Orang Obesitas Lebih Berisiko Terkena Covid-19
INDEX

BISNIS-27 448.028 (-0.11)   |   COMPOSITE 5099.84 (-3.39)   |   DBX 964.111 (2.27)   |   I-GRADE 139.821 (-0.42)   |   IDX30 426.948 (0.39)   |   IDX80 113.317 (0.11)   |   IDXBUMN20 291.67 (1.28)   |   IDXG30 118.931 (0.18)   |   IDXHIDIV20 379.8 (-0.77)   |   IDXQ30 124.715 (-0.33)   |   IDXSMC-COM 219.701 (0.45)   |   IDXSMC-LIQ 255.871 (2.67)   |   IDXV30 106.644 (1.52)   |   INFOBANK15 836.821 (-6.19)   |   Investor33 373.706 (-0.97)   |   ISSI 150.561 (0.36)   |   JII 547.285 (1.18)   |   JII70 187.054 (0.33)   |   KOMPAS100 1020.57 (-1.1)   |   LQ45 786.439 (0.76)   |   MBX 1410.93 (-1.57)   |   MNC36 280.006 (-0.59)   |   PEFINDO25 280.13 (0.18)   |   SMInfra18 241.99 (-0.13)   |   SRI-KEHATI 316.197 (-0.37)   |  

Orang Obesitas Lebih Berisiko Terkena Covid-19

Selasa, 29 September 2020 | 23:19 WIB
Oleh : Dina Manafe / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Obesitas atau penumpukan lemak dalam tubuh secara berkaitan erat dengan sejumlah penyakit kronis yang berbahaya, seperti diabetes, jantung, hipertensi, dan belakangan dengan Covid-19. Penelitian Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Ristek/BRIN menunjukkan, orang dengan obesitas memiliki risiko 46 persen lebih tinggi terkena Covid-19.

Mereka yang obesitas dan menderita Covid-19 memiliki risiko 74 persen terjadinya komplikasi dan butuh perawatan intensif. Obesitas menjadi salah satu faktor risiko komplikasi akibat Covid-19.

Wakil Ketua Bidang Apoteker Advance dan Spesialis PP Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Prof Kerry Lestari Dandan, mengatakan, riset yang mengaitkan obesitas dengan Covid-19 tidak hanya dilakukan di Indonesia tetapi juga secara global. Hasilnya sama, bahwa obesitas memiliki risiko tinggi terkena Covid-19.

“Kemudian mereka yang sudah obesitas kalau terkena Covid-19 juga mempunyai risiko terjadinya komplikasi. Ini dikarenakan obesitas ini berkaitan erat dengan penyakit komorbid lain, seperti diabetes, hipertensi atau tekanan darah tinggi, dan lainnya,” kata Kerry pada dialog “Obesitas dan Risiko Covid-19” di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (29/9/2020).

Kerry menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. Menurutnya, metabolik sindrom (sekelompok gangguan kesehatan yang terjadi bersamaan) awalnya dikarenakan terjadinya obesitas. Ini menyebabkan resistensi insulin, dan akhirnya terjadilah yang disebut dengan gangguan toleransi glukosa, dan selanjutnya diabetes. Selain diabetes, obesitas juga memicu terjadinya hipertensi. Obesitas juga menyebabkan gangguan kemampuan tubuh untuk bertahan dari infeksi termasuk infeksi Covid-19.

Oleh karena itu disarankan untuk menjaga kesehatan jangan sampai obesitas. Karena obesitas ini memicu terjadinya ikutan dari sindrom metabolik yang terganggu, seperti diabates, hipertensi, dan lainnya.

Untuk menghindari obesitas, menurut Kerry, setiap asupan yang masuk ke tubuh harus ditakar. Cara menakarnya adalah dengan pola hidup sehat, sehingga semuanya seimbang. Pola hidup sehat itu terutama jangan sedentari. Meski sekarang diterapkan PSBB dan sebagian menjalani bekerja dari rumah atau work from home, bukan berarti harus makan, duduk dan tiduran saja. S

“Sedapat mungkin lakukan aktifitas fisik, seperti jalan kaki di halaman rumah, hirup udara segar, dan lain lain,” kata Kerry.

