai daerah di Indonesia mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas.

NASIONAL | 14 Agustus 2020

Bocah SD Jual Guguran Bunga Cengkeh Beli Kuota Internet

Gilang tergolong keluarga tidak mampu. Sang ayah tercinta, Muhamad Husen (36), bekerja sebagai penjual jajanan anak.

NASIONAL | 13 Agustus 2020

Pelajar di Bogor Dibelikan Hape Android Agar Bisa Belajar Daring

Seorang dermawan datang dan memberi Deni sebuah hape android. Alhasil Deni tidak jadi menjual ayam jago kesayangannya.

NASIONAL | 13 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS