Lebaran Berselimut Wabah Covid-19

Lebaran Berselimut Wabah Covid-19
Harianto Oghie. (Foto: Istimewa)
/ AB Kamis, 28 Mei 2020 | 06:20 WIB

Oleh: Harianto Oghie*

Perayaan Idulfitri 1441 hijriah jatuh pada Minggu, 24 Mei 2020. Alhamdulillah Allah Swt masih memberi kita kesehatan dan keberkahan di tengah selimut merebaknya pandemi virus corona atau Covid-19. Bahkan, pemerintah menegaskan tidak ada yang boleh mudik dan memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Semoga saja, kita meraih label mutakin setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa serta ibadah sunah lainnya. Amin.

Pandemi corona menyelimuti bulan suci Ramadan dan hari raya Idulfitri menjadi renungan serta momen instropeksi diri. Pendemi ini menguatkan nilai kesalehan individu dan kesalehan sosial selama Ramadan dengan menambah kepekaan sosial, tabah dan sabar menghadapi ujian, serta selalu berdoa dan optimistis melawan wabah corona.

Di sisi lain, momen Idulfitri tahun 2020 telah mendidik dan menempa keimanan untuk mengantarkan jiwa-jiwa tersucikan kembali. Nilai-nilai fitri, suci bersih dari noda dan saling memaafkan, rajut persaudaraan, membangun kebersamaan penuh berkah, karena puasa Ramadan dilakoni sebagai hidangan rohani dan nutrisi rohani yang dibutuhkan oleh jiwa untuk menpertajam keimanan dan ketakwaan. Puasa menjadi perisai dan medium untuk menggapai status mutakin.

Berpuasa adalah proses penyamaan frekuensi hati dengan sinyal-sinyal ilahi yang maha pengasih dan penyayang. Rangkaian amaliah Ramadan, tadarus Al-Qur'an, berzikir, berdoa, qiyamul lail, tahajud, bertafakur, dan iktikaf, adalah fitur fitur yang dapat mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah SWT. Kualitas amaliah ini menentukan jarak menuju lailatulqadar sebagai buah dari amaliah Ramadan yang hanya bisa ditemukan oleh jiwa jiwa suci dan memiliki kualitas keimanan paripurna.

Bahkan, pada malam hari raya Idulfitri dilakukan takbir yang sudah menjadi budaya. Hal ini menyegarkan potensi kemanusiaan kita, karena telah berhasil mengopname jiwa yang telah terinveksi virus kehidupan hedonistik, menstabilkan struktur kelola organ tubuh dan organ spiritual, serta memecah gumpalan hawa nafsu yang telah mengkristal. Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Sebagaimana firman Allah Swt yang artinya,“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." Dan Rasulullah SAW bersabda yang artinya,“Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih kita tujukan untuk menyucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya. Tidak lupa kalimat tahmid sebagai puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia-lah Dzat yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

Makna Idulfitri
Idul Fitri adalah merupakan puncak dari ibadah puasa, memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai sebagai manusia yang bertakwa. Puasa adalah rahasia Tuhan dengan hambanya. Puasa yang berkualitas akan mentransformasi spiritualitas yang dampaknya akan mewujud dalam dimensi spiritual transendental dan dimensi sosial sekaligus yang akan selalu merasakan kebersamaan dan kehadiran Tuhan (yang maha hadir) di setiap langkah dan tarikan napasnya (QS, al Baqarah 186).

Kesadaran seperti ini akan terproteksi secara alamiah dari perilaku-prilaku buruk. Refleksi perilaku memantulkan nilai-nilai yang terilhami secara ilahi. Perilaku terefleksi kebeningan dan kesucian jiwa yang di-set up oleh puasa Ramadan. Selain itu, ada kepekaan sosial, telinga dan mata batin selalu mendengar suara hati orang lemah dan melihat orang miskin lemah sebagai kekasih Tuhan, serta hati bersih yang menuntun untuk mengulurkan tangan dan membantu setulus-tulusnya.

Dengan demikian, makna Idulfitri 1 syawal yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang artinya,“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq ‘alayh)

Salat malam di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘alayh) 

Hal ini menyimpulkan bahwa Idulfitri berarti kembalinya kita kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kefitrahan.

Hikmah Idulfitri
Pemaknaan Idulfitri bersifat positif, seperti menjalin silaturahmi sebagai sarana membebaskan diri dari khilaf dan dosa yang bertautan antara sesama manusia. Idulfitri menjadikan silaturahmi tidak hanya berbentuk pertemuan formal, seperti halalbihalal, atau mengunjungi dari rumah ke rumah dan saling duduk bercengkerama. Senyatanya, permohonan maaf dan silaturahmi sudah tidak mengenal batas ruang dan waktu, sebab penggunaan jejaring media sosial telah mewabah. 

Pentingnya silaturahmi sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya,“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan melainkan keduanya akan diampuni (dosanya) sebelum mereka berpisah. (HR Daud,Tirmidzi&Ibnu Majah)

Maka, silaturahmi berlangsung dengan penuh rasa sukacita menyambut hari kemenangan yang penuh berkah, magfirah, dan rahmat Allah Swt. Pelajaran dan hikmah, faedah, dan fadilat, yang didapatkan pada bulan Ramadah tidak boleh ditinggalkan dan harus tetap menjadi spirit dan akhlak, karena ibadah ritual serta kesalehan sosial, harus selalu mewarnai dalam perjalanan hidup manusia.

Mudah-mudahan berkat ibadah selama bulan Ramadhan yang dilengkapi dengan menunaikan zakat fitrah yang mengembalikan kepada kefitrahan yang bermakna menyucikan jiwa dan badan. Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saatnya kita menyadari kesalahan dan berusaha kembali ke fitrah dengan cara memperbaiki hubungan sesama (human relations) secara baik. Totalitas untuk meraih ketakwaan hari raya Idulfitri merupakan momentum untuk menyempurnakan hubungan vertikal dengan Allah (hablun minallah) dan secara horizontal membangun hubungan sosial yang baik (hablun minnannas).

Semoga Lebaran 1 syawal 1441 H di tengah selimut wabah pandemi Covid-19, Allah Swt selalu memberikan pertolongannya dan perlindungan kepada kita semua, sekaligus sebagai wahana penguatan solidaritas dan kesetiakawanan dalam membangun kesalehan sosial, serta penuh dengan rasa kasih sayang dan persaudaraan serta hati terbuka, wajah berseri-seri mengulurkan tangan saling memaafkan, seraya mengucapkan selamat hari raya Idulfitri 1441 H, Idul Mubarak Taqqobbalallahu minna wa minkum Minal Aaidin Wal Faizin (mohon maaf lahir dan batin).

* Sekretaris LP Ma’arif NU PBNU