Dokter Spesialis Klinik dari Departemen Ilmu Kedokteran Dasar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Gaga Irawan Nugraha, mengatakan, pada awal terjadi kasus Covid-19 dan kasusnya meningkat bahkan angka kematiannya pun bertambah, tidak banyak yang mengetahui jika obesitas adalah salah satu faktor risikonya.

Saat kasus Covid-19 masuk di Amerika Serikat, di bulan April 2020 dilaporkan banyak kematian akibat Covid-19 terutama di Kota New York. Hal ini terjadi karena ternyata lebih dari 42 persen warga New York mengalami obesitas.

“Jadi sekarang ini, obesitas itu risiko kedua terkena Covid-19 setelah hipertensi. Dan mudah terjadi kondisi berat,” kata Gaga.

Menurut Gaga, pada orang obesitas memiliki lemak yang lebih besar permukaannya, sehingga reseptor untuk menempelnya virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19 itu menjadi lebih luas. Sehingga orang obesitas lebih mudah terkena dan mengalami perberatan setelah terkena Covid-19.

Orang obesitas memiliki lemak yang tersebar di mana-mana, termasuk sampai ke jantung. Ketika terinfeksi Covid-19 dia sulit bernapas. Kesulitan bernapas makin bertambah, dan restriksi paru makin mengecil. Termasuk jantung juga tertekan oleh lemak. Kemudian orang obesitas akan mengalami kelainan imunitas yang menyebabkan dia lebih mudah terkena Covid-19 dan mengalami perberatan.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Satgas Covid-19 Sebut Upaya 3T Ampuh Turunkan Kasus Aktif

Rendahnya persentase rata-rata kasus aktif Covid-19 di Indonesia dibandingkan dunia karena pemerintah Indonesia melakukan testing dan tracing.

KESEHATAN | 29 September 2020

Wiku: Upaya Tracing Membutuhkan Sinergisitas Masyarakat

Satgas Covid-19 mengimbau masyarakat tidak memberikan stigma negatif terhadap penderita positif Covid-19.

KESEHATAN | 29 September 2020

Satgas Sebut Angka Kesembuhan 99 Daerah Kurang dari 50 Persen

Sebanyak 399 dari 514 kabupaten/kota memiliki tingkat kesembuhan antara 50 persen hingga 100 persen.

KESEHATAN | 29 September 2020

Satgas Covid-19 : Rapid Test Antigen Bisa Digunakan di Indonesia

Rapid test antigen ini bisa mengeluarkan hasil tes Covid-19 dalam beberapa menit.

KESEHATAN | 29 September 2020

Satgas Susun Sasaran Prioritas Penerima Vaksin Covid-19

Satgas Covid-19 memastikan ketersediaan vaksin yang ada untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia.

KESEHATAN | 29 September 2020

Satgas Covid-19 Prihatin Masih Ada Masyarakat yang Merasa Kebal Covid-19

Wiku menekankan, tidak ada orang yang kebal terhadap serangan virus corona atau Covid-19. Sebab virus ini tidak mengenal tua atau muda, kaya atau miskin,

KESEHATAN | 29 September 2020

Lumpuhkan Virus dengan Cahaya UV-C

Dalam hitungan menit, lampu meja desinfeksi UV-C ini dapat melumpuhkan virus, bakteri, jamur, dan spora yang dapat menimbulkan bahaya tak terlihat di rumah.

KESEHATAN | 29 September 2020

Kematian Nakes Meningkat Pesat, IDI Minta Masyarakat Patuhi Protokol Kesehatan

Banyaknya dokter dan perawat meninggal dikarenakan sebagian besar masyarakat tidak memahami pelaksanaan aturan adaptasi kebiasaan baru.

KESEHATAN | 29 September 2020

Jumlah Sembuh Lebih Banyak Dibanding Kasus Baru Covid-19 di 12 Provinsi

Jumlah pasien sembuh lebih banyak dibanding kasus baru Covid-19 terjadi di 12 provinsi hari ini, Selasa (29/9/2020).

KESEHATAN | 29 September 2020

Ketua DPR Minta Pemerintah Turunkan Harga Swab Test

Estimasi harga untuk swab test yang kontraktual Rp 439.000 per spesimen, sedangkan yang mandiri Rp 797.000.

KESEHATAN | 29 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS