Potensi Tsunami Megathrust, Kelola dan Perkuat Mitigasi Serta Tata Ruang
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Potensi Tsunami Megathrust, Kelola dan Perkuat Mitigasi Serta Tata Ruang

Senin, 28 September 2020 | 20:36 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat kembali panik dan heboh dengan pemberitaan adanya kajian potensi gempa dan tsunami di zona megathurst Selatan Jawa setinggi 20 meter. Kajian para ahli ini bukan kali pertama dipublikasikan. Sayangnya literasi yang minim, komunikasi sains yang buntu membuat potensi tsunami itu menjadi ketakutan bukan kesadaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan diri serta memperkuat mitigasi bencana.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, hasil kajian para ahli kebumian ITB yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature baru-baru ini, diharapkan dapat mendorong semua elemen untuk lebih memperhatikan upaya mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami.

"Informasi potensi gempa kuat selatan Jawa saat ini bergulir cepat menjadi berita yang sangat menarik. Masyarakat awam pun menduga seolah dalam waktu dekat di selatan Pulau Jawa akan terjadi gempa dahsyat, padahal tidak demikian," katanya di Jakarta, Senin (28/9/2020).

Daryono menyebut, perlu ada upaya serius dari berbagai pihak untuk mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun infrastruktur. Masyarakat juga diharapkan terus meningkatkan kemampuannya dalam memahami cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami.

"Penelitian ITB itu sangat komprehensif karena melibatkan berbagai disiplin ilmu. Hal itu dijadikan skenario terburuk dan dijadikan rujukan mitigasi," ucapnya.

Informasi potensi gempa kuat di zona megathrust memang rentan memicu keresahan akibat salah pengertian (misleading). Masyarakat, lanjutnya, lebih tertarik membahas kemungkinan dampak buruknya daripada pesan mitigasi yang mestinya harus dilakukan.

Meskipun kajian ilmiah mampu menentukan potensi magnitudo maksimum gempa megathrust dan skenario terburuk, akan tetapi hingga saat ini teknologi belum mampu memprediksi dengan tepat dan akurat kapan dan di mana gempa akan terjadi.

"Maka dalam ketidakpastian kapan terjadinya, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi dengan menyiapkan langkah-langkah konkret untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa," ungkapnya.

Potensi gempa besar berkekuatan magnitudo 8,7 bahkan lebih itu tambahnya, adalah potensi yang ada. Beberapa kali kejadian tsunami lampau (paleotsunami) dan temuan fosil tsunami hingga mitos Nyi Roro Kidul adalah bukti nyata tsunami pernah terjadi di selatan Jawa.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa zona megathrust selatan Jawa memang sangat aktif yang tampak dalam peta aktivitas kegempaannya (seismisitas).

Dalam catatan sejarah, sejak tahun 1700 zona megathrust selatan Jawa sudah beberapa kali terjadi aktivitas gempa besar (major earthquake) dan gempa dahsyat (great earthquake).

Gempa besar dengan magnitudo (M) antara 7,0 dan 7,9 yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi delapan kali, yaitu tahun 1903 (M7,9), 1921 (M7,5), 1937 (M7,2), 1981 (M7,0), 1994 (M7,6), 2006 (M7,8) dan 2009 (M7,3)

Sementara itu, gempa dahsyat dengan magnitudo 8,0 atau lebih besar yang bersumber di zona megathrust selatan Jawa sudah terjadi 3 kali, yaitu tahun 1780 (M8,5), 1859 (M8,5), dan 1943 (M8,1). Sedangkan untuk gempa dengan kekuatan 9,0 atau lebih besar di selatan Jawa belum tercatat dalam katalog sejarah gempa.

Pantai di wilayah Selatan Jawa harus dilihat berbeda karena rawan gempa dan tsunami. Masyarakat perlu meningkatkan literasi, pemerintah juga harus berkelanjutan memberi edukasi dan memperkuat mitigasi.

"Sosialisasi mitigasi memberi persepsi tentang kerawanan harus dilakukan. Untuk selatan Jawa edukasi evakuasi mandiri harus kuat. Jika ada gempa kuat dirasakan, harus dijadikan peringatan dini tsunami," paparnya.

Jarak permukiman masyarakat juga harus menjauhi pantai. Minimal 200 meter hingga 1 kilometer dari bibir pantai. Begitu pula tempat usaha atau hiburan. Kalau pun ingin membangun dekat pantai harus memenuhi syarat building code bangunan tahan gempa kuat dan tsunami.

Saat ini BMKG lanjutnya sudah memasang 150 alat penerima informasi gempa dan peringatan dini tsunami di Jawa dan 13 sirene di sepanjang pantai Anyer hingga Banyuwangi.

Kelola Tata Ruang

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto menyebut, potensi itu sudah pernah dikemukakan. Baginya, berbicara potensi atau ancaman bencana tsunami maka aspek penting pertama yang harus dikelola adalah tata ruang wilayah pantai.

"Kita mestinya bisa belajar dari kasus tsunami Selat Sunda dan Palu tahun 2018. Kedua tsunami ini terhitung tsunami kecil yang gelombangnya hanya mencapai sekitar 200 meter dari garis pantai," kata Eko.

Ia menegaskan, jika aturan sempadan pantai dipatuhi, maka seharusnya tidak perlu jatuh korban jiwa atau setidaknya korban jiwa dan kerugiannya akan bisa diminimalkan. Oleh karena itu, melakukan analisis risiko tsunami secara mendetail menjadi salah satu kunci yang perlu dilakukan untuk digunakan sebagai dasar dalam manajemen tata ruang wilayah pantai.

Meskipun seringkali diklaim bahwa peta risiko tsunami itu sudah ada tapi baik kualitas data maupun skala petanya sangat tidak memadai untuk digunakan sebagai basis bagi mitigasi risiko tsunami secara umum maupun basis tata ruang secara khusus.

Dalam hal tata ruang wilayah pantai ini, bisa belajar dari yang dilakukan oleh pemerintah-pemerintah daerah di Jepang yang terlanda tsunami tahun 2011. Setelah tahun 2011, wilayah-wilayah yang terlanda tsunami tidak boleh dihuni lagi atau boleh dihuni dengan persyaratan sangat ketat.

"Strategi ini akan sangat baik jika kita adopsi tentunya setelah mempertimbangkan faktor lokal. Mengingat golden time yaitu selisih waktu antara gempa hingga tsunami mencapai daratan di wilayah Indonesia relatif pendek, banyak yang kurang dari 10 menit," ungkapnya.

Sementara tsunami bisa terjadi dalam kondisi terburuk misalnya malam hari, hujan dalam kepadatan lalu lintas orang yang mengevakuasi diri. Maka menyediakan selter atau tempat evakuasi sementara tsunami menjadi penting. Karena keterbatasan anggaran pemerintah, selter ini tidak harus dibangun secara khusus namun bisa dengan memfungsigandakan bangunan-bangunan yang sudah ada jika kondisi darurat terjadi.

"Tentunya bangunan-bangunan yang ditetapkan sebagai selter pada saat kondisi darurat juga sudah diuji kelayakan dan kekuatan bangunannya," ucapnya.

Masyarakat juga harus ditanamkan kesadaran dan pengetahuan pentingnya evakuasi mandiri yang menjadikan guncangan gempa, khususnya gempa yang kuat guncangannya dan atau gempa yang lama guncangannya sebagai peringatan dini dan tanpa harus bergantung pada sistem peringatan dini tsunami (InaTEWS).

Eko menekankan, bencana sangat erat kaitannya dengan perilaku manusia. Teknologi atau sistem peringatan dini hanyalah alat bantu yang tidak terlalu membantu jika perilaku manusianya tidak bisa tertib dan semaunya sendiri.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

1 Tahanan KPK Positif Covid-19

Tahanan yang terpapar Covid-19 tersebut sebelumnya ditahan di Rutan Pomdam Jaya Guntur.

NASIONAL | 28 September 2020

BIN Miliki Kewenangan Atasi Covid-19

Dalam Pasal 30 huruf D UU 17/2011 tentang Intelijen Negara menyebutkan BIN bisa membentuk Satuan Tugas (Satgas) dalam pelaksanaan aktivitas intelijen.

NASIONAL | 28 September 2020

Kasus Jiwasraya, Kejagung Periksa Lima Saksi dan Satu Tersangka

Kejaksaan Agung kembali melakukan pemeriksaan lima orang saksi dan satu tersangka Korporasi yang terkait dengan kasus Asuransi Jiwasraya.

NASIONAL | 28 September 2020

Berkas Perkara Surat Perjalanan Palsu Brigjen Prasetijo Diserahkan ke Kejari Jakarta Timur

Penyerahan para tersangka tersebut dilakukan setelah Kejaksaan Agung menyatakan perkara tersebut lengkap

NASIONAL | 28 September 2020

Penggunaan Ruang Isolasi di Jabar Dekati Ambang Batas

WHO mensyaratkan, keterisian ruang isolasi di rumah sakit harus di bawah 60% untuk menyatakan pengendalian penyebaran Covid-19 terkendali.

NASIONAL | 28 September 2020

Panglima Perintahkan TNI Bangun Koordinasi dengan Polri di Pilkada Serentak

Dalam rapat tersebut Hadi Tjahjanto memerintahkan anggota TNI membangun koordinasi yang baik dengan Polri, pemda, dan instansi terkait dalam Pilkada.

NASIONAL | 28 September 2020

Komjak Nilai Revisi UU Kejaksaan Penting dan Mendesak

UU Kejaksaan sudah berumur 14 tahun dan sudah selayaknya direvisi.

NASIONAL | 28 September 2020

Wapres Ajak Parmusi Cegah Penularan Covid-19

Perkembangan pandemi Covid-19 di seluruh dunia termasuk di Indonesia masih belum menunjukkan hasil yang menggembirakan.

NASIONAL | 28 September 2020

Relawan Jokowi Dukung Erick Tohir Perbaiki Kementerian BUMN

"DPP RIK berharap Erick dipertahankan Presiden Jokowi di Kementerian BUMN," kata Victor.

NASIONAL | 28 September 2020

Satgas Covid-19: Pasien dengan Gejala Berat Bisa Sembuh

Pasien Covid-19 dengan gejala berat dipastikan bisa sembuh dengan cara penanganan yang tepat.

NASIONAL | 28 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS