Atasi Dampak Covid-19, Kebijakan Perdagangan Dinilai Perlu Lebih Terbuka
INDEX

BISNIS-27 441.115 (-6.71)   |   COMPOSITE 4999.36 (-65.27)   |   DBX 926.724 (-1.92)   |   I-GRADE 133.264 (-2.43)   |   IDX30 420.076 (-6.65)   |   IDX80 109.661 (-1.57)   |   IDXBUMN20 278.261 (-5.6)   |   IDXG30 116.81 (-1.43)   |   IDXHIDIV20 376.476 (-5.76)   |   IDXQ30 123.185 (-2.27)   |   IDXSMC-COM 212.981 (-1.87)   |   IDXSMC-LIQ 238.919 (-2.11)   |   IDXV30 103.357 (-0.89)   |   INFOBANK15 795.289 (-18.41)   |   Investor33 366.258 (-6.17)   |   ISSI 146.103 (-1.34)   |   JII 529.041 (-5.13)   |   JII70 179.515 (-1.95)   |   KOMPAS100 981.638 (-15.57)   |   LQ45 767.973 (-11.6)   |   MBX 1387.12 (-20.31)   |   MNC36 275.074 (-4.8)   |   PEFINDO25 260.463 (-1.57)   |   SMInfra18 237.109 (-3.79)   |   SRI-KEHATI 309.505 (-5.9)   |  

Atasi Dampak Covid-19, Kebijakan Perdagangan Dinilai Perlu Lebih Terbuka

Senin, 18 Mei 2020 | 21:39 WIB
Oleh : Herman / JAS

Jakarta, Beritasatu.com – Usai perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok mulai mereda, negara-negara di dunia saat ini tengah menghadapi musuh bersama yang lainnya yaitu pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 sudah menelan banyak korban, menciptakan disrupsi pada perekonomian dunia, mengancam ketahanan pangan global, menurunkan arus investasi dan juga menurunkan tingkat konsumsi karena melemahnya daya beli masyarakat.

Karenanya, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai upaya untuk meninggalkan kebijakan proteksionisme dan membuka perdagangan perlu ditingkatkan mitigasi dampak pandemi ini.

Felippa Ann Amanta mengatakan negara-negara di dunia, tidak terkecuali Indonesia, perlu berkomitmen serius untuk meninggalkan kebijakan proteksionisme dan memastikan perdagangan antarnegara bisa tetap berjalan. Hal ini sangat penting untuk memastikan ketersediaan barang-barang penting, seperti komoditas pangan, obat-obatan, serta peralatan medis.

“Kebijakan proteksionisme mengganggu kelancaran rantai pasok dan menghambat ketersediaan pasokan di pasar yang akan berujung pada kelangkaan,” kata Felippa Ann Amanta dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2020).

Salah satu yang bisa dilakukan untuk meninggalkan kebijakan proteksionisme dan memastikan perdagangan tetap berjalan menurutnya adalah dengan mengeliminasi hambatan perdagangan, baik hambatan tarif maupun nontarif.

“Tarif impor diberlakukan oleh banyak negara pada peralatan medis dan peralatan pelindung pribadi. Pengenaan tarif ini tentu akan berdampak pada harga dan ketersediaan. Pengenaan tarif sebaiknya dihapuskan secara permanen, terutama pada komoditas yang ketersediaannya dapat memengaruhi hidup orang banyak,” kata Felippa Ann Amanta.

Negara-negara menurutnya perlu melakukan beberapa hal, seperti menghapuskan tarif untuk peralatan medis dan obat-obatan, tidak memberlakukan larangan ekspor untuk peralatan medis dan obat-obatan, perlunya menyederhanakan birokrasi, transparansi data kesehatan, transparansi dalam pengumpulan dan berbagi data epidemiologis, meningkatkan kerja sama dengan negara lain terkait ketersediaan obat-obatan serta mendukung inovasi, termasuk hak kekayaan intelektual.

Selain itu, upaya-upaya untuk berinovasi menurutnya sangat penting untuk menemukan solusi jangka panjang untuk penyakit yang baru teridentifikasi seperti Covid-19, misalnya saja penemuan teknik perawatan baru dan vaksin. Tidak hanya sebatas menemukan, inovasi juga diharapkan bisa menemukan cara bagaimana teknik perawatan bisa diterapkan dan vaksin dapat diproduksi secara massal dan dapat diedarkan ke seluruh dunia.

“Krisis hanya akan diselesaikan dan ekonomi hanya akan pulih, jika negara diizinkan untuk berdagang dan berkolaborasi secara bebas satu sama lain. Perdagangan yang terintegrasi satu sama lain tentu akan membantu mempercepat pemulihan ekonomi,” ujarFelippa Ann Amanta.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Kemdes PDTT Ajak ITB Rumuskan Dana Desa yang Berkeadilan dan Tepat

Penggunaan dana desa harus lebih akomodatif dalam pembangunan perdesaan.

EKONOMI | 18 Mei 2020

Sektor Perbankan Masih Tertekan di 2020

Pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

EKONOMI | 18 Mei 2020

Proyek Terbaru Alam Sutera Bukukan Penjualan Rp 200 Miliar

EleVee Promenade merupakan kawasan bisnis yang terintegrasi dengan apartemen EleVee Penthouses & Residences.

EKONOMI | 18 Mei 2020

Kemkop dan UKM Lakukan Rapid Test Covid-19

Kemkop dan UKM lakukan rapid test.

EKONOMI | 18 Mei 2020

RUPS XL Axiata Setuju Bagi Dividen Rp 215 Miliar

RUPS PT XL Axiata menyetujui untuk membagi dividen Rp 215 miliar serta mengangkat Dian Siswarini sebagai presiden direktur.

EKONOMI | 18 Mei 2020

GrabFood Bantu Tenaga Medis Sekaligus Gerakkan Bisnis Kuliner Lokal

GrabFood telah mendistribusikan lebih 13.000 paket makanan pada tahap pertama.

EKONOMI | 18 Mei 2020

Pemerintah Alokasikan Dana Pemulihan Ekonomi Nasional Rp 641,17 Triliun

Nilai tersebut terbagi dari 11 instrumen kebijakan

EKONOMI | 18 Mei 2020

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 14.850

sentimen positif terlihat kembali masuk ke pasar keuangan

EKONOMI | 18 Mei 2020

Ekonom Senior Sebut Butuh Solidaritas Global Hadapi Covid-19

Tiap negara perlu menghimpun segala sumber daya dan berbagi data, temuan, pengalaman, dan vaksin

EKONOMI | 18 Mei 2020

IHSG Naik Tipis 0,08 Persen

Diiringi aksi jual saham oleh investor asing sebesar Rp 601 miliar.

EKONOMI | 18 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS