Dorong Ekosistem Reka Cipta, Ditjen Dikti Perkuat Kolaborasi Kampus dan Industri
INDEX

BISNIS-27 448.146 (0.31)   |   COMPOSITE 5091.82 (20.37)   |   DBX 966.643 (7.34)   |   I-GRADE 139.941 (-0.23)   |   IDX30 428.154 (0.15)   |   IDX80 113.358 (0.41)   |   IDXBUMN20 291.199 (0.73)   |   IDXG30 119.599 (-0.42)   |   IDXHIDIV20 379.423 (-0.2)   |   IDXQ30 124.629 (0.03)   |   IDXSMC-COM 218.961 (1.24)   |   IDXSMC-LIQ 257.997 (1.39)   |   IDXV30 107.251 (0.23)   |   INFOBANK15 832.7 (-1.05)   |   Investor33 373.408 (0.72)   |   ISSI 150.953 (0.22)   |   JII 549.986 (0.88)   |   JII70 187.543 (0.51)   |   KOMPAS100 1019.5 (2.84)   |   LQ45 788.563 (1.25)   |   MBX 1407.83 (4.87)   |   MNC36 279.661 (0.67)   |   PEFINDO25 277.129 (5.34)   |   SMInfra18 242.149 (-0.57)   |   SRI-KEHATI 316.134 (0.38)   |  

Dorong Ekosistem Reka Cipta, Ditjen Dikti Perkuat Kolaborasi Kampus dan Industri

Senin, 7 September 2020 | 18:07 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / IDS

Jakarta, Beritasatu.com - Selama ini, proses link and match antara industri dan kampus atau perguruan tinggi dinilai masih belum maksimal. Keduanya masih berjalan sendiri-sendiri. Bahkan, perguruan tinggi belum dapat bersinergi dengan permasalahan yang dihadapi oleh industri sehingga terdapat missing link antara pereka cipta atau perguruan tinggi dan investor atau industri.

Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Pendidikan Tinggi (Dikti Kemdikbud), Nizam mengatakan, pihaknya mendorong ekosistem reka cipta, yang merupakan upaya revitalisasi dan aktualisasi terhadap sebuah karya. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan oleh semua elemen secara efisien dan efektif dalam kehidupan sehari.

Apalagi pada situasi Covid-19, ada tekanan kepada semua pihak untuk bisa kreatif dan memberi solusi di tengah keterbatasan.

“Mengembangkan ekosistem di mana sinergi terjadi karena enggak bisa berjalan sendiri-sendiri. Jika ada sinergi yang sama akan menjadi kekuatan besar dan dahsyat bagi bangsa,” kata Nizam pada acara focus group discussion bertemakan “Membangun Ekosistem Reka Cipta Indonesia melalui Kolaborasi Pentahelix sebagai Implementasi Kampus Merdeka” di Jakarta, Senin (7/9/2020).

Nizam menuturkan, kolaborasi ini diperlukan karena saat ini sedang dihadapkan dengan tantangan dan peluang besar, yakni tantangan akan adanya pandemi dan peluang ekonomi dunia yang sedang beralih ke Asia. Sementara saat ini, Indonesia sedang dalam fase memasuki bonus demografi yang akan dialami 10 tahun mendatang. Untuk itu, harus dipersiapkan secara matang agar kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kendati demikian, perguruan tinggi sebagai bagian akhir dari perjalanan pendidikan serta merupakan masa transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja sangat diperlukan untuk bersinergi dengan semua pihak. Khusus dengan inventor atau industri, Nizam berharap, kolaborasi tidak hanya sekadar menyusun kurikulum, tetapi juga terlibat dalam pendampingan mahasiswa hingga menyiapkan lulusan sesuai dengan kebutuhan industri.

Pasalnya, selama ini meski kerja sama telah terjalin antara perguruan tinggi dan industri, tetapi hanya sebatas menyusun kurikulum tanpa ada pendampingan. Dengan demikian, empat atau lima tahun mendatang ketika mahasiswa lulus kuliah tentu hanya berbekal feedback lima tahun lalu dari industri. Sementara telah banyak perubahan di industri karena kemajuan teknologi yang begitu pesat.

Alhasil, lulusan perguruan tinggi akan sulit diterima di industri, apalagi pada situasi pandemi di mana ketersediaan lapangan kerja tidak seluas seperti kondisi normal.

Dengan adanya kolaborasi, maka sejak awal calon sarjana diarahkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja baru.

“Berkolaborasi baik menyiapkan lulusan maupun bereka cipta, sehingga riset dosen berdasarkan problem nyata bukan khayalan. Demikian juga riset-riset mahasiswa untuk sejalan dengan industri,” ucapnya.

Reka cipta ini, lanjut Nizam, merupakan implementasi Kampus Merdeka serta mendorong peran dunia industri dalam mendukung para pereka cipta di perguruan tinggi melalui platform Kedai Reka yang direncanakan akan diluncurkan bulan ini. Kedai Reka sebagai wadah mempertemukan sekaligus menghubungkan perguruan tinggi dengan industri.

Melalui platform Kedai Reka, tidak ada lagi batasan birokrasi antara perguruan tinggi , industri, dan masyarakat. Artinya, mahasiswa, dosen, masyarakat umum, petani, dan elemen lainnya dapat berinteraksi dan melakukan sinergi. Dengan begitu, semua perguruan tinggi memiliki porsi yang sama dan tidak ada lagi perbedaan kampus swasta maupun negeri.

“Kedai Reka menghubungkan semuanya dalam suasana yang familiar, demokratis, tidak ada batas-batas birokratis maupun batas besar atau kecil. Semua bisa berkolaborasi, saling berkarya, saling menjawab dan memberi solusi. Jadi problem dan solusi akan saling bertemu dan tidak ada lagi batas-batas atau sekat-sekat,” ucapnya.

Sinergi ini lah yang disebut dengan pentahelix, yakni suatu bentuk sinergi yang optimal dari dunia kampus, dunia usaha, pemerintah, media dan komunitas masyarakat dengan tujuan sama memajukan bangsa. Pasalnya, banyak masalah yang dihadapi oleh industri sebetulnya bisa juga dihadapi oleh perguruan tinggi.
“Kebutuhan SDM dari industri harusnya dipenuhi oleh perguruan tinggi, tapi terkadang dunia industri dan kerja itu komplain karena kompetensinya tidak nyambung dan tidak dibutuhkan oleh dunia kerja,” ucapnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Din Syamsuddin: Malik Fadjar Tokoh yang Akrab dengan Aktivis Muda

Almarhum Abdul Malik Fadjar adalah seorang tokoh yang akrab dengan aktivis muda.

NASIONAL | 7 September 2020

Anwar Abbas: Malik Fadjar Pejuang Pendidikan

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan almarhum Abdul Malik Fadjar merupakan pejuang pendidikan yang gigih dan tidak pernah mengenal lelah.

NASIONAL | 7 September 2020

Klaster Kantor BKD Bengkulu Sumbang 5 Kasus Positif Covid-19

Dari hasil tracing Dinkes Bengkulu terhadap klaster kantor BKD setempat, ada 5 orang positif terpapar virus corona (Covid-19).

NASIONAL | 7 September 2020

BMKG: Awal Musim Hujan Diprediksi Akhir Oktober

Awal musim hujan diprediksi akan terjadi pada akhir bulan Oktober.

NASIONAL | 7 September 2020

Bahas Anggaran Digitalisasi Nasional, Rapat Komisi I dan Kemkominfo Tertutup

Rapat kerja Komisi I DPR dengan Kemkominfo membahas anggaran lembaga itu untuk tahun 2021 dilaksanakan dengan tertutup.

NASIONAL | 7 September 2020

KPK Diragukan Akan Ambil Alih Kasus Jaksa Pinangki

Zainal Arifin Mochtar tidak yakin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengambil alih kasus jaksa Pinangki dari Kejaksaan Agung (Kejagung).

NASIONAL | 7 September 2020

MA Sunat Hukuman Eks Wali Kota Cilegon Terkait Kasus Suap Amdal Transmart

Mahkamah Agung mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali yang diajukan mantan Wali Kota Cilegon, Tubagus Iman Ariyadi terkait kasus suap izin Amdal Transmart

NASIONAL | 7 September 2020

UI Tetap Berlakukan Pembelajaran Jarak Jauh pada Tahun Ajaran Baru

Universitas Indonesia (UI) telah mengadakan PJJ sejak Maret 2020 akibat pandemi Covid-19.

NASIONAL | 7 September 2020

DPR Setujui Pagu dan Usulan Tambahan Anggaran Kementerian ATR/BPN

Komisi II DPR menyetujui pagu dan usulan tambahan anggaran tahun 2021 yang disampaikan Kementerian ATR/BPN sebesar Rp 8,9 triliun dan Rp 2,3 triliun.

NASIONAL | 7 September 2020

Mantan Mendiknas Malik Fadjar Meninggal Dunia

Sebelum menjabat mendiknas, Malik Fadjar dipercaya menjadi menteri agama pada era Presiden BJ Habibie.

NASIONAL | 7 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS