Amendemen Demi Perpanjang Kekuasaan Presiden Bentuk Kemunduran Demokrasi
INDEX

BISNIS-27 447.461 (-6.35)   |   COMPOSITE 5059.22 (-59.86)   |   DBX 933.73 (-7.01)   |   I-GRADE 135.366 (-2.1)   |   IDX30 427.201 (-7.13)   |   IDX80 111.513 (-1.85)   |   IDXBUMN20 284.629 (-6.37)   |   IDXG30 118.405 (-1.6)   |   IDXHIDIV20 382.903 (-6.43)   |   IDXQ30 125.347 (-2.16)   |   IDXSMC-COM 215.54 (-2.56)   |   IDXSMC-LIQ 243.745 (-4.83)   |   IDXV30 105.043 (-1.69)   |   INFOBANK15 803.622 (-8.33)   |   Investor33 371.182 (-4.92)   |   ISSI 148.056 (-1.95)   |   JII 539.107 (-10.07)   |   JII70 182.679 (-3.16)   |   KOMPAS100 996.599 (-14.96)   |   LQ45 780.316 (-12.34)   |   MBX 1404.61 (-17.5)   |   MNC36 278.843 (-3.77)   |   PEFINDO25 265.576 (-5.11)   |   SMInfra18 242.356 (-5.25)   |   SRI-KEHATI 313.434 (-3.93)   |  

Amendemen Demi Perpanjang Kekuasaan Presiden Bentuk Kemunduran Demokrasi

Sabtu, 30 November 2019 | 04:42 WIB
Oleh : Yustinus Paat / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Juru Bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Fathul Bari menyebut wacana perpanjangan periode masa jabatan presiden dan wakil presiden RI lewat amendemen UUD Negara Republik Indonesia 1945 sebagai kemunduran demokrasi.

"PKS sebagai partai yang lahir dari rahim reformasi tentu kita sangat menolak hal itu dimasukkan kedalam konstitusi dan menjadi perubahan dalam amendemen. Jika itu terjadi, kita malah menjadi setback ke masa sebelum reformasi, ada kemunduran demokrasi," ujar Bari dalam PKSMuda Talks di Kantor DPP PKS, kawasan Jakarta Selatan, Jum'at (29/11/2019).

Menurut Fathul Bari, penolakan PKS terhadap periodisasi masa jabatan presiden dan wakil seiring dengan sikap penolakan PKS terhadap wacana amendemen konstitusi.

"Sesuai dengan yang disampaikan oleh Presiden PKS kemarin dalam konpers, bahwa kami tegas untuk saat ini menolak amendemen konstitusi walaupun wacana ini digulirkan harus berdasarkan kehendak rakyat. Menurut saya, saat ini belum ada hal-hal yang sangat mendesak sehingga harus dilakukan amendemen. Apalagi isu yang membuka tentang amendemen itu tentang GBHN padahal itu sudah terakomodasi dalam RPJP," ungkap Bari.

Senada dengan Fathul Bari, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Lola Ester penolakan perpanjangan masa jabatan presiden bisa menyelamatkan demokrasi Indonesia dari ancaman otoriterisme.

"Amendemen konstitusi yang sekarang bisa memuluskan lahirnya negara yang otoriter pascaorde baru, dalam arti ketika kepala negara bisa diperpanjang lebih dari dua kali. Itu memastikan bahwa peluang otoriter akan terulang lagi. Itulah kenapa jadi penting suara oposisi agar wacana ini tidak dilanjutkan," tegas Lola.

Lola melanjutkan, wacana tersebut selain memacu lahirnya rezim otoriter juga sangat kontraproduktif dengan amanat demokrasi Indonesia, "Jelas ini sangat kontraprapduktif dengan agenda demokrasi yang selama ini sudah kita mulai dan dapat disalahgunakan," pungkas dia.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Area Aspirasi DPR Harus Menjadi Tempat Dialog Rakyat dan Wakilnya

Tempat penyampaian pendapat hanya fasilitas pendukung, tetapi yang utama adalah komunikasi politik yang lebih baik dan cair.

POLITIK | 29 November 2019

Mantan Napi Bisa Jadi Calon Ketum Golkar

Untuk mantan narapidana, panitia Munas Golkar tidak mempersoalkan mereka mendaftar. Yang penting sudah selesai menjalani menjalani masa hukuman.

POLITIK | 29 November 2019

Biaya Pemilu Murah, KPU Sebut Kembali ke Sistem Kerajaan

Dalam sistem kerajaan tidak terdapat pemilihan, tetapi pemimpin yang dipilih berdasarkan keturunan.

POLITIK | 29 November 2019

Golkar Jabar Solid Dukung Airlangga di Munas

Selain menyuarakan dukungannya, dalam Munas nanti, Dedi bakal mendorong Golkar mempelopori sebagai partai yang merespon cepat perubahan politik di Indonesia.

POLITIK | 29 November 2019

KPU Sebut Hasil Pemilu Langsung Justru Progresif dan Positif

KPU memandang bahwa pemilu langsung selama ini sudah berhasil dengan memberikan hasil positif serta progresif.

POLITIK | 29 November 2019

Presiden Jokowi Akan Buka Munas Golkar

Pembukaan Musyawarah Nasional Golkar 2019, tanggal 3 Desember 2019, akan dilakukan oleh Presiden RI Joko Widodo.

POLITIK | 29 November 2019

Pengamat Nilai MPR Harus Belajar dari Tragedi Hong Kong

"Demokrasi itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kalau rakyat menghendaki tapi MPR menghambat, justru tidak demokratis," tukasnya.

POLITIK | 29 November 2019

Presiden Jokowi Sidak Pelayanan BPJS di Subang

Presiden Jokowi tiba-tiba Sidak dalam kunjungannya ke Subang, Jawa Barat, Jumat (29/11/2019). Ia ingin melihat pelayanan BPJS di daerah tersebut.

POLITIK | 29 November 2019

Masa Jabatan Presiden 2 Periode Sudah Sangat Ideal

Pengamat politik Ujang Komarudin mengingatkan bahaya jika masa jabatan presiden ditambah. Penambahan menjadi 3 periode bisa membuat pemerintah jadi otoriter.

POLITIK | 29 November 2019

Airlangga: Harus Ada Bukti Fisik Dukungan 30 Persen

Lodewijk Freidrich Paulus mengatakan, tata cara Munas sudah tertuang dalam AD/ART. Hanya, masih ada kader yang tidak paham dengan aturan tersebut.

POLITIK | 29 November 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS