Tersangka Ujaran Rasialisme Diperiksa Polisi 12 Jam
INDEX

BISNIS-27 425.322 (6.09)   |   COMPOSITE 4870.04 (50.35)   |   DBX 940.805 (1.85)   |   I-GRADE 127.855 (2.37)   |   IDX30 401.317 (7.13)   |   IDX80 105.56 (1.63)   |   IDXBUMN20 265.398 (5.76)   |   IDXG30 112.997 (2.09)   |   IDXHIDIV20 357.483 (6.45)   |   IDXQ30 117.699 (2.14)   |   IDXSMC-COM 210.149 (1.23)   |   IDXSMC-LIQ 234.599 (2.4)   |   IDXV30 100.238 (0.78)   |   INFOBANK15 757.481 (11.98)   |   Investor33 352.266 (5.41)   |   ISSI 143.81 (1.55)   |   JII 518.901 (6.78)   |   JII70 176.231 (2.41)   |   KOMPAS100 949.983 (13.09)   |   LQ45 737.154 (12.43)   |   MBX 1342.99 (15.59)   |   MNC36 264.429 (3.76)   |   PEFINDO25 260.033 (1.5)   |   SMInfra18 229.972 (4.13)   |   SRI-KEHATI 296.897 (4.83)   |  

Tersangka Ujaran Rasialisme Diperiksa Polisi 12 Jam

Selasa, 3 September 2019 | 09:09 WIB
Oleh : JAS

Surabaya, Beritasatu.com - Tersangka dugaan kasus ujaran rasialisme kepada mahasiswa Papua di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) Jalan Kalasan, Surabaya, berinisial SA menjalani pemeriksaan selama lebih dari 12 jam di Mapolda Jawa Timur, Senin (2/9/2019).

Kuasa hukum SA, Ari Hans Simaela, saat ditemui di gedung Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim, Selasa (3/9/2019) dini hari, mengatakan kliennya datang memenuhi panggilan polisi pada pukul 12.00 WIB dan hingga pukul 00.15 WIB masih menjalani pemeriksaan.

"Ada 37 pertanyaan yang diajukan oleh penyidik. Yang pasti soal kejadian yang terjadi di Asrama Mahasiswa Papua saja tadi pertanyaannya," ujar Ari.

Ia mengatakan rencananya pemeriksaan terhadap kliennya dilanjutkan pihak kepolisian pada Selasa pagi.

SA, kata Ari, meminta maaf kepada masyarakat atas insiden yang terjadi di Jalan Kalasan, tetapi SA menegaskan dirinya tidak melakukan diskriminasi pada ras tertentu.

"Klien saya menitipkan pesan bahwa tidak ada maksud menghina atau mendiskriminasikan ras atau suku lain. Klien saya menyampaikan permintaan maaf kepada semua masyarakat," ucapnya.

Saat kejadian tersebut, Ari mengungkapkan jika kliennya tersebut datang ke Asrama Mahasiswa Papua untuk mengecek adanya informasi yang menyebut tiang bendera telah patah, bukan melakukan pengepungan.

"Jadi bukan mengkoordinasi massa, tetapi klien saya ini hanya memastikan benar tidaknya bendera itu patah. Sehingga bukan untuk melakukan tindakan-tindakan melanggar hukum," katanya.

Dalam pemeriksaan, Ari mengakui jika kliennya yang mengeluarkan kata-kata diskriminasi, namun SA berdalih kata-kata itu keluar secara spontanitas sebagai ungkapan kemarahan saja.

"Bahkan klien saya ini tidak ada maksud untuk mendiskreditkan ras atau suku manapun," katanya.

Mengenai status SA, Ari menyatakan jika kliennya tersebut merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ada di Pemkot Surabaya.

"Betul untuk statusnya di Pemkot Surabaya sebagai ASN silakan cek saja dulu," katanya.

Sementara itu, tersangka lain yakni Tri Susanti yang juga dipanggil penyidik memilih bungkam terkait pemeriksaan yang dijalaninya di Polda Jatim Senin (2/9) malam.

Tri Susanti dijerat Pasal 45A ayat 2 juncto Pasal 28 ayat 2 UU 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 4 UU 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Rasis dan Etnis dan/atau Pasal 160 KUHP dan/atau Pasal 14 ayat 1 dan/atau ayat 2 dan/atau Pasal 15 KUHP.



Sumber:ANTARA


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

PLN Rugi Rp 1,9 M Akibat Kerusuhan Jayapura

"Kerugian yang kita alami kurang lebih 1,9 miliar rupiah. Itu belum terhitung jumlah Kwh yang tidak tersalurkan karena padamnya listrik," ujar Septian.

NASIONAL | 3 September 2019

Dirjen Hubdar: Turunan dan Cekungan di KM 91 Sulitkan Pengendara

"Secara geometrik kondisi jalanan di Tol Cipularang KM 91 arah Jakarta ada turunan dan cekungan. Banyak pengendara yang sulit mengendalikan laju kendaraan."

NASIONAL | 3 September 2019

Eye Level Ajak Orang Tua Bisnis Pendidikan Nonformal

Bisnis waralaba pendidikan nonformal mulai dilirik para orang tua.

NASIONAL | 3 September 2019

TPDI: Mahasiswa Papua Harus Bebas dari Tahanan, Meski Tetap Diproses Secara Hukum

Petrus Selestinus meminta kepada Kapolri Tito Karnavian agar membebaskan para mahasiswa Papua yang ikut aksi dari tahanan.

NASIONAL | 2 September 2019

Yasonna: Pemilu Serentak Perkuat Sistem Presidensial

Dengan Pemilu serentak ini, Presiden lebih leluasa dalam menyusun kabinetnya ke depan.

NASIONAL | 2 September 2019

Perguruan Tinggi Telah Menyadari Ancaman Radikalisme

Sangat ironis bila perguruan tinggi justru menjadi tempat penyebaran radikalisme.

NASIONAL | 2 September 2019

Ketua KPK Yakin Jokowi Bakal Dengar Masukan Sebelum Serahkan 10 Capim KPK ke DPR

Presiden Joko Widodo (Jokowi) diyakini bakal mendengar masukan masyarakat sebelum menyerahkan 10 Capim KPK untuk mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di DPR.

NASIONAL | 2 September 2019

DPR: Semua Pelaku, Dalang, dan Aktor Intelektual Kerusuhan Papua Harus Diseret ke Pengadilan

Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari menegaskan, siapapun yang terlibat dalam kerusuhan di tanah Papua harus ditindak dan diproses secara hukum.

NASIONAL | 2 September 2019

Organisasi Pemuda: Tindak Tegas Dalang Diskriminasi Rasial dan Kerusuhan di Tanah Papua

Empat organisasi kepemudaan meminta pemerintah dan aparat untuk menindak tegas pelaku dan aktor intelektual diskriminasi rasial terhadap mahasiswa Papua

NASIONAL | 2 September 2019

Ini Motif Pelaku Membunuh dan Membakar Jasad Suami

Aulia Kesuma membutuhkan uang guna melunasi utang sebesar Rp 10 miliar dengan menjual rumah milik suaminya.

NASIONAL | 2 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS